Senin, 08 Juni 2009

Jalur Pendakian Gunung Gede - Pangrango

Sabar ya, Posting lengkapnya lagi saya bikin. di usahaan selengkap - lengkapnya deh. Informasi tarif kendaraan, Tarif masuk, tarif Guide dan porter, info registrasinya, DLL.
untuk sementara, silahkan baca artikel yang ini dulu. Artikel ini saya kutip di situs WIKIMU.com, Edisi Jum'at, 24 - 10 - 2008 oleh: mbak Ritapunto.
numpang kutip ya mbak, Tenkyu...

Gunung Gede (2958 mdpl) dan gunung Pangrango (3019 mdpl) terletak pada posisi 106' - 107' BT dan 64' -65' LS, secara administratif berada di kabupaten Cianjur, Sukabumi dan Bogor. Gn. Gede merupakan Gn. api Strato yang usianya lebih muda dibanding kembarannya Gn. Pangrango yang pasif. Kedua gunung yang sangat terkenal di Jawa Barat ini merupakan obyek favorit para peneliti dan ahli konservasi tumbuhan melakukan penelitian sejak beberapa abad yang lampau, ditandai dengan adanya pembukaan jalur tenggara oleh Sir Thomas Raffles (1811) selanjut oleh C.G.C Reinwardt (1819) dan eksplorasi penting lainnya yang dilakukan oleh saintis dalam dan luar negeri.

Curah hujan tejadi pada bulan Oktober - Mei (kalo belum berubah akibat global warming), karenanya sangat baik mendaki pada bulan Juni - September, situasi crowd dan merupakan bulan puncak pendakian terjadi setiap bulan Agustus, tepatnya setiap tanggal 17 Agustus karena ada upacara bendera di alun - alun Surya kencana Gn. Gede.

Akses Pendakian

1. Jalur Cibodas Cipanas, adalah jalur yang resmi yang paling sering dilalui pendaki dan paling aman.
2. Jalur Gunung Putri Sukabumi, jalur singkat menuju Gn. Gede (2958 mdpl), sebelum mencapai puncak bisa istirahat dulu di alun-alun Surya Kencana
3. Jalur Selabintana Sukabumi, jalur liar yang tidak disarankan bagi pendaki pemula dan sangat terjal serta sering muncul kabut yang menghalangi pandangan.
4. Jalur Situgunung Sukabumi, masuk dari taman rekreasi Situgunung, jalur yang dangerous untuk didaki tanpa persiapan matang, ada air terjun Sawer di ketinggian 1200 mdpl dengan sungai yang cukup lebar.

Jalur Pendakian: Cibodas - Cipanas

* Dari Bandung via Cianjur atau dari Jakarta via puncak turun di pertigaan Cibodas, dilanjutkan ke arah kebun raya
* Dari Kebun raya Cibodas menuju mencapai puncak Pangrango kira-kira 12 km. Sebelum mendaki wajib lapor ke posko pendakian.
* 2 kilometer selepas Cibodas, jalan landai dan nyaman memotong Ciwulan, di sini bisa rehat sejenak di Telaga Biru sungguh menyenangkan.
* Telaga Biru ada di ketinggian 1575mdpl, daerah vegetasi submontana bisa ditemukan Owa Jawa dan pohon Rasamala raksasa, setelah melintasi Panyancangan Kuda teruslah mendaki menuju ketinggian 1625mdpl menuju pertigaanCibeurem dan mampirlah di air terjun Cibeureum yang indah. Ada beberapa air terjun yang bisa dinikmati seperti air terjun Ciwalen, Cikundul dimana airnya berasal dari sungai yang sama. Akan terlihat anggrek Lumut Merah (sphagnum gedeanum) sebagai nuftah endemik yang tumbuh di tebing-tebing dilalui oleh kelelawar yang keluar masuk dari Goa Lalay
* Kira-kira sejam perjalanan ketemu sungai air panas diatas ketinggian 2150 mdpl, suhunya air panasnya berkisar 75' c tetapi bisa berubah menjadi sangat dingin saat hujan turun, pemandangan sangat beraura mistis karena banyaknya kepulan dari uap air dari batuan lava, teruslah mendaki sampai tiba di Lebak Saat atau lembah tanpa air. Bisa dijumpai aliran air yang bening, biasanya tempat ini dijadikan kamp untuk bermalam sebelum melanjutkan ke Kandang Batu.
* Dari Kandang Batu lintasan mulai menanjak dan terjal, banyak material batu akibat letusan Gn. Gede, terus mendaki menuju Kandang Badak yang bisa diempuh sekitar sejam.
* Dinamakan Kandang Badak karena pos ini kadang becek jika hujan turun, pos yang berada di ketinggian 2395 mdpl akan menemukan persimpangan. Yang ke kiri menuju puncak Gede, dan yang ke kanan menuju puncak Pangrango.
* Sebelum mendaki puncak, siapkan bekal air yang cukup karena perjalanan menuju puncak bisa ditempuh sekitar 3-4 jam melewati vegetasi Sub Alpin yang rimbun dan lebat. Puncak Pangrango jarang didaki karena datarannya sangat rimbun dan sepi, dari sini terlihat alun-alun Mandalawangi. Jika malam hari berada dipuncak ini dan cuaca cerah bisa melihat kota Jakarta seperti kumpulan kunang-kunang
* Jika ingin ke puncak Gede dari Kandang Badak belok ke kiri menuju puncak Gede ditempuh dalam waktu 2 jam melewati Tanjakan Setan, selepas tanjakan akan ditemukan kawah Ratu dan Kawah Wadon, kawah Baru,kawah Lanang serta kawah Sela dan terakhir kawah gunung Gede di ketinggian 2958 mdpl dengan uap belerang yang menyengat.

