Kamis, 28 Mei 2009

Tips Mencegah Hipothermia

Mendaki gunung memerlukan kesiapan mental, fisik, perlengkapan, perbekalan dan pengetahuan yang baik. Banyak musibah pendakian gunung terjadi karena minimnya hal – hal tersebut. Ataupun kurangnya pengetahuan survival sehingga jatuh dalam kondisi hypothermia akut.

Berikut ini saya sampaikan tulisan tentang tips mencegah hypothermia, yang diambil dari http://ambarbriastuti.blogspot.com/2008/02/tips-mencegah hyphothermia.html. Semoga bermanfaat.


Yang terpenting dalam kegiatan naik gunung atau kegiatan di luar (outdoor activity) adalah persiapan dan pengetahuan. Salah satunya mengetahui faktor apa penyebab hypothermia, gimana mencegah hal itu terjadi, apa aja yang perlu dilakukan dan juga tindakan apa yang perlu dilakukan kalau mulai merasakan kedinginan.

Berikut adalah tips mencegah hypothermia di gunung :

1. Usahakan kalau naik gunung jangan memakai kaos dari katun. Bahan katun jika basah keringat sulit keringnya. Ini biasanya menyebabkan menggigil kedinginan walaupun sudah memakai jaket tebal. Sebaiknya memakai bahan sintetis (polyester/spandex/nylon) yang menyerap keringat dan berlengan panjang. Memang sih bisa ganti kaos, tapi di gunung yang sering ujan mengeringkan kaos jadi pekerjaan tersendiri. Ngeringin make api unggun, wah, jangan deh. Kasihan hutan kita. Cobalah mengurangi konsumsi kayu kecuali itu sangat darurat. Membawa satu baju tapi tetap kering, akan sangat berbeda hasilnya dengan membawa 3 baju tapi basah semua.

2. Bawa bekal yang cukup untuk naik gunung. Bekal praktis seperti coklat batangan, muesli bar, atau energy booster (seperti gel dengan glukosa, biasanya dipakai para pesepeda) sangat berguna sebagai cadangan makanan yang ringan dibawa dan menghasilkan energi lumayan. Juga biasakan mengamati sekitar, jika melewati air sungai atau daun2an yang kita kenali bisa dimakan kalau kepepet.


Dari kiri ke kanan : selimut darurat , makanan energi
Bawah : pisau, kompas, headlamp, biasanya disimpan di ransel bagian atas (gambar
koleksi pribadi)

3. Menjaga tubuh tetap kering dan hangat. Salah satunya selalu membawa ponco, bagaimanapun kondisinya. Kalau punya baju dan jaket tahan air (gore-tex based) juga bisa (tapi ini mahal di ongkos). Jangan lupa kaos tangan dan kaos kaki. Khusus kaos kaki bawa ekstra jika perlu.

4. Kalau jalan sendiri siapkan piranti darurat komunikasi, kalau dengan teman harus saling menjaga. HP kadang kurang efektif karena tidak ada sinyal. Bawa alat darurat sinyal seperti peluit atau cermin. Biasakan saling memperhatikan pendaki lain ketika naik atau turun.

5. Jangan paksakan jalan terus kalau kelelahan dan kecapaian. Berhenti, pasang tenda dan buat makanan atau minuman yang cepat dihidangkan, seperti teh manis atau sup instant. Paksakan walaupun kurang suka, karena makanan adalah sumber energi untuk tetap jalan. Selain itu, makanan juga membuat tubuh jadi hangat karena memulai metabolisme tubuh.

6. Bawa selimut darurat (emergency blanket or space blanket). Ini mungkin sudah ada di Indonesia. Bentuknya seperti lapisan aluminium foil yang tipis dan dipakai untuk menyelimuti tubuh. Fungsinya : membuat tubuh tetap hangat, merefleksikan sinar matahari dan tidak kehujanan.. Space blanket ini hanya bersifat memantulkan panas tubuh. Untuk mendapatkan hasil maksimal bisa dibawa Bivy Sack yang terbukti lebih baik hasilnya. Bentuknya seperti selimut plastik, dengan berat sekitar 200gr. ditanggung lebih tahan lama dari space blanket.



7. Penghangat tubuh sementara (body warmer). Ini semacam plester tubuh
kalau kedinginan. Biasa dipakai untuk yang melakukan olahraga ektrem di salju (ski, ice climbing, mountaineering) . Kelemahannya : hanya bisa dipakai sekali saja dengan durasi 12 jam. Karena bentuknya tipis dan ringan, biasanya diselipkan di jaket kalau kondisi cuaca dan badan memburuk.

Sekali lagi saya ingatkan dengan alat yang memadai tapi tidak tahu bagaimana menggunakan, hasilnya juga tidak optimal. Jadi baca dan simak bagaimana melakukan teknik dasar survival di gunung. Bisa baca, nanya atau dari pengalaman yang terus diasah.
READ MORE ...

DIKLAT SPELEOLOGI XIII ASC 2009

Pada usianya yang ke-25, ASC (Acintyacunyata Speleological Club) mengadakan Pendidikan & Latihan (DIKLAT) Speleologi ke-13. Kegiatan ini diadakan untuk regenerasi anggota, tetapi pada Diklat ke-13 ini ASC mengundang organisasi penggiat kegiatan alam bebas dari luar Yogyakarta, dengan misi menyebarluaskan kegiatan Speleologi di Indonesia. Speleologi adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang gua dan lingkungannya. Dalam mendalami ilmu ini seorang speleolog juga dituntut untuk bergaul langsung dengan obyek studinya, yaitu gua. Untuk itu keterampilan menelusuri gua adalah tuntutan yang tidak dapat digantikan bila seseorang ingin mendalami Speleologi. Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa Speleologi adalah kegiatan ilmiah yang banyak melibatkan aktivitas kepetualangan, dan kegiatan penelusuran gua (Caving) adalah olahraga kepetualangan yang memiliki kaitan keilmuan sebagai nilai lebih.

