Selasa, 16 Juni 2009

Pendakian Kedua yang Gagal Mencapai Puncak Mahameru (3.676 M DPL) dan Melawan Jemputan Maut di Kalimati (3.210 MDPL)

Apa hendak dikata, mungkin belum waktunya aku mencapai Puncak tertinggi di Pulau Jawa, gunung yang menjadi impian para pendaki untuk bisa mencapainya (apa iya...???). Petualangan pendakian kali ini cukup berat rintangannya, bukan hanya fisik terkuras habis, namun aku juga melewati masa-masa kritis hampir kehabisan nafas karena terserang Gejala Hipoksia di Pondok Kalimati (3.210 Mdpl). Saya ingin sedikit berbagi cerita ini kepada Sahabat Petualang untuk dapat bersama-sama Sharing tentang perjalan ini. Berikut adalah catatan perjalana Pendakian Gunung Semeru (3.676 MDPL), tanggal 7-11 Juni 2009. Selamat membaca dan tinggalkan sedikit pesan Sahabat Petualang dan Komentarnya.

Rencana pendakian awalnya tidak ke Semeru, namun lebih ke Timur lagi, yaitu Gunung Rinjani. Namun karena statusnya masih ditutup, akhirnya aku bersama team sepakat untuk pendah haluan menuju Semeru. Kendala lain muncul dari team. Awalnya team yang akan berangkat berjumlah 4 orang, namun mendekati hari-H, 2 orang anggota team mengundurkan diri dengan alasan masing-masing. Apa hendak dikata, aku tak kuasa memaksa mereka, karen sesungguhnya mendaki gunung tidak ada unsur pemaksaan, karen tau akan resiko yang akan di hadapi.

Perjalanan dimulai start dari Jogja hari jumat tanggal 5 Juni, berdua aku dengan Afit (rekan team ku) naik Bus "SK" jurusan Jogja-Surabaya (tarif Rp.38.000,-) pukul 22.35 WIB. Setibanya di Surabaya pukul 05.30 pagi hari Sabtu tanggal 6 Juni, aku langsung mencari angkutan menuju Malang. Dengan menggunakan Patas AC (tarif Rp. 15.000,-). Tiba di Malang sekitar pukul 07.30 WIB. Setelah sarapan di terminal Arjosari Malang, aku dan Afit langsung mencari angkutan menuju Tumpang. Oh ya, angkot jurusan Tumpang Arjosari (AT) ini merupakan minibus berwarna putih, dengan tarif Rp.5000,-.

Setibanya di Tumpang aku langsung menuju rumah seorang Sahabat bernama Udin di Tumpang, untuk melepas lelah dan melengkapi perbekalan. Setelah menyantap sate buatan udin, sekitar pukul 15.00 (jam 3 sore), aku dan afit di antar oleh Udin dab temannya menggunakan sepda motor menuju Kantor Perhutani untuk mengurus perijinan pendakian. Setibanya di kantor, Kami mendapat berita yang mencengangkan..!!! Seorang petugas balai mengatakan bahwa gunung Semeru masih ditutup dan belum ada pemberitahuan kapan akan di buka. Kepalang tanggung sudah jauh-jauh perjalanan, akhirnya aku dan afit kembali kerumah Udin. Dirumah kami kemudian mengatur strategi. Alhasil, Udin memberi ide untuk mencoba menelfon balai, berpura-pura dari rombongan dari Jakarta. Ternyata jawaban di telfon sangat mencengangkan..!!!! Ternyata gunung Semeru Telah dibuka untuk Aktivitas Pendakian...!! oh...nasib mujur. akhirnya kami memutuskan untuk menginap di rumah udin, untuk keesokan harinya menuju Ranu Pani.

Pagi-pagi hari minggu tanggal 7 Juni, kami sudah siap (walau agak telat), sekitar pukul 05.15 pagi menuju pasar Tumpang mencari truck pengangkut sayur dan pupuk yang menuju Ranu Pani (tarif Rp.25.000,-). Setibanya di Ranu Pani pukul 08.45 WIB, yang merupakan Entri Point menuju Semeru, kami kembali menghadapi kendala ketika akan mengurus perijinan di posko. Kami diharuskan menggunakan Porter untuk menemani perjalanan kami. Namun karena dana yang terbatas dan sedikit bernegosiasi, akhirnya kami di ijinkan mendaki tanpa Porter menuju jalur Pendakian. Sebelum pendakian, kembali petugas posko mengingatkan jika batas pendakian hanya sampai Kalimati saja, karen status Gunung Semeru yang sudah 3 bulan tidak mengeluarkan letusan (data dari bada Vulkanologi). Sekedar informasi saja, gunung semeru mengeluarkan asap letusan (salvatara) setiap 10-15 menit sekali, dan berbahaya apabila berada dipuncak telalu lama dan melebihi jam 10.00 pagi.