READ MORE ...

Jalur Pendakian Gunung Ciremai

Ini adalah Posting sementara, Saat ini saya sedang mempersiapkan iformasi - informasi tentang segala hal yang berhubungan dengan jalur pendakian gunung ciremai. Artikel ini saya dapat di situs beritacirebon.com edisi 6 juni 2009.

Mengenal Jalur Pendakian Gunung Ciremai

Bagi anda khususnya yang akan melakukan pendakian ke Gunung Ciremai, tentunya harus memperhatikan rambu-rambu dan jalur pendakian yang resmi. Jika tidak, bisa jadi akan tersesat.

Ada tiga pilihan jalur pendakian Gunung Ciremai, yakni melalui jalur Linggarjati Desa Linggajati Kecamatan Cilimus, jalur Palutungan Desa Cisantana Kecamatan Cigugur dan jalur pendakian Apuy Kabupaten Majalengka.

Jika ingin lebih mudah, jalur Palutungan Desa Cisantana Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, bisa menjadi pilihan. Pasalnya, jalur ini dikenal merupakan jalur pendakian track paling mudah, dengan jarak tempuh kurang lebih 10 kilometer untuk sampai ke puncak Gunung tertinggi di Jawa Barat itu.

Di sepanjang jalur terdapat sembilan pos istirahat antara lain Pos Palutungan, Cigowong, Kuta, Pangguyangan Badak, Arban, Tanjakan Asoy, Pasanggrahan, Guha Walet yang selanjutnya sampai puncak Gunung Ciremai.

Tapi jika ingin lebih menantang memang jalur pendakian Linggarjati cocok bagi anda pendaki handal. Memang jalur yang satu ini paling menantang dibandingkan jalur-jalur pendakian dua jalur pendakian lainnya, dan banyak diminati para pendaki karena merupakan track tersulit diantara jalur lainnya..


Jalur ini kurang lebih sepanjang 8,6 kilometer untuk sampai ke puncak dan terdapat sembilan pos pendakian dengan suguhan pemandangan hutan hujan yang alami. Untuk menuju jalur ini pendaki dapat melalui pintu masuk Linggarjati dan hanya jarak kurang lebih satu kilometer dari Gedung Naskah Perundingan Linggarjati.

Berbeda dengan jalur pendakian Apuy, yang dapat ditempuh dengan menggunakan dua alternatif jalan lainnya yaitu 12,5 kilometer dari Desa Babakan Kaler dan 15 kilometer dari Desa Cibuluh Kabupaten Majalengka.

Jalur pendakian ini dengan jarak kurang lebih delapan kilometer menuju puncak Gunung Ciremai, dan ada .lima pos istirahat dan dikenal track pendakian termudah sama halnya dengan jalur Palutungan. (BC-99)

Mohon maaf atas ketidaknyamanan sobat - sobat pendaki. info lebih lengkap seputar pendakian gunung ciremai akan saya posting secepatnya. terimakasih..
Blackmamba

READ MORE ...

Jumat, 05 Juni 2009

Jalur Pendakian Gunung Guntur

Gunung guntur memiliki ketinggian 2.249 Mdpl. Merupakan salah satu gunung api aktif yang berada di kabupaten Garut. Gunung ini pertama didaki oleh pendaki berkebangsaan prusia – Jerman, Frans Junghun pada tahun 1837. Pada saat itu Junghun memasukkan gunung ini pada golongan gunung – gunung api paling aktif di Jawa. Gunung ini memiliki dua sumber mata air, yaitu sumber air panas yang mengalir ke Cipanas yang kemudian dimanfaatkan sebagai wisata pemandian Cipanas, dan yang satu lagi sumber air dingin yang mengalir ke aliran curug citiis.

Gunung guntur tidak seperti gunung –gunung di daerah tropis lainnya. Gunung ini justru terlihat tandus dan gersang. Jalurnya pun di dominasi oleh savanna dan batuan kerikil kecil sisa letusan.jarang kita menjumpai pohon besar sepanjang lintasan pendakian yang bisa kita gunakan untuk berteduh. Terutama pada lintasan sesudah melewati curug citiis. Medan yang tandus dan gersang membuat gunung guntur lebih dikenal karena cuacanya yang liar. Tekanan angin dan suhu udara yang panas, bahkan bisa di bilang ganas. Saya sendiri mendaki gunung ini pada bulan Juni 2008.

Untuk mendaki gunung guntur, kita bisa melalui jalur curug citiis, yang berada di kampung citiis, kecamatan Tarogong kaler, Kabupaten Garut. Jalur pendakian ini merupakan jalur terpendek dan termudah yang ditemukan oleh Frans Junghun. Jalur ini selain melewati air terjun atau curug citiis, anda juga akan melalui lokasi penambangan pasir citiis yang beroperasi sejak tahun 1960 an.

Untuk menuju kampung citiis, anda yang dari Jakarta bisa menumpang bus jurusan garut. Ada dua alternatif disini, anda bisa menumpang bus Jakarta – garut yang melewati tol cipularang, turun di terminal garut, lalu naik angkot jurusan cipanas, turun di gerbang kampung citiis, dengan waktu tempuh yang lebih singkat. Atau bisa juga naik bus jurusan garut via puncak, dan langsung turun di gerbang desa citiis. Tapi dengan waktu tempuh yang lumayan lebih panjang. Saya sendiri dengan tidak sengaja menumpang bus yang melewati daerah puncak, karena tadinya saya pikir bus itu akan melewati tol cipularang. Tapi ada untungnya juga, karena saya tidak usah lagi oper angkot, dan bisa langsung turun di citiis. Ongkosnya saat itu 35rb rupiah. Tapi mungkin jika anda mendaki beramai-ramai, soal ongkos mungkin masih bisa di negosiasi lagi dengan kenek bus. Saya sendiri karena saat itu melakukan pendakian seorang diri, jadi gak ada pilihan lain, selain menerima tarif yang di ajukan si kenek.

