Kamis, 21 Januari 2010

Macan Tutul Jawa Tertangkap Kamera TNGHS

Dua ekor macan tutul jawa (Panthera padus melas) dewasa tertangkap kamera yang dipasang tim pemantau macan Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Hasil cetak foto dari kamera tersebut juga mengungkap jalur jelajah satwa langka tersebut dilintasi oleh manusia.

”Untuk mengetahui populasi dan penyebaran macan tutul jawa, kami melakukan monitoring dengan memasang kamera pengintai (camera trap) pada 17 Desember 2009 hingga 5 Januari 2010. Hasilnya, antara lain, dua ekor macan tutul jawa dewasa terfoto oleh kamera itu,” kata Kepala Balai TNGHS Bambang Supriyanto di Bogor, Sabtu (16/1).

Lokasi pemantauan macan di lakukan di dua titik di kawasan resor Gunung Kendeng sekitar 1.165 meter di atas permukaan laut dan 1.011 di atas permukaan laut. Metode yang dipakai adalah pemasangan kamera pengintai serta pengamatan langsung terhadap tanda berupa bekas cakaran (marking), jejak tapak kaki (footprint), kotoran (faeces), dan identifikasi jenis pakan.

Selain memastikan keberadaan dua ekor macan dewasa itu, hasil pemantauan juga menunjukkan ketersediaan pakan bagi macan mencukupi.

Bekas cakaran dan jejak tapak kaki yang ditemukan di areal pemantauan menunjukkan kawasan itu memang kawasan jelajah dan teritorial macan tutul jawa.

Dari kotorannya yang ditemukan jelas sekali bahwa satwa itu memangsa babi, musang, dan primata.

”Kawasan TNGHS memang habitat terbaik bagi macan jawa. Satwa ini pemangsa puncak pada rantai makanan di kawasan hutan TNGHS. Mereka mengendalikan hama babi dan musang di hutan taman nasional sehingga tidak menjadi hama bagi petani yang bertani atau berkebun di sekitar kawasan,” ujar Bambang.

Kawasan TNGHS terletak di Kabupaten Bogor, Sukabumi, dan Lebak seluas 113,357 hektar. Saat ini populasi macan tutul jawa berkisar 41-45 ekor. (RTS)

sumber:
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/18/03131958/macan.tutul.jawa.tertangkap.kamera.tnghs
READ MORE ...

Jumat, 15 Januari 2010

Pendaki Gunung Hilang di Gunung Cikuray

GARUT--MI: Seratusan personil Polres Garut, Jawa Barat dan kelompok pecinta alam setempat 'Jenggala' sejak Jumat (15/1) pagi melakukan penyisiran di kawasan Gunung Cikuray, Garut, mencari keberadaan Reni Komalasari, 18, yang menghilang di gunung itu.

Komalasari, warga Jl Maulana Hasanudin Rt.04/03 Kecamatan Cipondoh Makmur, Tanggerang, Banten, sejak 20 Desember 2009 hingga saat ini selama 26 hari, menghilang di belantara hutan Gunung Cikuray.

Sebelumnya, korban melakukan pendakian bersama 13 rekan lainnya, namun saat turun gunung melintasi jalur menuju Kecamatan Bayongbong, Reni sempat duduk kelelahan kemudian ditinggalkan tiga rekan lainnya mencari air, namun ketika kembali, Reni tidak ada lagi di tempat tersebut.

Orang tua Reni baru melapor ke polisi Kamis (14/1), sedangkan berdasarkan pengakuan rekannya selama ini terus-menerus melakukan pencarian, yang sebelumnya pun tidak pernah melapor ke aparat manapun untuk mendaki gunung berketinggian sekitar 2.800 mdpl tersebut.

Untuk melakukan pencarian, jajaran Polres Garut, membentuk tim internal dengan melibatkan seluruh fungsi kepolisian, termasuk menjalin koordinasi dengan pecinta alam Jenggala.

Empat personil Jenggala sejak Kamis sore berangkat ke lokasi untuk membuka jalur pencarian oleh Tim internal mulai Jumat dini hari (15/1).