Oke...tanpa berbasa-basi lagi, aku akan memulai petualangan sesungguhnya. Pendakian dimulai pukul 09.30 pagi, melewati Jalur Resmi. Tiba di Pos Shelter pertama, kami sepakat untuk membuat sarapan, akrena perut sudah keroncongan minta diisi. Kemudian pukul 13.00 melanjutkan perjalanan menuju Ranu Kumbolo (Ranu dalam bahasa setempat berarti Danau). Perjalan agak sedikit santai, karen jalur yang ditempuh agak sedikit landai dengan kemiringan tidak lebih dari 10 derajat (bener gak ya...hehehehheee...). Tiba di Ranu Kumbolo pukul 16.46 WIB, langsung mengisi air (karena rencana awal langsung menuju Kalimati). Namun karena kondisi badan sudah mulai lelah dan waktu tempuh menuju Kalimati masih 3 jam lagi, kami pun memutuskan untuk ngecamp (bermalam di Ranu Kumbolo). Dingin menyelimuti malam, ditemani akbut tebal.

Pagi harinya tanggal 8 Juni,pagi hari pertama di gunung, sekitar pukul 07.30 WIB (kebiasaan di gunung hehehehee..) bangun dan mendapati suasana sekitar masih gelap. Ternyata Kabut dengan sangat tebal menyelimuti daerah Ranu Kumbolo, dengan jrak pandang hanya sekitar 3-4 Meter. Aku mulai mempersiapkan peralatan Photography-ku (hanya sebuah kamera Canon EOS 350D beserta lensa kit-nya). Siang harinya setelah sarapan, sekitar pukul 11.30 kami melanjutkan perjalanan menuju Kalimati. Melewati tanjakan cinta dengan kemiringan hampir 45-60 derajat dan jarak tempuh sekitar 150 Meter, membuat kami kewalahan dan beberapa kali harus berhenti kasena kelelahan. Selanjtnya melewati padang Sabana Oro-Oro Ombo sebelum memasuki Cemoro Kandang (hutan Cemara) dan bukit Jambangan, dan disertai hujan yang awalnya gerimis dan kabut yang cukup tebal, kamipun sampai di Kalimati setelah menempuh perjalanan selama 3 jam lebih.

Kami membuat makanan (masak) untuk menghangatkan badan, setelah sebelumnya berganti pakaian karen pakaian sebelumnya basah kuyup. Wowww....bisa bayangkan sendiri gimana rasa dinginnya di ketinggian 3.210 M DPL, dalam keadaan basah kuyup lagi...huaaawaaaaa...!!!! setelahnya kami pun beristirahat dan mendirikan tenda dome didalam pondok untuk mengurangi rasa dingin yang menyelimuti. Malam pun tiba. setelah terbangun jam 23.00 (karen kami sepakat untuk meuju puncak pada malam itu), kami keluar melihat cuaca. Dan ternyata cerah. Namun karena rasa kantuk dan kelelahan yang mendera, serta hangatnya Sleeping Bag dan selimut yang menggiurkan, kami pun sepakat untuk membatalkan pendakian ke pucak pada malam itu, dan melanjutkan tidur.

Pagi kembali datang, pada hari selasa tanggal 9 Juni. Jam 8 pagi kami bangun dan melihat keadaan sekitar yang ternyata sangat Gelap diselimuti oleh Kabut tebal. Untunglah bagi kami karena tidak melanjutkan perjalanan tadi malam, karena Nyawa kami bisa terancam dengan kondisi Kabut tebal jika turun dari puncak. Seharian tak ada sinar matahari menyelimuti. Sepanjang hari di Kalimati diselimuti oleh Kabut tebal. Dalam benakku aku berfikir (apakah ini pertanda dari Alam....???) yah, sebuah pemikiran untuk membuat suatu keputusan. hingga malam hari baru cuaca cerah, sekitar jam 8 malam, cahaya bulan dan bintang menemani suasana Kalimati di Malam hari. Kami pun kemudian mengatur strategi untuk persiapan keberangkatan ke Puncak pada tengah malam. Sekedar Informasi, untuk meuju Puncak Mahameru disarankan untuk mendaki pada Malam Hari, karena kita tidak boleh berada lama-lama berada dipuncak, dan direkomnedasikan jam 10 pagi harus sudah turun, karena gas Beracun dapat membunuh siapa saja. Jarak dari Kalimati menuju puncak masih sekitar 5-6 jam dengan kecepatan perjalanan standart.