Dari gerbang desa citiis, anda bisa melanjutkan perjalanan menuju kampung citiis dengan menumpang ojek, atau bisa juga dengan berjalan kaki. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 15 menit dengan menggunakan ojek. Tarifnya sekitar 10rb-an. Biasanya tukang ojek disana sudah biasa mengantar pendaki yang ingin mendaki gunung guntur. Ia akan mengantarkan kita ke rumah kepala desa terlebih dahulu untuk melakukan perizinan. Pada saat saya melakukan pendakian kesana (2008), kepala desanya dijabat oleh ibu Tati, sayang ketika saya kesana, ibu Tati sedak tidak berada dirumah, sehingga proses perizinan diwakili oleh Ibunda bu Tati, saya cukup menyerahkan fotokopi KTP dan uang retribusi pendakian seikhlasnya, biasanya berkisar antara 3rb hingga 5rb rupiah. Untuk menambah perbekalan pendakian, anda bisa sekalian membelinya disini, karena dirumah bu Tati juga terdapat warung kecil.

Setelah selesai mengurus perizinan, tukang ojek akan membawa kita melanjutkan perjalanan menuju lokasi penggalian pasir. Tapi sayang, pada saat saya melakukan pendakian, kondisi jalan sedang rusak parah. Sehingga terpaksa saya mengikhlaskan tukang ojek untuk menurunkan saya sebelum sampai ke lokasi yang sudah disepakati. Karena kasihan juga kalau motornya harus dipaksakan melewati jalan yang rusak. Bisa- bisa itu jadi hari terakhir dia ngojek karena motornya harus turun mesin dan patah rangka. Hahaha…… lebay ah…

Di sekitar lokasi penggalian pasir ini, terdapat jalan agak lebar yang biasa digunakan truk truk pasir untuk keluar masuk. Sebagian bercabang, jadi sebaiknya anda banyak bertanya pada penambang – penambang pasir arah yang menuju ke jalur pendakian. Sekitar 30 menit dari kampung citiis, anda akan menemui pipa saluran air di aliran sungai kecil disisi kanan anda. Pipa itu bisa anda jadikan patokan jalur pendakian anda. Ikuti alur pipa tersebut, melewati hutan yang rindang dan ladang – ladang penduduk sampai anda menjumpai curug citiis.

Curug Citiis

Suasana disekitar curug citiis begitu sejuk. Anda bisa mendirikan tenda dikawasan tersebut. Tempat itu bisa menampung kurang lebih 2 -3 tenda. Selain itu juga terdapat sebuah shelter kecil yang bisa anda gunakan untuk beristirahat. Anda bisa menambah persediaan air ditempat ini, karena setelah ini, anda akan kesulitan menemukan mata air di sepanjang jalur pendakian.

Selepas curug citiis, anda harus naik kearah padang savanna, bukan lagi jalur hutan seperti sebelumnya. Jadi aliran sungai haruslah berada di sisi kanan jalur pendakian anda. Disinilah tantangan dimulai, tanjakan terjal dan berbatu merupakan jalur yang akan anda lewati selepas kawasan air terjun. Saya sarankan agar anda menggunakan baju atau kaus berlengan panjang. Selain untuk melindungi dari sengatan sinar matahari, juga untuk melindungi kulit dari sayatan semak dan ilalang yang tumbuh disepanjang jalur pendakian. Kira – kira satu jam selepas air terjun citiis, anda akan menjumpai sebuah area yang cukup “teduh” dan dapat menampung sekitar 2 buah tenda. Anda bisa beristirahat disini atau melanjutkan perjalanan.

Tidak jauh berbeda dengan kondisi sebelumnya, medan yang akan anda lalui didominasi tumbuhan jenis ilalang dan semak dan pepohonan yang kering merangas tanpa daun. Tampak pula pepohonan yang batangnya hitam seperti habis terbakar. Dikanan kiri jalur anda akan melihat bekas aliran lava yang telah membeku. Medan pendakian semakin lama semakin menanjak dengan kemiringan berkisar antara 45 – 75 derajat. Jika anda mendaki di siang hari dengan teriknya sinar matahari, anda akan merasakan betapa panasnya berjalan di punggungan gunung Guntur ini.

Semakin mendekati puncak pertama, jalur yang akan anda lalui semakin terjal dan gersang. Medan yang kita lalui pun didominasi campuran antara tanah, pasir dan kerikil, sehingga jika kita tidak pintar – pintar memilih jalan anda akan mudah terperosok ke bawah karena jalur yang licin. Saya sendiri saat melewati jalur ini, sempat teringat jalur plawangan yang menuju puncak slamet, kondisi jalur yang licin dan curam, serta minim pegangan untuk menahan tubuh agar tak terperosok kebawah.

Mendekati puncak pertama, anda akan melalui sebuah pohon cemara yang cukup besar. Pohon ini sebenarnya sudah terlihat dari bawah, karena tidak ada lagi sesuatu yang menghalangi pandangan kita ke atas. Setelah melewati pohon ini, kira –kira 15 menit kemudian, anda akan menemui sebuah batu besar. Lalu 15 menit dari batu besar tersebut, anda akan tiba di puncak pertama. Total waktu untuk mencapai puncak pertama dari curug citiis adalah 2 – 2.5 jam. Tapi saya sendiri waktu itu membutuhkan waktu sampai 3,5 jam. Kebetulan saat itu saya lupa membawa persediaan air yang banyak, sehingga pergerakan saya jadi lebih lambat.