Diperoleh informasi, Reni Komalasari baru pertama kali melakukan pendakian gunung setinggi ribuan meter di atas permukaan laut itu. Bahkan kedua orang tuanya di kampung, sebelumnya tidak menyetujui putrinya itu melakukan pendakian. (Ant/OL-01)

sunber : http://www.mediaindonesia.com/read/2010/01/15/117179/123/101/Seorang-Pendaki-Hilang-di-Gunung-Cikuray
READ MORE ...

Kamis, 07 Januari 2010

Regenerasi, Sebuah Problematika Klasik dalam Organisasi

Organisasi merupakan sebuah wadah yang kompleks untuk setiap anggotanya dalam berkomunikasi dan bersosialisasi. Jalannya roda kepengurusan dalam organisasi juga melibatkan peran aktiv anggotanya sendiri untuk mempertahankan supaya organisasinya tetap bisa eksis. Hampir setiap organisasi selalu melakukan pembaharuan dalam struktur kepengurusan supaya organisasi nya bisa tetap eksis. Periode demi periode kepengurusan selalu membawa sebuah harapan baru untuk kemajuan yang lebih baik dari periode sebelumnya.

Apa yang sebenarnya menjadi kendala dalam setiap organisasi untuk terus berkembang? Mungkin sebuah pertanyaan yang cukup sederhana, tapi dapat menimbulkan banyak pendapat dan argument yang berbeda pula. Masalah klasik yang sering timbul dan menjadi kekhawatiran dalam setiap organisasi pada umumnya adalah masalah regenerasi. Tidak dapat dipungkiri, bahwa tanpa adanya regenerasi, maka bisa dipastikan organisasi tersebut hanya mampu bertahan dalam satu generasi saja. Yah, jelas saja, tanpa adanya penerus generasi, maka tidak ada proses regenerasi, yang berarti organisasi tersebut akan vakum atau bahkan akan hilang sama sekali.

Bagaimana sebenarnya proses regenerasi itu berlangsung….??? Apakah hanya sekedar perekrutan anggota saja…??? Tentu saja jawabannya tidak. Perekrutan angota merupakan langkah awal dalam mempersiapkan generasi yang selanjutnya. Nah, dalam proses inilah, dimana generasi baru yang akan dipersiapkan melanjutkan jalannya roda kepengurusan digembleng dan didik bagaimana caranya menjalankan organisasi itu. Tahap demi tahap diprogramkan untuk anggotanya supaya mendapatkan porsi keilmuan dan pengetahuan yang sama. Tahap berikutnya merupakan pengembangan diri (soft skill) dari anggotanya untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih.

Peran penting anggota yang sudah lebih dulu berperan dalam organisasi atau yang lebih familiar disebut senior juga berperan penting. Selain wajib mentransfer keilmuannya, para senior ini juga wajib dalam mengontrol juniornya supaya tetap terarah dan berjalan sesuai dengan program organisasi yang sedang dijalankan. Para junior (anggota baru) juga sebaiknya jangan malu bertanya kepada para seniornya.
Sebuah kekhawatiran lain yang muncul adalah, ketika para junior (anggota baru) bertanya kepada senior yang tidak tahu (kurang menguasai), namun karena merasa diri senior maka sang senior menjadi sok tahu dan mentransfer ilmu yang juga asal-asalan, hingga akhirnya si junior juga akhinya menjadi sok tahu. Nah, disinilah bagaimana si anggota baru harus bisa beradaptasi dan menilai, senior mana yang harus didekati untuk mendapatkan ilmu. Dan para senior pun, jika memang kurang menguasai atau kurang memahami, sebaiknya merekomendasikan juniornya untuk bertanya kepada senior yang lebih berkompeten (yang lebih memahami).

Keterbukaan diri dan mau mengevaluasi diri sendiri juga menjadi sebuah factor penentu jika ingin maju dan berkembang, terutama dalam pengelolaan soft skill yang dimiliki. Nah, jika sudah begini, maka tidak akan sulit untuk mempersiapkan regenerasi yang akan meneruskan jalannya roda kepengurusan organisasi.
Semoga bermanfaat.
READ MORE ...