Hari Minggu tanggal 12 April 2009, Pendidikan dan Latihan Speleologi ke-13 ASC dibuka oleh Mursyid Azhar selaku Ketua ASC yang ditandai dengan penyerahan secara simbolis buku materi kepada perwakilan peserta. 4 hari pertama (tanggal 12-15 April 2009) Diklat 13 ASC diisi dengan Materi Ruang. Dengan muatan 21 materi, yaitu: Introduksi Speleologi, Etika & Moral Penelusuran Gua, Bahaya Penelusuran Gua, Pengenalan & Pemeliharaan Peralatan, Teknik Penelusuran Gua Horizontal, Teknik Penelusuran Gua Vertikal, Manajemen Penelusuran Gua, Simpul, Rigging, Pemetaan Gua, Karstologi, Geomorfologi Karst, Hidrologi dan Speleogenesis, Arkeologi Dasar, Interpretasi Peta Topografi Untuk Kegiatan Speleologi, Biospeleologi, Fotografi Gua, Self Rescue, Cave Rescue Dasar, Manajamen Cave Rescue, PPGD, dan Konservasi Kawasan Karst.

Pendidikan dan Latihan Speleologi ke-13 ASC ini diikuti 31 peserta. 8 peserta dari dalam kota, 23 peserta dari luar kota, berasal dari: Semarang (Mapala Unissula, Mahapati FH-Unissula, Mapalast Stikubank, Aldakawanaseta), Bandung (PMPA Palawa Unpad, Mapeka Univ. Maranatha, KMPA Ganesha ITB), Jakarta (Universitas Trisakti), Malang (Impala Univ. Brawijaya), Denpasar (Mapala Wanaprastha Dharma Univ. Udayana), Mataram (Wanapratala FT – Unram, Mapala FKIP Unram), Ambon (Darmapala Univ. Darussalam Ambon), Maros (Maros Carso Community), Samarinda (Imapa Unmul), Lampung (Mapala Unila), Padang (Mapala Proklamator Univ. Proklamasi) dan Medan (Gasi - Uma Fak. Psikologi Univ. Medan Area).

Materi Ruang dilaksanakan di Gedung Pika, Kompleks Bumi Perkemahan Babarsari. Tidak semua materi diisi oleh teman-teman ASC, beberapa materi yang diisi oleh pemateri dari luar yaitu: Arkeologi Dasar oleh Jurusan Arkeologi UGM, Biospeleologi oleh MATALABIOGAMA, dan PPGD oleh KSR PMI Kota Yogyakarta. Alhamdulillah seluruh peserta dapat mengikuti materi ruang dengan lengkap. Antusias mereka cukup tinggi, banyak diskusi-diskusi muncul setelah materi selesai.

Pada hari ke-3 & 4 peserta mensimulasikan SRT (Single Rope Technique) di jembatan Babarsari. Macam-macam lintasan mereka coba, mulai dari polosan, intermediate, deviasi, dan sambungan. 8 lintasan disiapkan untuk latihan. Selesai dari latihan diadakan evaluasi, untuk membahas kesulitan yang dialami dan memberi solusinya.
Tanggal 15 April 2009 peserta berangkat ke lokasi Materi Lapangan, yang dilaksanakan di Kawasan Karst Menoreh, Purworejo, Jawa Tengah selama 3 hari (tanggal 16-19 April 2009). Tempat menginap di lapangan (base camp) berada di rumah Mbah Cokro yang terletak di RT 3, Dusun Katerban, Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Disana mereka belajar mengenai Interpretasi Peta Topografi Untuk Kegiatan Speleologi, Cave Rescue Dasar, Karstologi, Geomorfologi Karst, Hidrologi dan Speleogenesis, Teknik Penelusuran Gua Horizontal, Teknik Penelusuran Gua Vertikal, Fotografi Gua, & Pemetaan Gua. Materi yang dilapangan merupaksan aplikasi dari yang didapat selama materi ruang.

Pada materi Karstologi, Geomorfologi Karst & Interpretasi Peta Topografi Untuk Kegiatan Speleologi, peserta diajak jalan-jalan menelusuri kawasan karst Menoreh. Mereka disuruh mengamati morfologi karst yang membentang luas dan sedikit penjelasan dari teman-teman ASC membantu memahami mengenai hal tersebut. Setiap peserta diberi 1 lembar peta topografi untuk kepentingan intepretasi. Rangkaian kegiatan ini dinamakan kuliah lapangan.

Selesai dari kuliah lapangan, peserta dipersilakan ibadah Sholat Jum’at. Dan dilanjutkan dengan simulasi Cave Rescue Dasar. Pada simulasi ini peserta mengaplikasikan teknik hauling dan lowering. Dimulai dari mengangkat korban dengan pembagian beban 1/1, 1/3 dan 1/9 kemudian melewatkan sambungan tali ke hauling set. Seluruh peserta mencoba teknik ini satupersatu.

Hari berikutnya peserta diajak masuk gua. Mereka belajar tentang Hidrologi dan Speleogenesis, Teknik Penelusuran Gua Horizontal, Teknik Penelusuran Gua Vertikal, Fotografi Gua, & Pemetaan Gua. Dalam materi ini peserta diharuskan memasuki dua gua, yakni gua Nguwik (horizontal) dan gua Sibodag (vertikal). Di gua Nguwik peserta mencoba memetakan gua dengan grade 5b BCRA. Satu-persatu mencoba menjadi Sutter, Descriptor, dan Stasioner. Dan tentujuga belajar mengaplikaskan teknik penelusuran gua horizontal.