Puncak Pertama

Dipuncak pertama ini, ada lokasi yang terletak sebelum bibir kawah yang bisa anda jadikan tempat untuk mendirikan tenda. Tapi pastikan pasak tenda anda terpasang dengan kuat, karena dikhawatirkan ada angina yang sewaktu – waktu bertiup kuat. Kawah gunung guntur berada di sebelah kiri anda. Berhadapan dengan gunung cikuray yang terlihat menjulang tinggi. Dari puncak pertama ini anda dapat melihat pemandangan kota garut, areal pemukiman, persawahan, situ bagendit, komplek pemandian Cipanas dengan jelas. Puncak kedua juga terlihat dengan jelas beserta jalurnya.

Menuju puncak kedua, anda akan melintasi lembah yang jalurnya cukup landai, sebelum akhirnya menanjak kembali. Anda berjalan melipir punggungan kawah, kemudian belok kanan menanjak daerah terjal, dengan kemiringan sekitar 4 derajat. Punggungan yang anda lintasi berupa padang savanna yang cukup luas dengan pemandangan yang cukup indah. Medan terjal tersebut berupa tanahvulkanis yang hangat, gembur, licin, dan di beberapa tempat tanahnya lembek bila diinjak. Perjalanan dari puncak pertama menuju puncak kedua memerlukan waktu sekitar 30 menit.

Puncak Kedua

Seperti halnya puncak pertama, areal puncak kedua juga di dominasi padang savanna. Berada di antara puncak pertama dan puncak tertinggi gunung guntur. Padang savanna memisahkan kedua puncak tersebut dan menampakkan pemandangan yang sangat menarik. Beberapa jenis tanaman jenis cantigi yang tumbuh terbatas ikut menambah pesonanya. Gunung –gunung berhutan rimbun disisi gunung guntur dan dibatasi lembah serta jurang – jurang yang menganga dalam pun ikut menambah daya tarik disekitarnya. Di puncak ini terdapat seperangkat peralatan dan pagar kawat yang sudah rusak. Perlengkapan tersebut tampaknya bekas alat untuk memantau keadaan gunung guntur. Dari sini, puncak tertinggi gunung guntur terlihat dihadapan anda. Jalur menuju ke puncak tertinggi itupun terlihat dengan jelas.

Nah, setelah puas menikmati pemandangan dan melepas lelah di Puncak kedua, kawan2 bisa melanjutkan pendakian menuju puncak tertinggi gunung guntur. Dari puncak kedua ini, jalur yang akan anda lewati tidak jauh berbeda dengan jalur dari pucak pertama menuju puncak kedua. Kanan kirinya merupakan padang savanna yang luas. Beberapa tanaman termasuk jenis cantigi juga bisa anda temui disini. Setelah sedikit menurun, jalur yang anda lalui akan menanjak terjal dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Tidak sampai 40 menit dari puncak pertama, anda akan sampai di puncak tertunggi gunung guntur (2.249 mdpl)

Puncak Tertinggi

Area puncak gunung guntur cukup datar dan memiliki luas kira – kira 2 kali lapangan Voli. Disini terdapat seperangkat peralatan yang berfungsi untuk memantau aktivitas gunung api. Anda juga bisa melihat anggunnya Gunung Cikurai dengan sangat Jelas. Pemandangan dari puncak gunung guntur sangat menakjubkan, sehingga perjalanan berat melintasi medan yang sulit dan melelahkan seakan terbayar dengan keindahan yang anda saksikan. Bukannya mau lebay, ya emang susah di ungkapkan dengan kata2. saya nggak akan medeskripsikan seperti apa keindahan panorama yang bisa anda nikmati di puncak gunung guntur. Karena keindahan alam, memang tidak akan cukup didefinisikan dengan kata2. Yupz, anda harus lihat sendiri, nikmati, resapi, dan sadari, bahwa betapa kecilnya diri kita bila dibandingkan dengan ciptaan tuhan yang maha kuasa.

Dan yang terpenting, anda tidak akan tega menikmati alam ini untuk anda sendiri bukan..? anda tentu ingin anak cucu anda pada generasi yang akan hanya akan mendengar tentang indahnya bumi kita dari dongeng2 dan cerita2 usang pendahulunya. Karena itu, sebagai pendaki gunung, kita juga harus berlaku sebagai pencinta alam. Karena anda sadari atau tidak, tanah tempat kita berpijak, tanah Indonesia, dianugerahi kekayaan dan keindahan alam yang tak ternilai harganya. Yang akan rusak jika tidak kita jaga..

Salam Pendaki Indonesia.


Daftar Pustaka,
- Merbabu.com
- Mountain Climbing For Everybody, Harley Bayu Sastha


READ MORE ...

Memperingati Hari Lingkungan Hidup se-Dunia, apa yang telah Kita Berikan???

Sahabat Petualang dimanapun anda berada, Hari ini tanggal 5 Juni adalah hari Lingkunga Hidup Sedunia, yang tentu saja diperingati setiap tahunnya. Kita tentu saja tak ingin jika lingkungan kita kelak hanya tinggal cerita saja buat generasi yang akan datang. Nah sahabat petualang, dalam tulisan kali ini ada sedikit ulasan yang ingin saya sampaikan kepada sahabat petualang mengenai lingkungan hidup.

Mungkin tidak hanya saya yang merasakan kalau akhir-akhir ini cuaca semakin panas, suhu sering berubah, dan tentu saja membuat kita gerah (bagi yang diperkotaan). Kenapa hal ini bisa terjadi??? salah satu faktor penyebabnya mungkin saja sudah sangat familiar ditelinga sahabat petualang, yaitu pemanasan global atau yang sering disebut Global Warming. wah...ada ada saja ya dunia kita ini, semakin tua umurnya, ternyata membuat bumi kita juga semakin renta, banyak kerusakan disana-sini.