Kamis, 31 Desember 2009

Jalur Pendakian Gunung Gede Pangrango Ditutup Sementara


Aparat Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) akan menutup jalur pendakian ke puncak Gunung Gede yang memiliki ketinggian 2.958 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan puncak Gunung Pangrango 3.019 mdpl.

"Penutupan dilakukan dalam rangka pemulihan ekosistem di kawasan konservasi selama tiga bulan mulai 1 Januari-31 Maret 2010," kata Kepala Balai Besar TNGGP Sumarto Suharno, di Sukabumi, Senin (21/12/2009).

Selain untuk pemulihan ekosistem di dalam kawasan konservasi, juga untuk mengantisipasi musim hujan disertai angin kencang yang akan membahayakan para pendaki.

"Penutupan pendakian gunung tersebut sudah rutin dilaksanakan setiap tahun. Diharapkan dengan adanya penutupan khusus wisata pendakian gunung kawasan dapat pulih dengan sendirinya," ujarnya.

Mengantisipasi adanya pendaki tak berizin, menurut Sumarto, pihaknya menerjunkan sebanyak 134 orang petugas, yang terdiri dari polisi hutan (polhut) sebanyak 42 orang, SAR 30 orang, Forum Interpreter dan Sukarelawan (volunteer) 36 orang, dan Pam Swakarsa sebanyak 26 orang.

"Para petugas akan melakukan pengawasan di setiap jalur pendakian. Bagi pendaki yang membandel akan dikenakan sanksi," tuturnya.

Sanksinya, berdasarkan Undang-Undang (UU) No 5 Tahun 1990 tentang Kawasan Konservasi, berupa ancaman pidana maksimal lima tahun penjara dan denda Rp 100 juta.

Menurut Sumarto, kawasan konservasi Gede Pangrango merupakan salah satu ekosistem hutan hujan tropis pegunungan terbaik di Pulau Jawa dan merupakan salah satu dari lima taman nasional (TN) tertua di Indonesia.

Salah satu fungsi ekosistem taman nasional ini, kata dia, adalah sebagai sistem penyangga kehidupan, antara lain, sebagai pengatur tata air bagi daerah di sekitar kawasan hingga daerah hilir.

Kelestarian fungsi dari ekosistem mutlak dijaga karena secara langsung ataupun tidak langsung akan sangat berpengaruh bagi kehidupan di kawasan sekitarnya, seperti Jakarta, Bogor, Bekasi, Cianjur, dan Sukabumi.

Untuk kegiatan rekreasi harian dan berkemah di bumi perkemahan (buper) dapat dilakukan sesuai dengan lokasi yang telah ditentukan, antara lain, Resor Cibodas, Resor Gunung Putri, Resor Selabintana, Resor Situgunung, Resor Bodogol, dan Resor Cisarua.

Sumber : Regional.compas.com
READ MORE ...

Selasa, 15 Desember 2009

Pendakian Pertama

Saat itu, aku baru sadar. Kini Gunung yang sejak SD aku lihat dan aku pernah menggambarnya talah ku injak. Benar, begitu rendah karena telah sampai di puncak dalam keadaan lelah. Tapi lelah itu hilang seiring dengan Eidelweis yang menyambutku penuh sukacita. Hamparan yang mengagumkan, Subhanallah... inikah puncak Gunung yang aku lihat dari bawah itu???

Pendakian pertamaku, SMA 2006, umur yang cukup muda. Hm.... padahal adik-adik kelasku yang SMP saja sekarang ikut pendakian, tapi tak penting, yang berharga adalah usaha yang tengah tercapai ke puncak ini, Gunung Gede, Cipanas.

Jdi untuk teman-teman yang mau mengadakan pendakian jangan lupa ajak aku ya...
dan rencananya kita ada program pendakian ke Semeru neeh, DOAIN AJA...
READ MORE ...