Di gua Sibodag (vertikal) peserta diharuskan melintasi lintasan vertikal dengan menggunakan SRT (Single Rope Technique). Sampai dalam gua, mereka mencoba fotografi gua. Hampir semua peserta sudah mencoba fotografi gua. Mereka sangat antusias dalam memotret.
Pada hari terakhir, setiap peserta diharuskan menggambar peta gua. Data survey gua Nguwik yang kemarin dipetakan, diolah secara manual menggunakan kalkulator. Setelah mendapat titik koordinat centerlinenya, mereka memplotkan ke millimeter blok, dan kemudian digambar.

Pukul 15.00 WIB acara penutupan diklat dimulai. Sambutan Akhmad Zona selaku ketua panitia DIKLAT 13 ASC mengawali acara penutupan, dilanjutkan sambutan ketua ASC, mbah Cokro (tuan rumah), dan pesan dan kesan dari seluruh peserta-panitia. Penyerahan sertifikat oleh Ketua ASC secara simbolis kepada perwakilan peserta mengakhiri acara penutupan DIKLAT 13 ASC.

Sesampai di Yogyakarta, khusus bagi peserta dari luar kota ada tambahan materi selama 3 hari, yakni: pengolahaan peta gua menggunakan software & self rescue. Hari pertama mereka belajar mengolah peta menggunakan software survex dan corel draw. Dua hari berikutnya mereka belajar teknik self rescue, beberapa teknik yang dipelajari: Italyan Pulley, Z-rig, Yossemite, dan Counter Balance.
Latihan diadakan di Jembatan Babarsari.

SPELEOLOGI, MORE THAN CAVING

oleh :
Akhmad Zona Adiardi
(pers rellease untuk Bulletin KAONAK Edisi-54, Media Informasi Independen GAPADRI Mapala STTNas Yogyakarta)

READ MORE ...

Selasa, 26 Mei 2009

Sekilas Tentang Navigasi Darat

Pengetahuan umum tentang kegiatan petualangan merupakan hal yang mutlak dimiliki oleh para penggemar kegiatan alam bebas. Salah satunya adalah pengetahuan dalam membaca peta dan kompas, atau yang lebih dikenal dengan ilmu navigasi darat. Dalam blog ini saya akan sedikit membagi pengetahuan dasar seputar navigasi darat secara umum untuk para petualang dan penggiat alam bebas (petualangan).

Navigasi darat adalah ilmu yang dapat dikatakan ilmu praktis. Karena kemampuan bernavigasi seseorang dapat terasah keterampilannya jika sering berlatih. Peta adalah gambaran konvensional dari permukaan bumi yang diperkecil seperti kenampakan yang sebenarnya dengan skala tertentu, dan digambar diatas bidang datar melalui system proyeksi, serta ditambah tulisan – tulisan sebagai pengenal. Sebuah peta dapat menyajikan informasi yang diungkapkan melalui bentuk simbol dan tulisan yang disebut legenda peta.

Peta sendiri ada bermacam – macam yang beberapa diantaranya antara lain : Peta Geografi, peta ini adalah peta yang menyajikan proyeksi dari deluruh permukaan fisik bumi seperti yang kita lihat pada atlas dan globe. Peta Strategi adalah peta yang memberikan hal – hal yang biasanya diperlukan dalam operasi – operasi militer. Peta Tematik adalah peta yang memberikan gambaran atau informasi yang mempumyai tema tertentu seperti pada peta tanah atau peta geologi, dan yang terakhir adalah peta Topografi yang menyajikan penyebaran, bentuk, dan ukuran bumi seperti relief, beda tinggi rendah suatu daerah, bentuk bukit dan lembah. Peta topografi inilah yang kita sering gunakan dalam berkegiatan di alam bebas.

Pertama kali menghadapi peta hal yang perlu kita perhatikan adalah garis vertikal dan horizontal karena garis ini membantu menentukan letak sebuah titik di peta ( titik koordinat ). Sementara itu beberapa unsur yang bisa dilihat di dalam peta adalah judul peta yang biasanya terdapat di atas dan menunjukkan letak peta. Nomor peta bisa dijadikan sebagai nomor registrasi dari badan atau instansi yang membuat peta atau bisa juga kita gunakan sebagai petunjuk jika kelak kita akan mencari sebuah peta.

Koordinat peta adalah kedudukan suatu titik pada peta yang secara teori koordinat merupakan titik pertemuan antara absis dan ordinat. Koordinat sendiri ditentukan dengan menggunakan system sumbu yaitu perpotongan antara garis – garis yang tegak lurus antara satu sama lain. Sistem koordinat yang resmi dipakai ada dua macam yaitu koordinat geografis ( Geographical coordinate ) dan koordinat Grid ( Grid Coordinate atau UTM ).

Dalam koordinat geografis sumbu yang digunakan adalah garis bujur ( bujur barat dan bujur timur ) yang tegak lurus dengan garis khatulistiwa dan garis lintang ( garis lintang utara dan lintang selatan ) yang sejajar dengan garis khatulistiwa. Koordinat geografis dinyatakan dalam satuan derajat, menit dan detik. Pada instansi seperti Bakosurtanal biasanya menggunakan koordinat geografis sebagai koordinat utama. Pada peta geografis ini satu kotak ( atau sering disebut satu karvak ) lebarnya adalah 3,7 Cm. Jika pada skala 1 : 25.000, satu karvak akan sama dengan 30 detik ( 30“ ), dan pada peta skala 1 : 50.000, satu karvak sama dengan 1 menit ( 60“ ).