Seberapa besar arti penting lingkungan hidup bagi sahabat petualang pembaca sekalian??? apakah hanya sebagai tempat tinggal??? apakah hanya sebagai tempat untuk memanjakan batin??? Atau hanya untuk Eksploitasi semata???

Dalam judul tulisan ini, saya sedikit menyinggung "Apa yang telah Kita Berikan???". yah benar sekali. Apa yang telah kita berikan untuk Lingkungan hidup di sekitar kita??? jangan lah mempertanyakan apa yang akan Lingkungan Hidup itu berikan kepada kita??? Apa perlu dijelaskan panjang Lebar???

Yah, mungkin sedikit himbauan saja kepada sahabat petualang, hal terkecil yang dapat kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari adalah "Reuse, Reduce, and Recycle". Tiga hal kecil yang sangat efektif jika dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kapan dampaknya bisa dirasakan?? tentu saja tidak ada yang instan, semua memerlukan Proses yang Panjang untuk menuju semuanya.

Nah sahabat petualang dimanapun anda berada, dalam tulisan kali ini saya ingin sedikit mewakili dari sebatang pohon dari antara sekian jumlahnya. Saya ingin sedikit menyampaikan pesan Peduli Lingkungan Hidup dari semua makhluk Bumi.Selamatkan bumi kita, sayangi bumi kita, rawat bumi kita, dan tentu saja lestarikan.

Dalam rencana pendakian gunung di sebuah gunung di jawa timur, tepatnya gunung Semeru pada tanggal 6 Juni, saya berfikir untuk menyampaika pesan ini sebelum saya berangkat, dan semoga saja dapat diterima oleh Sahabat Petualang, para blooger yang peduli lingkungan untuk dapat berpartisipasi dalam menjaga kelestarian alam. Dan setelah saya berkonsultasi dengan Mbak Natalia tentang rencana saya membuat sebuah "Award" sederhana bertemakan lingkungan Hidup. Yah, sebuah award yang sangat sederhana.

Award itu sendiri akan saya berikan kepada siapa saja sahabat petualang yang sudi dan berkenan dan mempunyai hati nurani untuk peduli pada lingkungan Hidup. Caranya bagaimana??? caranya gampang, saya akan memberikan sebuah pertanyaan untuk kita bisa Sharing bersama-sama mengenai Lingkungan Hidup.

Berikut adalah Pertanyaan untuk di Komentari dan Sharing serta berbagi Pendapat dalam Postingan ini, dengan cara menuliskan Komentar Sahabat Petualang.

MENGAPA KITA PERLU MENJAGA DAN MELESTARIKAN LINGKUNGAN HIDUP....???


Demikianlah sedikit pesan dan sedikit yang dapat saya lakukan untuk bersama-sama sahabat petualang, rekan-rekan Blogger yang Budiman untuk dapat berpartisipasi memberikan Komentarnya terhadap kelestarian Lingkungan Hidup kita. Mungkin saya bukan orang yang tepat untuk memberikan award ini, namun sedikit upaya dari saya semoga dapat membantu akan pentingnya kelestarian Alam Indonesia Raya pada khususnya dan seluruh dunia pada Umumnya. Sampaikan kepada rekan-rekan Sahabat Petualang untuk dapat ikut berpartisipasi....


Jika Pohon Terakhir Sudah di Tebang,
Sungai Terakhir Sudah di Cemari,
dan Ikan Terakhir Sudah di Tangkap,
Maka MANUSIA AKAN SADAR UANG TIDAK DAPAT DIMAKAN



Best Regards,
Salam Lestari

READ MORE ...

Rabu, 03 Juni 2009

Tips Cari Ongkos Naik Gunung

Udah pernah naik gunung?...
Hah… belom?
Yaudah gak usah baca, yang baca yang udah pernah naik gunung aja….
Hehehe… diseriusin aja ah… Lanjut Yuuk…..
Buat kawan – kawan yang hobi naik gunung, atau setidaknya yang udah pernah nyoba mendaki, pasti dah tau kan asiknya kayak gimana..?
Menikmati keindahan ciptaan tuhan dari ketinggian,setelah sebelumnya berjuang menaklukkan rasa takut, letih,lapar, dingin, putus asa, adalah kebanggan yang gak bisa dibayar pake kertas Koran…. Ya iyalah, kertas Koran mana laku.. aya – aya wae…
Tapi bener kok, kepuasan yang kita dapet gak bisa dibandingin peke apapun..
Bikin kita mauu… dan mauuu lagi.. yang udah pernah naek pasti setuju kan…
Yang belom pernah.. ANDA HARUS COBA!!!!..

Cuma masalahnya, dan ini selalu aja jadi masalah utama, naik gunung tuh butuh biaya..
Buat ongkos transportasi, buat beli peralatannya, emang sih kita bias minjem, tapi kan lebih enak kalo kita punya sendiri. Lagian kan kalo minjem mulu kan malu. Kalo nggak malu yaa… namanya Gak Tau D***…. Hehehe.. Kidding, Wollezz kang..
trus belom lagi buat beli perbekalan atau logistik.
Banyak dikitnya biaya yang diperlukan ya tergantung dari kitanya sendiri, kalo dana kita cekak, ya kita nyari transportasi yang murah2 aja.. jangan dana cekak terus kita naik yang eksekutive, bisa berangkat gak bisa pulang… hehehe..

Buat yang udah kerja, atau yang udah punya penghasilan sendiri sih, soal biaya masih bias di kondisikan. Tinggal nyisihin duit gaji tiap bulan, itu pun kalo masih ada sisa. Belom buat makan, bayar kontrakan, bayar kredit motor, bayar kasbonan bulan kemaren, bayar utang di warung sebelah.. abis donk.. 
Trus gimana buat sohib – sohib yang masih sekolah atau kuliah, yang uang jajannya masih mengandalkan kebaikan hati orang tua..?
mmmmm… gimana ya…? Tiba2 ada yang nyeletuk..