Kamis, 10 Desember 2009

Tentang-ku

Subhanallah... itulah kata yang bisa ku ucapkan. Memang benar begitu indah hidup ini bila dibarengi dengan iman.
Eits... tapi bukan itu yang akan ditulis disini, tapi tentang kehidupanku yang Luar Biasa.
Dimulai pada hari rabu itu ibuku merasakan kontraksi. Dengan susah payahnya dan merupakan hal yang pertama dalam hidupnya. Ibuku merasa bahagia dalam kesakitannya antara hidup dan mati dalam memperjuangkan kehidupan.
Kemudian terdengarlah tangis bayi pertama yang lahir pertama kali dari perut sang bunda. Bayi suci yang penuh rahmat karena penuh kasih dari yang melihatnya. Di kumandangkanlah Adzan dari bibir sang ayah.
Satu tahun, dua tahun, tiga tahun, dan tak terasa sudah berumur 5 tahun hingga bayi mungil itu sekolah di TK Kartini. Tumbuh besar dan berkembang, menjadi seorang yang pemalu dan jarang bergaul. Ya.. benar hal itu masih bisa kurasakan sampai sekarang, padahal sekarang aku sudah kuliah. Hmmm... cepat sekali fase itu berjalan. Tapi seiring dengan waktu dan kepercayaan diri yang tumbuh, akupun bisa menjadi anak yang periang, supel dan mau bergaul. Tidak lupa prestasipun dapat kuraih. Dengan ini kumerasakan manisnya senyum orang tuku dan bangganya mereka kepadaku. Bukan untuk menyombongkan diri, tapi berusahalah menjadi yang baik untuk membuat hati orang yang kita cintai senang. Jadilah kita anak yang berbakti pada orang tua.
Aku senang sekali mendaki gunung, dan itu bukan hambatan untukku. Apalagi ayahku juga senang mendaki, jadi izin dari keluarga untuk berpetualang bukan lah hal yang terlalu sulit untuk didapatkan.
Namun belum, icha (nama panggilanku) belum jadi orang. Masih mahasiswa dengan penuh harap dan masa depan yang panjang baik untuk membangun agama dan bangsa Indonesia yang katanya mahasiswa adalah tonggak perjuangan dan pengganti para pemimpin bangsa. Entahlah apa itu benar, atau hanya sebagian orang yang mau mengabdi untuk hal itu. Namun, walau bagaimanapun aku harus menjadi seorang yang berguna, bukan yang merepotkan orang (seperti menjadi pengangguran berpendidikan, Na'udzubillahimindzalik).
Kuliah bukanlah hal yang mudah, Alhamdulillah seorang anak buruh ( penjaga villa, sejak aku lahir) dan ibu rumah tangga yang pendidikannya sampai SMA bisa melihat anak pertamanya berpendidikan lebih tinggi. Semoga bisa mengangkat derajat orang tua yang kukasihi. Ibu dan Ayah yang Luar Biasa. Dan Alhamdulillah biaya kuliah ini Allah kirim melalui Departemen Agama RI. Luar Biasa Nikmat yang Allah swt beri ini.
READ MORE ...

Rabu, 09 Desember 2009

Catper Kiriman : Pendakian Gunung Raung

Gunung Raung, gunung berketinggian 3332mdpl terletak di kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Gunung ini berada dalam kawasan komplek pegunungan ijen bersama Gn.Suket (2.950mdpl), Gn.Pendil (2.338), Gn.Rante (2.664), Gn.Merapi (2.800), Gn.Remuk (2.092), dan Kawah Ijen. Salah satu yang menarik dari gunung raung adalah puncak sejatinya, meski belum banyak yang pendaki yang berhasil menjejakkan kakinya di puncak sejati ini. Salah seorang kawan kita, Dipurnama, yang beberapa waktu lalu berkesempatan melakukan pendakian ke gunung Raung melalui jalur normal, sumber wringin, berbaik hati mengisahkan catatan perjalanannya untuk berbagi bersama kita, selamat menikmati..