Sedangkan dalam koordinat Grid, kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak seiap titik yang kita jadikan sebagai acuan. Untuk wilayah Indonesia titik acuan berada di sebelah barata Jakarta ( 60º LU dan 980º BT yang biasa disebut Batavia datum ). Garis vertical diberi nomor urut dari selatan ke utara, sedangkan horizontal dari barat ke timur atau untuk lebih mudah mngingatnya kita bisa menggunakan KIKA BATA ( kiri kanan, bawah atas ). Sistem koordinat sendiri mengenal penomoran 4 angka, 6 angka dan 8 angka. Pada peta AMS, biasanya menggunakan koordinat Grid. Satu karvak sebanding dengan 2 Cm. Karena itu untuk penentuan koordinat Grid 4 angka, dapat langsung ditentukan. Penentuan koordinat Grid 6 angka, satu karvak dibagi terlebih dahulu menjadi 10 bagian ( per 2 mm ). Sedangkan penentuan koordinat Grid 8 angka satu karvak akan dibagi menjadi sepuluh bagian ( per 1 mm ).

Kompas adalah alat penunjuk arah yang karena sifat magnetnya jarumnya akan selalu menunjuk arah utara selatan namun utara yang ditunjuk bukan utara yang sebenarnya melainkan utara magnetis. Secara fisik kompas terdiri dari Badan kompas yaitu tempat dimana komponen lainnya berada. Jarum, jarum akan selalu menunjuk arah utara selatan dengan catatan kompas tersebut tidak berada dekat dengan magnet lain atau tidak dipengaruhi medan magnet, dan pergerakan jarum tidak terganggu ( kompas dalam posisi horizontal ). Skala penunjuk, merupakan pembagian derajat system mata angin.
Jenis kompas yang biasa digunakan dalam navigasi darat ada dua macam yakni kompas bidik ( misalnya kompas prisma ) dan kompas orienteering ( misalnya kompas silva, sunto dll ). Untuk membidik suatu titik, kompas bidik jika digunakan secara benar akan lebih akurat dari pada kompas silva. Namun, untuk pergerakan dan kemudahan ploting peta, kompas orienteering akan lebih handal dan efisien. Dalam memilih kompas sendiri kita harus brpikir berdasarkan penggunaannya. Namun secara umum, kompas yang baik adalah kompas yang jarumya dapat menunjukkan arah utara secara konsisten dan tidak bergoyang – goyang dalam waktu lama. Bahan dari badan kompas pun perlu diperhatikan karena bahan dari badan kompas harus kuat / tahan banting mengingat kompas merupakan salah satu unsur vital dalam navigasi darat.

-dari berbagai sumber-
Segala informasi menjadi wajib kita ketahui
Semoga Bermanfaat
READ MORE ...

Senin, 25 Mei 2009

Misteri Kehidupan (Versi Aku)

Ada kalanya kita terperanjat mengalami suatu nasib buruk, namun kita berusaha tegar untuk melewatinya. Terkadang pula kita kaget ketika mendapati nasib bagus....wah...serasa seisi dunia milik kita...Perasaan demi perasaan tersebut selalu berpangkal pada faktor keberuntungan...kita tidak tau apakah 1 detik ke depan kita akan sehat, selamat, atau kita malah mendapat celaka??? Ada yang tau???Ada jg yang mengatakan ini sebuah takdir, sesuatu yang telah di gariskan sang pencipta....hmmm....sebarapa jauh kita mendalami iman kita????

Hidup merupakan suatu proses, sesuatu dinamika yang kompleks...sesuatu yang bisa diprediksi, namun sesuatu yang belum tentu pasti....sesuatu yang menjadi hambatan untuk selalu berfikir dan berfikir.....Apa yang harus kita perbuat??? Apa yang akan kita lakukan?? Semua tergantung dari kita.... Susah senang hidup ini kita sendiri yang merasakan, tinggal bagaimana kita menempatkan diri saja...kita selalu berharap keberuntungan akan selalu berada dalam rangkaian nasib kita...namun apakah itu selalu terjadi..??Mey....meybe yes..meybe no...

So, menjalani hidup yang penuh tantangan, orang bilang sang petualang mengalami masa perjalan hidup yang kompleks??? Wow...indikatornya apa??? Ada juga yang mnegatakan seorang penulis buku lebih kompleks...hmm...sisi lain....mungkin juga seorang hacker jaringan merasakan lebih yang dirasakan oleh sang petualang maupun penulis buku...??? Sooo....apa yang harus kita perbuat???Mengisi hidup dengan aktivitas masing2...sendiri, berdua, bertiga, berkelompok...bahkan 1 kampung...memberikan suatu wawasan baru, pengalaman baru...bayangkan jika kita seharian hanya berada di atas tempat tidur...apa yang akan kita rasakan??? So...semua ada pada diri kita masing2, kita punya cara yang berbeda untuk menjalani hidup ini...kita punya sesuatu yang berbeda untuk mengisi nya...

KAU ADALAH APA YANG KAU FIKIRKAN....
Berbagi waktu dengan sang alam, kau akan tau siapa dirimu yang sebenarnya...

regards,
Yohanes Kurnia Irawan
(suatu malam ketika aku menyadari banyak misteri kehidupan, namun belum 1 pun yang terpecahkan....)

READ MORE ...

Minggu, 24 Mei 2009

Gunung Merbabu Jalur Kopeng

Gunung Merbabu terletak di jawa tengah dengan ketinggian 3.142M dpl pada puncak Kenteng Songo. Gunung Merbabu berasal dari kata "meru" yang berarti gunung dan "babu" yang berarti wanita. Gunung ini dikenal sebagai gunung tidur meskipun sebenarnya memiliki 5 buah kawah: kawah Condrodimuko, kawah Kombang, Kendang, Rebab, dan kawah Sambernyowo.


Terdapat 2 buah puncak yakni puncak Syarif (3119m) dan puncak Kenteng Songo (3142m). Puncak Gn.Merbabu dapat ditempuh dari Cunthel, Thekelan, (Kopeng / Salatiga) Wekas (Kaponan / Magelang) atau dari selo (Boyolali). Perjalanan akan sangat menarik bila Anda berangkat dari jalur Utara (Wekas, Cunthel, Thekelan) turun kembali lewat jalur selatan (Selo).
Banyak terdapat gunung disekitar gunung Merbabu, diantaranya Gn. Merapi, Gn.Telomoyo, Gn.Ungaran. Gunung Merbabu ini membentuk garis deretan gunung berapi ke arah utara Merapi - Merbabu - Telomoyo - Ungaran.