- Yang sok bijak “ Saya tau..!! ngumpulin lah.. hemat pangkal kaya choy..”
- Yang sekolah “ Mana bisa, dah abis buat malem mingguan, N nonton ma Bokin”
- Yang sok bijak “ Ya udah cari kerja aja..!!”
- Yang sekolah “ Kan sekolah, mana ada waktu sih, “
- Yang sok bijak “ Ya udah nggak usah naek gunung kalo nggak punya duit..!!!”
- Yang sekolah “ Kambing..!!! Ke laut aja loe..!!”
Akhirnya dateng pemuda tampan yang bijak beneran, katanya sih namanya catur… trus ngomong gini.. (yang ini serius..)
“ Eh.. eh.. gak perlu ribut – ribut gitu, saya punya solusinya.. begini, kalo kisanak pengen punya duit sendiri buat naek gunung, tapi gak punya waktu buat nyari kerja, kenapa gak coba cari tambahan duit di internet aja.. banyak kok caranya.. banyak juga yang udah nyobain, dan banyak juga yang berhasil. Soal waktu kita gak usah pikirin, kita bisa kerja dari rumah kalo dirumah udah bisa internetan, atau kalo gak ada internet dirumah, kita bisa juga dari warnet, lagian kan warnet sekarang kan dah murah – murah tuh. Cukup satu jam aja sehari.. dan asiknya lagi kita bisa libur kapanpun kita mau, jadi bisa kapanpun naik gunung.. hehehe..”
Yang dua orang tadi jadi penasaran tuh…
- Yang sok bijak : “Wah.. boleh juga tuh.. gimana caranya kisanak..?”
hehehe, rupanya yang sok bijak ini juga pengen banget naek gunung, tapi gak punya ongkos juga.. weleh –weleh.. pake sok nasehatin lagi nih orang.. aya – aya wae..
terus si pemuda tampan tadi ngelanjutin..
“ Ada banyak cara buat cari tambahan penghasilan lewat internet. Sekarang ini emang lagi marak macam – macam bisnis internet. Ada yang gratis, atau tanpa investasi, tapi ada juga yang mengharuskan kita menanam modal atau berinvestasi terlebih dahulu. Logikanya sih, yang pake modal biasanya lebih kongkrit.. atau lebih jelas keuntungannya gitu. Tapi semua kembali lagi pada yang ngejalanin. Karena usaha atau bisnis apapun, kalo kita ngejalaninnya dengan serius, tekun dan pantang putus asa, hasilnya juga InsyaAllah akan memuaskan. Bukan begitu bukan.?!!  ..

• yang gratisan ada yang namanya program PTC (Paid To Click). Disini anda anda akan mendapat bayaran hanya dengan mereview atau mengklik iklan. Tugas anda hanya perlu mengklik iklan yang ada di situs PTC tersebut dan mereviewnya selama beberapa detik (biasanya antara 20 – 30 detik ) setelah itu akan ada konfirmasi bahwa uang anda telah bertambah. Besarnya bayaran anda untuk setiap iklan yang anda review bergantung dati situs PTC yang bersangkutan. Biasanya berkisar antara Rp. 25,- s/d Rp. 150,- per iklan. Jumlah iklan yang bisa anda review pada setiap situs PTC pun bervariasi, antara 3 s/d 15 iklan. Untuk lebih jelasnya tentang PTC, silahkan klik disini

• selanjutnya ada yang dinamakan Paid To Share File. Program yang satu ini akan membayar anda untuk setiap file yang di download. Anda akan dibayar $0,001 per file yang di download. Jadi jika ada 1000 orang yang mendownload file anda, maka anda akan dibayar $1. anda cukup mengUpload sebuah file, lalu anda akan diberikan sebuah Link download. Nah, jika nanti ada yang mendownload file tersebut, anda akan mendapatkan uang. Sederhana bukan? Gampang dan sederhana, tapi kalau anda menjalaninya dengan serius dan sungguh – sungguh, saya yakin hasilnya tidak akan sesederhana prosesnya.  Silahkan klik disini untuk mendaftar.

Masih banyak lagi cara2 mendapatkan penghasilan tambahan internet. tapi yang jelas segala sesuatu tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya usaha dan kerja keras. Jangan cepat terpengaruh dengan promosi2 yang menggiurkan dari penyadia layanan bisnis di internet. mereka tidak bohong, apa yang mereka janjikan memang bisa anda raih. Tapi tentu saja tidak semudah membalikkan telapak tangan, dan sama sekali tidak otomatis. Kerja keras tetap diperlukan agar usaha anda bisa berjalan dengan baik dan menghasilkan keuntungan yang anda harapkan. Terus, Bisa naik gunung lagi deh.. berangkat…!!

Untuk model bisnis internet lainnya akan saya posting secepatnya..
Untuk sementara yang itu dulu ya..
Biar anda nggak bingung kalo kebanyakan..
Oke..?... oke..?.. woi…!!!!.. OK gak.?”

-Yang sok bijak dan yang sekolah “zzzzzzzzz…zzzzzz”
-Pemuda Tampan “KAMBING, !!!!!!.”


READ MORE ...

Selasa, 02 Juni 2009

Gunung Merbabu Jalur Wekas

ini pendakian pertama saya. Berkat ajakan seorang teman, akhirnya saya bisa juga merasakan nikmatnya sensasi mendaki gunung. Dan yang akan menjadi gunung pertama yang saya daki adalah gunung merbabu.