Catper Pendakian Gunung Raung
Oleh : Dipurnama

Baru sehari datang dari Kalimantan, seorang teman mengajakku naik ke Gunung Raung. Yah meski rasa capek itu belum hilang sepenuhnya, saya ikuti saja ajakan dia. Siang itu sepulang kuliah saya persiapkan segala macam perlengkapan yang akan saya bawa ke raung. Karena di sepanjang jalur pendakian Gunung Raung tidak tersedia sumber air, maka disarankan masing-masing pendaki untuk membawa 5 liter air. Setelah semuanya fix, akhirnya kami berempat yaitu saya, candra, yoga dan mat lim akhirnya yang berangkat ke Gunung Raung.

Rencana awal yang berangkat jam 5 sore molor hingga selepas maghrib kami baru berangkat dari Jember. Sekitar jam 8 malam kami sampai di kecamatan Sumber Wringin, disana kami harus mengurus ijin pendakian di sebuah rumah peninggalan Belanda yang terlihat antik. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke desa terakhir. Setelah menitipkan sepeda motor, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Pondok Motor. Sepanjang perjalanan kami tidak dapat melihat apapun karena gelap. Sekitar jam ½ 11 malam kami tiba di pertigaan sebelum Pondok Motor. Dari pertigaan itu untuk ke pondok motor masih sekitar 45 menit lagi. Sekitar jam ½ 12 kami sampai di Pondok Motor (sekitar 1100 mdpl). Istirahat sejenak lalu perjalanan kami lanjutkan kembali. Karena malam sudah semakin larut, kami putuskan untuk mendirikan tenda (jarak dari pondok motor sekitar ½ jam).

Jum’at 20 maret 2009
Bangun pagi, packing perlengkapan, tenaga telah pulih kembali. Pagi yang cerah membuat puncak gunung raung terlihat dari kejauhan. Jam 5 kami mulai pendakian melewati semak belukar setinggi dada orang dewasa. Tak lama kemudian kami mulai memasuki kawasan hutan hujan lereng raung yang sangat lebat. Setelah berjalan beberapa saat, kami tiba di persimpangan, ke kiri untuk ke Gunung Suket dan ke kanan untuk ke Gunung Raung. Semakin masuk ke hutan jalur semakin lebat oleh semak belukar dan pohon-pohon tumbang, sehingga kami terkadang harus merangkak untuk melewatinya. Sempat istirahat beberapa kali untuk memulihkan tenaga dan nafas. Sampai di daerah agak terbuka, kami masak makanan untuk sarapan pagi. Nasi + sarden cukup mengembalikan stamina kami yang agak terkuras habis. Panjangnya jalur membuat kami sempat putus asa karena tidak kunjung menemukan pondok sumur.

Tapi sekitar jam 11.50 kami tiba di pondok sumur (sekitar 1800 mdpl). Huffh,….kabut sudah mulai turun, hujan gerimis serta stamina yang sudah hampir habis membuat saya tidak kuat untuk berjalan lagi. Karena hujan semakin lebat dan kabut sudah turun, kami memutuskan untuk mendirikan tenda di jalur antara pondok sumur dengan pondok tonyok. Tempatnya cukup datar meski tidak terlalu luas. Dirikan tenda, menyiapkan roti dan susu untuk mengganjal perut. Saya yang sudah terlalu capek karena belum sempat istirahat setelah tiba dari kalimantan tertidur hingga menjelang jam 7 malam. Setelah makan malam, kami briefing apakah perjalanan dilanjutkan malam ini atau besok pagi. Karena senter yang ada tidak cukup terang, maka diputuskan bahwa perjalanan dilanjutkan besok pagi.

sabtu 21 maret 2009
Jam 4 pagi kami mulai membereskan tenda dan segala perlengkapan ke dalam tas untuk melanjutkan perjalanan kembali. Setelah matahari agak menyingsing perjalanan kami lanjutkan. Jalur masih berupa hutan yang lebat dengan jalur yang semakin menanjak. Setelah berjalan sekitar 1 ½ jam, tibalah kami di pondok tonyok. Pondok tonyok adalah tanah agak lapang dengan pohon agak besar di pinggirnya. Istirahat dulu sebentar disini. Setelah capeknya agak berkurang, perjalanan kami lanjutkan kembali. Dari sini puncak gunung raung sudah mulai terlihat semakin dekat. Semakin menambah semangat kami untuk mencapainya. Dari pondok tonyok ke pondok demit jalannya semakin menanjak dan lebat dengan semak belukar dan pohon-pohon tumbang. Jarak pondok tonyok ke pondok demit relatif dekat.