JALUR KOPENG THEKELAN - SELO
Dari Jakarta bisa naik kereta api atau bus ke Semarang, Yogya, atau Solo. Dilanjutkan dengan bus jurusan Solo-Semarang turun di kota Salatiga, dilanjutkan dengan bus kecil ke Kopeng. Dari Yogya naik bus ke Magelang, dilanjutkan dengan bus kecil ke Kopeng. Dari kopeng terdapat banyak jalur menuju ke Puncak, namun lebih baik melewati desa tekelan karena terdapat Pos yang dapat memberikan informasi maupun berbagai bantuan yang diperlukan. Pos Tekelan dapat ditempuh melalui bumi perkemahan Umbul Songo.
Di bumi perkemahan Umbul Songo Anda dapat beristirahat menunggu malam tiba, karena pendakian akan lebih baik dilakukan malam hari tiba dipuncak menjelang matahari terbit. Andapun dapat beristirahat di Pos Thekelan yang menyediakan tempat untuk tidur, terutama bila tidak membawa tenda. Dapat juga berkemah di Pos Pending karena di tiga tempat ini kita bisa memperoleh air bersih.
Perjalanan dari Pos Tekelan yang berada ditengah perkampungan penduduk, dimulai dengan melewati kebun penduduk dan hutan pinus. Dari sini kita dapat menyaksikan pemandangan yang sangat indah ke arah gunung Telomoyo dan Rawa Pening.
Di Pos Pending kita dapat menemukan mata air, juga kita akan menemukan sungai kecil (Kali Sowo). Sebelum mencapai Pos I kita akan melewati Pereng Putih kita harus berhati-hati karena sangat terjal. Kemudian kita melewati sungai kering, dari sini pemandangan sangat indah ke bawah melihat kota Salatiga terutama di malam hari.
Dari Pos I kita akan melewati hutan campuran menuju Pos II, menuju Pos III jalur mulai terbuka dan jalan mulai menanjak curam. Kita mendaki gunung Pertapan, hempasan angin yang kencang sangat terasa, apalagi berada di tempat terbuka. Kita dapat berlindung di Watu Gubug, sebuah batu berlobang yang dapat dimasuki 5 orang.
Watu Gubug konon merupakan pintu gerbang menuju kerajaan makhluk ghaib. Bila ada badai sebaiknya tidak melanjutkan perjalanan karena sangat berbahaya. Mendekati pos empat kita mendaki Gn. Watu tulis jalur agak curam dan banyak pasir maupun kerikil kecil sehingga licin, angin kencang membawa debu dan pasir sehingga harus siap menutup mata bila ada angin kencang. Pos IV yang berada di puncak Gn. Watu Tulis dengan ketinggian mencapai 2.896 mdpl ini, disebut juga Pos Pemancar karena di puncaknya terdapat sebuah Pemancar Radio.
Menuju Pos V jalur menurun, pos ini dikelilingi bukit dan tebing yang indah. Kita dapat turun menuju kawah Condrodimuko. Dan disini terdapat mata air, bedakan antara air minum dan air belerang.
Perjalanan dilanjutkan dengan melewati tanjakan yang sangat terjal serta jurang disisi kiri dan kanannya. Tanjakan ini dinamakan Jembatan Setan. Kemudian kita akan sampai di persimpangan, ke kiri menuju Puncak Syarif (Gunung Pregodalem) dan ke kanan menuju puncak Kenteng Songo ( Gunung Kenteng Songo) yang memanjang.
Dari puncak Kenteng songo kita dapat memandang Gn.Merapi dengan puncaknya yang mengepulkan asap setiap saat, nampak dekat sekali. Ke arah barat tampak Gn.Sumbing dan Sundoro yang kelihatan sangat jelas dan indah, seolah-olah menantang untuk di daki. Lebih dekat lagi tampak Gn.Telomoyo dan Gn.Ungaran. Dari kejauhan ke arah timur tampak Gn.Lawu dengan puncaknya yang memanjang.
Menuju Puncak Kenteng Songo ini jalurnya sangat berbahaya, selain sempit hanya berkisar 1 meter lebarnya dengan sisi kiri kanan jurang bebatuan tanpa pohon, juga angin sangat kencang siap mendorong kita setiap saat. Di puncak ini terdapat batu kenteng / lumpang / berlubang dengan jumlah 9 menurut penglihatan paranormal.
Menuruni gunung Merbabu lewat jalur menuju Selo menjadi pilihan yang menarik. Kita akan melewati padang rumput dan hutan edelweis, juga bukit-bukit berbunga yang sangat indah dan menyenangkan seperti di film India yang sangat menghibur kita sehingga lupa akan segala kelelahan, kedinginan dan rasa lapar. Di sepanjang jalan kita dapat menyaksikan Gn. Merapi yang kelihatan sangat dekat dengan puncak yang selalu mengeluarkan Asap.
Kita akan menuruni dan mendaki beberapa gunung kecil yang dilapisi rumput hijau tanpa pepohonan untuk berlindung dari hempasan angin. Disepanjang jalur tidak terdapat mata air dan pos peristirahatan. Kabut dan badai sering muncul dengan tiba-tiba, sehingga sangat berbahaya untuk mendirikan tenda.
Jalur menuju Selo ini sangat banyak dan tidak ada rambu penunjuk jalan, sehingga sangat membingungkan pendaki. Banyak jalur yang sering dilalui penduduk untuk mencari rumput dipuncak gunung, sehingga pendaki akan sampai diperkampungan penduduk. Sambutan yang sangat ramah dan meriah diberikan oleh penduduk Selo bagi setiap pendaki yang baru saja turun Gn.Merbabu. Apabila Anda tidak bisa berbahasa jawa ucapkan saja terima kasih. (Sumber : Merbabu.com)
READ MORE ...