Gunung Merbabu memiliki ketinggian 3142 mdpl (Meter diatas permukaan laut). Secara geografis terletak diantara 110o 1’ – 110o 37’ BT dan 7o 8’ – 7o 35’ 27” LS. Dan berada di 3 kabupaten, yaitu Magelang, Salatiga, dan Kabupaten Boyolali. Gunung ini termasuk jenis gunung Stratovulcano. Berada pada rangkaian gunung yang mengarah ke utara bersama gunung Merapi, T
elomoyo, GajahMungkur, Gunung Andong dan Gunung ungaran. Gunung ini pernah meletus beberapa kali, dan terakhir pada tahun 1968.

Gunung Merbabu merupakan salah satu gunung dengan jalur pendakian terbanyak di Indonesia. Jalur ya
ng biasa digunakan oleh pendaki diantaranya adalah jalur Wekas via Magelang, Jalur Kopeng via Salatiga, dan Jalur Selo via Boyolali. Untuk pendaki yang ingin melakukan pendakian estafet Merapi – Merbabu, bisa melalui jalur Selo. Dan kali ini, kami akan melakukan pendakian gunung Merbabu melalui Jalur Wekas, karena salah seorang teman kebetulan mempunyai famili di Magelang, jadi bisa sekalian mampir.

Untuk menuju Magelang, dari Jakarta anda bisa menumpang Bus dari terminal Lebak Bulus, K
ampung Rambutan atau Pulogadung. Ongkosnya bervariasi, tergantung bus yang anda tumpangi. Kami membayar 40rb per orang untuk bus ekonomi (Tahun 2003), untuk update informasi ongkos terbaru akan saya posting secepatnya. Kami berangkat dari terminal Lebak Bulus Pukul 5 sore, dan tiba di terminal magelang pada pukul 6 pagi. Dari terminal magelang, anda bisa menumpang bus mini jurusan kopeng, dan turun di pertigaan kaponan, tepatnya di depan gapura desa wekas. Kemudian diteruskan dengan berjalan kaki sejauh 3km menuju pos pendakian. Sementara kami waktu itu singgah dulu di Magelang, kemudian sorenya baru menuju wekas dengan mencarter mobil bak tertutup, seacam angkutan pasar dengan biaya 60rb (Tahun 2003).

Wek
as merupakan desa terakhir menuju puncak merbabu. Jalur ini cukup popular dikalangan pendaki, terutama dari daerah magelang dan sekitarnya, karena cukup dekat dan banyak terdapat sumber mata air. Waktu tempuh untuk menuju puncak kira-kira 6 – 7 jam. Jalur wekas merupakan jalur pendek, sehingga jarang terdapat lintasan yang panjang membentang. Lintasan menuju pos I cukup lebar, dengan bebatuan yang mendasarinya. Sepanjang perjalanan akan ditemui ladang penduduk khas dataran tinggi yang ditanami bawang, kubis, wortel, dan tembakau. Rute menuju pos I cukup menanjak dengan waktu tempuh sekitar 2 jam.







POS I _ POS II


Pos I merupakan sebuah dataran dengan sebuah balai sebagai tempat peristirahatan. Di se
kitar area ini masih banyak terdapat warung dan rumah penduduk. Selepas pos I, perjalanan masih melalui ladang penduduk. Kemudian masuk hutan pinus. Waktu tempuh menuju pos II adalah sekitar 2 jam.



POS II – POS HELIPAD

Pos II merupakan sebuah tempat yang datar dan terbuka. Tempat ini mampu memuat hingga beberapa puluh tenda. Pada area ini terdapat sumber air yang disalurkan melalui pipa – pipa besat yang ditampung pada sebuah bak. Dari Pos II terdapat jalur buntu yang menuju ke sebuah sungai yang dijadikan sumber air bagi masyarakat sekitar Wekas hingga desa-desa di sekitarnya. Jalur ini mengikuti aliran pipa air menyusuri tepian jurang yang mengarah ke aliran sungai dibawah kawah. Terdapat dua buah aliran sungai yang sangat curam yang membentuk air terjun yang bertingkat-tingkat, sehingga menjadi suatu pemandangan yang sangat luar biasa dengan latar belakang kumpulan puncak - puncak Gn. Merbabu.
Selepas pos II jalur mulai terbuka hingga bertemu dengan persimpangan dengan jalur kopeng yang berada diatas pos IV jalur kopeng (Watu Tulis). Dari persimpangan ini menuju pos Helipad hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Jika anda mendaki pada musim kemarau, saya sarankan agar anda membawa masker atau penutup hidung. Karena jalur yang sangat berdebu membuat sesak napas anda. Saya sendiri sampai menggunakan pengganjal bahu jas sebagai masker, maklum, pendakian pertama, minim persiapan. Hehehe…

POS HELIPAD – PUNCAK KENTENG SONGO

Pos Helipad dipagari oleh tebing – tebing curam yang merupakan puncak – puncak merbabu yang terpisah, seperti puncak kukusan (2968 mdpl), puncak Pringgodalem (3119 mdpl), puncak Syarif, dan puncak Kenteng Songo yang merupakan puncak tertinggi. Mata air akan ditemui 150m arak kanan pos ini (menghadap puncak). Disamping mata air ini juga akan ditemui kawah mati yang bernama kawah Candradimuka. Disini pendaki harus benar – benar pintar memilih antara air tawar dan air yang mengandung belerang.
Selepas pos Helipad, pendaki akan dihadapkan pada rute terberat yang bernama jembatan setan. Lintasan ini merupakan punggungan tipis dengan jurang menganga pada sisi kiri dan kanan lintasan. Ditambah lagi hembusan angin yang cukup kencang disepanjang lintasan yang panjangnya 627m ini. Selepas jembatan setan, pendaki akan tiba pada sebuah persimpangan. Yang ke kiri, menuju puncak syarif, dengan jarak 180m dengan waktu tempuh sekitar 10 menit. Dan yang kekanan menuju puncak Kenteng Songo yang berjarak 433m. perjalanan melalui jalur ini memakan waktu 45menit dengan medan yang menanjak dan sesekali menurun. Dari puncak kenteng songo akan tampak di sebelah barat gunung sindoro dan gunung sumbing, disebelah timur gunung ungaran dan gunung lawu, sedangkan disebelah selatan dan yang terdekat adalah Gunung Merapi yang berdiri gagah dan misterius.
Silahkan baca juga jalur pendakian gunung merbabu via kopeng disini


READ MORE ...