Hanya sekitar 1 jam, kami sampai di pondok demit sekitar jam 7. Istirahat sebentar disini sambil minum 3 sloki air. Pondok demit merupakan tanah agak lapang dengan gubuk reyot diatasnya. Setelah dirasa cukup, perjalanan kami lanjutkan kembali ke pondok mayit. Dari pondok demit jalurnya semakin menanjak dan menguras tenaga. Kami yang menghemat air menggunakan kanebo untuk meresap air embun dari dedaunan yang nantinya dapat kami minum. Keluar dari hutan hujan, kami disambut dengan hutan cemara yang tanaman disekitarnya telah terbakar (entah karena ulah manusia atau tersambar petir). Jalur di hutan cemara ini antara 30-45 derajat.

Perjalanan yang melelahkan sehingga mengharuskan kami untuk sering beristirahat. Seperti kata ibu penjaga pos pendaftaran di bawah, dimana jalur ke pondok mayit tertutup pohon tumbang karena badai maka kami harus berjalan memutar dan tidak mampir ke pondok mayit, langsung ke pondok angin. Kabut yang turun membuat kami terbuai dan mengantuk. Setelah berjalan selama 3 jam, sampailah kami di pos terakhir sebelum puncak, Pondok angin (2900 mdpl). Di pondok angin kami mendirikan tenda untuk bermalam, karena kami akan naik ke puncak besok pagi jam 4. Seperti biasa, di pondok angin kami masak nasi, mi, sarden untuk bahan makan kami. Mengembalikan stamina wajib buat kami.

Minggu 22 maret 2009
Setelah menyiapkan bawaan yang akan kami bawa ke puncak, kami mulai meninggalkan tenda dan barang lainnya di pondok angin. Sesaat setelah melewati batas vegetasi, kami berdoa di memorial saudara kami deden hidayat. Beberapa saat kemudian jalur semakin ekstrim dengan jurang puluhan di kiri dan kanan serta jalan yang sempit, menanjak dan gelap. Menjelang puncak jalur semakin sempit dan mengharuskan kami harus merangkak dengan hati-hati agar tidak terpeleset.

Akhirnya jam 5 ¼ kami telah mencapai puncak raung (3100 mdpl). Sangat mengagumkan!! Puncak raung dengan kalderanya yang seluas hampir 1 km persegi dan kedalamannya sekitar 100 m dari tempat yang kami pijak. Di tengah kaldera terdapat kawah yang mengeluarkan asap putih. Arti raung sendiri adalah suara dari dalam kawah yang terdengar seperti meraung-raung. Pagi yang cerah dan tidak panas membuat kami puas berada di puncak di atas awan ini. Setelah puas jeprat-jepret foto, kami pun bersiap untuk turun.

Beban yang telah berkurang membuat perjalanan turun ini menjadi cepat. Jam 8 kami tiba kembali di pondok angin dan memasak nasi untuk sarapan. Setelah membereskan semuanya, jam ½ 10 kami memulai perjalanan turun kembali. Gerimis mulai turun saat kami tiba di pondok tonyok dan semakin lebat saat kami melewati pondok sumur. Setelah berjalan sekitar 5 jam dari puncak, akhirnya kami sampai di pondok motor.

Dari pondok motor ke desa terakhir tempat kami menitipkan sepeda motor, kami menumpang mobil pengangkut sayur. Setelah pamit ke ibu penjaga pendaftaran, kami melanjutkan perjalanan kembali ke kota jember......PUAS SETELAH MENCAPAI PUNCAK PERTAMA SAYA!!!


READ MORE ...