Pra Pelaksanaan Ekspedisi

Pendahuluan tentang ekspedisi
1. Informasi
Pada pencarian informasi ini ialah informasi lengkap tentang lokasi yang akan di jadikan tempat dilakukannnya ekspedisi. Pencarian informasi diantaranya melalui studi literatur terhadap buku-buku petualangan ataupun laporan-laporan penelitian suatu daerah yang mungkin berpotensi untuk di jadikan obyek ekspedisi. Pencarian informasi dan wawancara kepada organisasi-organisasi pecinta alam baik di daerah sendiri maupun organisasi pecinta alam di sekitar lokasi kegiatan dan sebagainya. Dalam pencarian informasi ke Instansi pemerintah ini mungkin mempunyai nilai jual terhadap hasil Ekspedisi kita berupa laporan penelitian. (kalau bertujuan untuk pengembangan daerah dan melakukan penelitian) atau bila di mungkinkan lokasi kegiatan merupakan zona larangan bagi masyarakat umum. Dalam hal ini, pencarian tidak terbatas pada data lokasi, tetapi perlu juga informasi tentang karakteristik masyarakat meliputi sosial dan budaya.Informasi yang perlu disini ialah :
a. Basecamp terdekat
b. Konsumsi
c. Komunikasi
d. Transportasi
e. Dan informasi perkiraan biaya yang akan dikeluarkan
f. Informasi tentang pusat-pusat kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit yang terdekat.

2. Pembentukan kepanitiaan
Sudah sewajarnya bahwa suatu kegiatan besar pasti akan memerlukan sumberdaya yang besar pula, begitu juga halnya dengan suatu kegiatan ekspedisi praktis akan membutuhkan sumber daya manusia sebgai elemen-elemen pendukung dalam kegiatan ini yang tergabung dalam sutu kepanitiaan. Berhasil atau tidaknya suatu ekspedisi termasuk juga pengaruh dari suatu kepanitiaan. Maka dari itu dalam hal rekruitmen orang-orang yang akan di dudukkan dalam kepanitiaan haruslah sadar dan mengerti benar akan tugas dan kewajibannya serta mengerti apa tujuan di adakannya ekspedisi itu. Banyak kegiatan yang tidak mencapai target yang diharapkan akibat kepanitiaan yang tidak berjalan dengan semestinya, dan untuk kelancaran kepaniataan tersebut sebaiknyalah ketua penitia melalui pendekatan-pendekatan pribadi terlebih dahulu kepada orang yang akan mengemban tugas yang akan diberikan dan dalam hal ini juga ketua panitia harus mempunyai kemampuan dalam mempengaruhi anggotanya.

3. Pembuatan proposal
Proposal adalah rencana kegiatan yang menggambarkan proses dan tahapan suatu kegiatan dalam bentuk perencanaan yang menyeluruh. Perencanaan disini menggambarkan apa bentuk kegiatan, nama kegiatan, kapan kegiatan berlangsung, dan siapa yang mengadakan kegiatan. Jadi secara konkrit bahwa proposal adalah rencana kerja yang disusun secara sistematik dan terinci untuk suatu kegiatan yang bersifat format.
Dalam hal ini proposal terbagi tiga, yaitu :
a. Proyek Proposal.
Adalah yang menggambarkan rangkaian kegiatan secara menyeluruh, artinya proposal ini meyakinkan pembaca akan kegiatan yang akan dilakukan, yang berkegunaan untuk kepentingan administrasi, perizinan, publikasi, perencanaan dan sebagainya yang bersifat administratif.
b. Proposal kontraprestasi sponsor
Proposal yang menggambarkan kepada perusahaan sponsor kegiatan yang akan dilakukan sehingga perusahaan sponsor yakin akan kegiatan kita. Dimana perusahaan sponsor tersebut mendapatkan kontraprestasi atau imbal balik dari kegiatan yang akan dilaksanakan. Sebagai contoh dalam ekspedisi penelusuran gua, nama atau produk perusahaan yang menjadi sponsor akan menjadi label atau logo pada baju atlit, topi atau spanduk rentang.
c. Proposal penelitian
Proposal penelitian ini ditujukan ke Instansi Pemerintah seperti KSDA dan Instansi yang mungkin berterkaitan dengan kegiatan yang akan dilakukan, seperti Dinas pertambangan dan Energi yang mempunyai nilai jual terhadap hasil ekspedisi. Seperti proposal penelitian kualitas air yang nantinya hasil dari penelitian tersebut mungkin mendapat respon dari Dinas pertambangan dan Energi yang pada akhirnya nanti kalau memang debit air yang terdapat pada aliran sungai bawah tanah mencukupi standart untuk di jadikan pembangkit tenaga listrik, maka akan sangat berguna bagi masyarakat sekitar, karena susahnya mendapatkan air di kawasan karst. Sebaiknya pula sebelum menawarkan sutu proposal kepada satu perusahaan atau instansi yang akan dimasukkan proposal harus melalui pendekatan-pendekatan terlebih dahulu kepada pihak perusahaan atau instansi.

4. Presentasi awal
Tentunya setiap orang atau organisasi tidak menginginkan pekerjaan yang tanpa hasil, maka dari itu sebelum melangkah lebih jauh sebaiknya dilakukan terlebih dahulu pemberitahuan kelayakan kegiatan yang akan dilakukan dalam bentuk presentasi awal kepada anggota dan kepada pihak-pihak yang berpotensi menjadi sponsor penyandang dana ekspedisi.