Pendaki Gunung atau Perusak Alam?

Jargon ini sudah lama sekali terdengar dikalangan para pendaki gunung, pecinta alam (mapala,sispala maupun freelance) dan para petualang (mungkin juga termasuk saya atau anda). Apakah "Pendaki Gunung itu Perusak Alam?". Benarkah pameo ini mengisyaratkan bahwa kegiatan mendaki gunung itu merusak alam??? Dalam tulisan kali ini saya ingin berbagi pendapat dan sharing dengan teman-teman apakah pendaki gunung itu perusak alam. Baiklah, tanpa harus berbasa basi lagi saya ingin mengutarakan pemikiran saya, yang mungkin saja sama dengan pemikiran teman-teman

Yah...ketika kita mendaki gunung, kita mungkin melewati jalur (route) yang sudah ada dibuat yang khusus untuk pendakian. Terkadang pula kita terkonsep pada sebuah kegiatan ekspedisi untuk membuat jalur pendakian baru pada sebuah gunung. Nah, dari salah 2 (dua) contoh cara mendaki gunung tersebut, masing-masing mempunyai peranan dalam pelestarian alam, Tergantung dari sudut pandang mana kita akan menilainya.

Jika kita mendaki pada jalur yang sudah ada, kemungkinan kecil kita akan melakukan perusakan (dalam hal ini memotong atau menebas) alam. Ketika kita mendaki melewati jalur yang ada, minimal yang kita tinggalkan adalah "jejak kaki"(footprints). Namun dari beberapa pendakian yang pernah saya lakukan baik itu di gunung-gunung Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur dan Kalimantan Barat melalui jalur yang sudah ada, pemandangan yang saya saksikan Teramat sangat Indah dan mempesona. Namun ada juga pemandangan yang membuat saya (atau anda) pasti akan mengumpat, berguman (bahkan memaki), ketika melihat pohon yang telah dijahili, disayat oleh belati "pendaki jahil" yang tak mau diam. Apalagi melihat setumpuk bebatuan yang sudah berwarna-warni tak karuan bertuliskan nama-nama yang tidak jelas, hanya untuk menunjukan bahwa mereka pernah berada disana. (ohhh...shitt!!). Apalagi jika kita membuang sampah digunung, oh...bisa dibayangkan hampir disetiap pos (shelter) pendakian pasti ditemukan sampah-sampah non-organik yang dengan sengaja ditinggalkan oleh pada "pendaki jahil" tersebut. Sungguh memalukan (dimana MORAL anda wahai "pendaki jahil"...???)

Nah, apabila kita mendaki gunung dalam kegiatan yang terkonsep (misalnya ekspedisi) untuk membuat jalur pendakian baru, maka yang pasti dilakukan adalah "sedikit" membabat hutan (pohon,ranting dan semak) untuk digunakan sebagai jalur pendakian.Oke, baiklah, mungkin bagi kita hanya sedikit membabat hutan. Namun, ada dampak lain yang akan ditimbulkan jika jalur baru tersebut sudah dipublikasikan dan ramai digunakan sebagai jalur pendakian. Apa yang mungkin akan terjadi??? Salah satu jawabannya adalah "sampah". yeah...sampah lagi-sampah lagi.....!!!

Saya pribadi sangat TIDAK SETUJU jika digunung disediakan Tempat Sampah, seperti yang ada pada nasib gunung Gede-Pangrango via jalur Cibodas. Kenapa???? Yeah...karena walaupun sudah dsediakan bak sampah dan "segudang" peraturan yang berlaku pada Gunung ini dan terkesan sangat Ketat dan konservativ, ternyata Sampah-sampah ini hanya berserakan saja pada bak penampungan, bahkan meluber kemana-mana. Pemandangan tersebut saya saksikan ketika mendaki gunung ini pada bulan November 2008 yang lalu. Dalam perjalanan turun, tak lupa saya mengais sedikit dari sampah yang ada itu kedalam 'treshbag' yang saya bawa, namun karena tidak mencukupi maka sampah itu tak dapat saya bawa turun semua, bukan maksud saya untuk menyombongkan diri lho, hanya sedikit berbagi cerita saja. (Padahal kawasan itu merupaka kawasan Taman Nasional)...kok bisa ya...??? Ini terkesan bahwa gunung sebagai tempat sampah (karena difasilitasi oleh bak sampah), sehingga "pendaki jahil" dengan seenaknya saja meninggalkan sampahnya.

Demikianlah sedikit cerita petualangan dan pemikiran saya yang tersirat dalam tulisan ini.....Teman-teman pembaca yang Budiman, tolong berikan komentar anda untuk kita sama-sama sharing dan sedikit mengingatkan "pendaki jahil" tersebut jika kebetulan dia membaca tulisan ini.

Jika Pohon Terakhir sudah ditebang,
Sungai Terakhir Sudah Tercemar,
dan Ikan Terakhir sudah ditangkap,
Maka Manusia akan sadar...
UANG TIDAK DAPAT DIMAKAN


Salam Lestari...........!!!
Best Regards,
Yohanes Kurnia Irawan
READ MORE ...