5. Publikasi
Dalam pendaan ekspedisi publikasi ekspedisi sangatlah penting dilakukan sebagai sarana untuk menyebarluaskan/menginformasikan kegiatan yang akan, sedang, dan telah kita lakkan dan memberikan informasi kepada mereka yang terlibat atau mendukung ekspedisi terbut, ini akan membawa dampak yang sangat baik terhadap nilai ekspedisi juga bisa menaikkan negosiasi kepada pihak sponsor. Sementara dilihat dari sasarannya, publikasi dapat dikelompokkan dalam dua bagian :
a. Intern/ Kelompok dalam
Pada kelompok ini termasuk didalamnya adalah organisasi yang bersangkutan, Universitas/Sekolah/ Lembaga yang menaunginya, keluarga peserta ekspedisi.
b. Ekstern/ Kelompok luar
Sementara pada elompok ini terdapat masyarakat/ Organisasi lain yang berhubungan/ Sejenis/ Berterkaitan. Misalnya Sponsor, Kelompok pecinta alam lain, Lembaga Swadaya Masyarakat lain, dsb.
Sedangkan untuk sarana publikasi yang dapat digunakan, saat ini sudah banyak dan beragam, dimana sarana informsi massa berkembang dengan pesatnya. Seperti Majalah, Surat kabar, Stasiun Televisi, Media Internet dan lain-lain. Dan sarana publikasi lain seperti Spanduk, Poster, Baliho, umbul-umbul, serta yang sangat sering dilakukan ialah presentasi atau laporan person to person.

6. Pembuatan rencana kegiatan
Ada orang bilang bahwa 50 % keberhasilan suatu kegiatan ditentukan oleh pekerjaan diatas meja/ paper work. Memang pasti membosankan, tapi sebaiknya dikerjakan, melihat besarnya kemungkinan keberhasilan yang bisa didapat dari kegiatan tersebut.
Dalam pembuatan ROP kita harus mengetahui Jenis kegiatan apa yang akan dilakukan. Semua kegiatan alam terbuka yang kita lakukan haruslah terfokus, artinya kita mengetahui apa yang akan kita lakukan. Selain itu lokasi yang dituju haruslah kita kenali dahulu, meskipun itu hanya berdasarkan informasi. Manfaatkan semua akses dan fasilitas informasi semaksimal mungkin. bisa diumpamakan sebelum kita kesana kita sudah merasa disana.
Dalam menuju suatu kegiatan sangat perlu pengadaan target –target kapan selesainya perencanaan, kapan pelaksanaan. Dalam hal ini pembuatan rencana operasi perjalanan atau renca kegiatan sangat perlu di adakan dalam bentuk time schedule, dan skenario-skenario operasi.
Dalam penyusunan rop kita tidak hanya terpaku pada informasi informasi yang didapatkan di sekitar daerah kita, alangkah baikanya penyusunan rop berdasarkan hasil dari team survey, agar sesuai dengan konsisi real nya di lapangan.

7. Pengurusan perijinan
Setelah ditentukannya tempat berkegiatan, maka untuk melegalkan suatu kegiatan yang kita lakukan perlulah kiranya mengurus suatu perijinan ke Instansi yang berwenang di daerah tempat berkegiatan atau pihak-pihak kepolisian setempat.

8. Pencarian dana
Usaha dana adalah suatu kegiatan yang mengolah, mengkoordinir, mengkontribusikan dan mengusahakan serta bertanggung jawab dalam pengadaan dana yang diperlukan dalam anggaran serta waktu yang ditentukan oleh target kepanitiaan demi terlaksananya kegiatan.
Pengetahuan tentang usaha dana memang jarang dipelajari dalam suatu Organisasi pecinta alam, namun itu terbentuk dengan sendirinya dimana kita diharuskan untuk mencari dana dalam suatu kegiatan besar atsupun kecil.Dalam melakukan suatu kegiatan pendanaan/ Usaha dana kita harus mengetahui beberapa macam bentuk usaha dana yang cukup berpeluang besar untuk saat itu dan perlu kreatifitas untuk panitia itu sendiri. Usaha dana ini dapat di klasifikasikan menjadi dua yaitu penggalian dana ke pihak internal, misalnya pengadaan bazar, pameran, penjualan parsel dan even-even tertentu dan sebagainya.Sdangkan penggalian dana eksternal seperti sponsor, donatur, pihak-pihak terkait.

8. Komunikasi dan transportasi
a. Komunikasi
Dalam pengelolaan suatu ekspedisi yang tak kalah pentingnya ialah pengaturan jaringan informasi lapangan, seperti menjalin hubungan dengan Instansi seperti RAPI,ORARI dan organisasi organisasi pencinta alam yang berada pada sekitar lokasi, nantinya ini akan mempermudah dalam sistem penanganan alur komunikasi lapangan sehingga didapatnya informasi lapangan yang valid, aktual, aman cepat dan murah. Dan dalam ekspedisi penelusuran gua ini perlu ada kesepakatan tentang komunikasi yang akan di pakai di lapangan pada saat pemanjatan, sebagai contoh akan menggunakan kode-kode tertentu seperti menggoyangkan tali apabila atlit membutuhkan bantuan.
b.Transportasi
Komunikasi dan transportasi erat kaitannya, karena sama-sama berfungsi sebagai penghubung. dan transportasi ini juga bisa sebagai media untuk komunikasi, tetapi dalam rencana pengaturan fungsi di lapangan, nantinya lebih pada arus pengangkutan personil dan logistik. Jadi dalam pengaturan transportasi harus se-efisien dan efektif mungkin mulai dari pemberangkatan atlit, pada saat di lapangan sampai dengan selesainya kegiatan.

10. Survey
Seperti kegiatan alam bebas yang lain, kegiatan panajt tebing juga merupakan kegiatan yang beresiko tinggi dimana kesalahan kecilpun yang kita buat bukan tidak mungkin nyawa akan menjadi taruhannya. Dimana segala keterampilan yang sudah dipersiapkan secara matangpun akan berantakan dan dalam sekejap mata kegiatan yang menyenangkan ini bisa berubah menjadi malapetaka. Makna dari kegiatan alam bebas ialah usaha untuk mensiasati kekuatan alam (bukan menaklukkan) menjadikannya sebagai kegiatan yang menyenangkan, namun sekali lagi ternyata alam memiliki kekuatan yang dahsyat yang bisa berubah seketika tanpa disadari oleh para penelusur ini sehingga melampaui batas kemampuan yang dimiliki.
Karena adanya ketidakpastian di alam yang selalu berubah-ubah, satu cara yang baik dan sangat di anjurkan ialah dengan mengadakan survey ke lokasi, Dalam survey ini akan berterkaitan nantinya dengan :
- Basecamp
- Konsumsi
- Komunikasi
- Transportasi
- Dan jalur Emergency apabila terjadi kecelakaan di lapangan
- Dan hal hal penunjang kegiatan lainnya
Dalam hal survey, sebagai contoh dalam ekspedisi pemanjatan selain tim survey mensurvey hal-hal diatas,Tim survey juga harus memastikan ketinggian tebing, jarak tebing dari pemukiman penduduk, jalur yang akan digunakan yang berbentuk sketsa jalur atau meenggunakan kamera, meliputi berapakah pitchnya, karakteristik batuaannya,.cacat batuan,bentuk muka tebing, kemiringan muka tebing, yang nanti larinya ke manjemen peralatan, danjuga harus dilaihat dari segi teknis untuk pemanjatannya nanti
Hal ini dilakukan untuk nantinya mempermudah para atlit dalam memprediksi jalur yang akan di buat sebelum ke lapangan

11. Emergency plan
Banyak juga para penggiat Alam bebas yang kurang memperhatikan prosedur-prosedur darurat yang mesti dilakukan pada saat ada kecelakaan di lapangan.
Bagan rencana jalur emergency di atas menunjukkan bahwa apabila terjadi kecelakaan dilapangan atlit maupun tim pendukung harus melakukan pertolongan pertama sebelum korban dibawa ke base camp, kemudian ke base camp bila memang masih sanggup melakukan pertolongan, setelah itu di bawa ke Puskesmas, apabila penangan pada tingkat kecamatan ini tidak sanggup maka harus di bawa ke Rumah Saki Umum Daerah, dan apabila memang masih membutuhkan perwatan yang lebih intensif maka di bawa ke Rumah Sakit untuk tingkat Propinsi.

12. Tim pendukung
Sudah sewajarnyalah bahwa setiap kegiatan, satu tim yang sangat di perlukan untuk kelancaran kegiatan ialah tim pendukug. Tim pendukung ialah orang-orang yang pada opersionalnya di lapangan memegang peranan dalam hal dukungan atau tenaga yang selalu siap bila diperlukan, tim pendukung ini harus di bentuk mengingat akan sangat sulitnya bila segala keseluruhan aktifitas di lapangan selalu di kerjakan oleh atlit. Tim pendukung juga bukan sebatas dari kepanitiaan saja , tetapi penduduk sekitar lokasi juga dalam hal ini yang siap membantu pada saat di butuhkan juga merupakan bagian daari tim pendukung

-dari berbagai sumber-
semoga bermanfaat
READ MORE ...

Sabtu, 23 Mei 2009

Sistematika Pengelolaan Ekspedisi

Pengelompokan jenis ekspedisi serta proses perencanaan yang matang dapat dilihat dalam proses perencanaan dan persiapan itu sendiri. Hal ini berkaitan dengan hirarki kegiatan yang akan kita laksanakan. Pada prinsipnya, sistematika pengelolaan ekspedisi itu sama, baik yang bersifat teknis yaitu yang berhubungan langsung dengan atlit dan non teknis yaitu kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan atlit atau peserta ekspedisi



Dalam pelaksanaan suatu ekspedisi, ada tiga tahapan yang harus dilalui yaitu :

1. Pra pelaksanaan

Pra pelaksanaan adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan sebelum kegiatan ekspedisi berjalan, yaitu kegiatan kepanitiaan ekspedisi untuk mendukung terlaksananya ekspedisi. Kegiatan ini meliputi pembentukan panitia, pencarian data, penentuan lokasi kegiatan, survey lokasi, pembuatan anggaran biaya, pencarian sponsorship, publikasi sampai pada persiapan atlet.

2. Pelaksanaan

Saat pelaksanaan adalah hal-hal yang dilakukan pada saat atlit berada di lapangan untuk menjalankan rencana-rencana kegiatan dan pencapaian target ekspedisi.

3. Pasca pelaksanaan

Pasca pelaksanaan adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan setelah semua kegiatan di lapangan selesai, seperti laporan kegiatan, evaluasi dan presentasi.



Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam perencanaan suatu ekspedisi meliputi :

1. Tujuan ekspedisi

yaitu sesuatu yang akan diraih dalam pelaksanaan ekspedisi.

2. Sasaran ekspedisi

sasaran akan memberikan warna tersendiri yang lebih spesifik pada ekspedisi yang akan dilaksanakan. Dengan target yang sudah ditentukan akan lebih meningkatkan kualitas ekspedisi tersebut.

3. Pra lapangan/pelaksanaan (survey)

4. Emergency plan

Perencana kondisi darurat. Karena kegiatan beresiko tinggi sehingga unsure bahaya dan kecelakaan harus diangggap serius, dengan demikian antisipasi keadaan darurat harus dipersiapkan sejak dini.

5. Pengelolaan operasi

Gambaran opersional ekspedisi atau dapat juga dibuat terencana operasional.



Ada tiga rangkaian besar pelaksanaan ekspedisi yang harus dilakukan agar terciptanya suatu system pengelolaan yang baik agar ekspedisi dapat berjalan sesuai dengan rencana dan tujuan yang diharapkan dapat tercapai, yaitu pada masa pra, pelaksanaan dan pasca pelaksanaan.



-dari berbagai sumber-


READ MORE ...