Pukul 11 malam pun tiba, setelah terbangun oleh alarm HP. Kami kemudian melihat kembali dan membaca tanda-tanda alam. Cuca sangat cerah, dan menggiurkan untuk melanjutkan perjalanan. Namun aku mempunyia suatu firasat yang tidak bagus, seolah-olah ada bisikan kepadaku untuk tidak melanjutkan pendakian. dalam batin aku berdoa dan meminta petunju pada yang maha Kuasa (Tuhan Yesus) agar diberi petunujuk. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan.

Dan inilah saat dimana nyawaku terancam. Sedikit saja jika aku lengah dan tertidur, mungkin aku hanya tinggal nama saat itu. Gejala hipoksia (karena kekurangan Oksigen) timbul. Nafasku tersengal-sengal seperti baru habis berlari 10KM. hidung tersumbat, kepala seolah ingin terlepas, begitu sakit. Bahkan untuk menoleh saja dibutuhkan gerakan yang lambat. Perutku terasa mual. Berjuang untuk mendapatkan Oksigen sebanyak-banyaknya. Akhirnya aku membuka pintu Tenda dan mencoba membuat aktivitas. Mulai dari memasak air hinga memasak-nya berulang-ulang untuk sekedar mencari aktivitas dan sedikit menghangatkan diri. Ingin rasannya aku segera turun pada malam itu. Namun aku mencoba bertahan dan berthan, hingga jam 5 pagi aku berusaha berjuang melewati masa yang palng sulit dalam hidupku, sambil tak henti-hentinya aku berdoa mohon perlindungan dan keselamatan. Sementara saat itu teman ku sedang tertidur pulas dan tidak menyadari kondisiku (karena aku tak ingin merepotkan orang lain selagi aku masih bisa bertahan). Akhirnya aku dapat melewatinya, dan dapat memejamkan mata sejenak tidur hingga pukul 9 pagi. Terima Kasih Tuhan...KAU memang maha pengasih dan Penyayang.

Setelah bangun, kami pun langsung Packing dan turun menuju Ranu Pani (Entri Point). Hari itu, Rabu tanggal 10 Juni. Aku dan Afit mulai berjalan turun menyusuri hutan cemara yang sangat teduh dan indah, dengan ditemani suara burung. kami memulai perjalanan jam 10.30 pagi. Kami berjalan dengan santai, lambat, dan sesekali berhenti untuk meinkmati pemandangan sambil berfoto. Tiba kembali di Ranu Kumbolo (2.400 M Dpl), kami pun istirahat sebentar, dan ketemu pendaki lain (hahahha...akhirnya..ketemu manusia lagi..). Kami pun memutuskan untuk bermalam lagi di Ranu Kumbolo dan sepakat untuk turun keesokan paginya. Tak mau kehilngan moment indah di Ranu Kumbolo, aku pun kembali beraksi seperti seorang Fotografer Profesional, jepret sana jepret sini.

Malam pun tiba, malam terakhir di Semeru. Setelah makan malam yang sangat sedikit (karena Logistik Menipis), aku masih saj akelaparan dalam heningnya malam dan kedinginan. SSSsrrrttttt...kudengar ada suara berisik.....!!!!! oh..ternyata ada tikus Hutan...!!!! akupun mulai menghayalkan menyantapnya. Diam-diam kuintai tikus itu, cheetaahzzz...akihrnya dilempar oleh afit menggunakan sendal tepat mengenai Tikus itu. Akupun bergegas menangkpanya dan mulai menguliti tikus tersebut. Yummiii....dapet makanan...asyik banget nih. Dengan bekal pengalaman memasak yang lumayan lah untuk bersaing dengan Chef-chef papan Atas, aku pun memasak daging tikus itu dan menyantapnya...Ueank Tenan...Maknyusss kata mas Bondan.....(hehehhe..kelaperan sih...). Setelah itu akupun Tidur setelah sebelumnya kau berdoa mohon perlindungan.

Pagi harinya tanggal 11 Juni, jam 5 pagi aku sudah bangun untuk memulai perburuan Foto di pagi hari. Beberapa poto aku dapatkan (lumayanlah). kemudian sekitar pukul 8 kami berkmas (packing) dan langsung menuju Ranu Pani melalui jalur Ayek-Ayek. Sekitar pukul 13.00 kami pun tiba di Ranu Pani, kamudian memesan makanan dan menunggu kendaraan (truck) yang akan menuju Tumpang. Muju bagi Kami, Truk pengangkut sayur pun datan menghampiri dan kamipun bergegas naik truk, selanjutnya menuju Tumpang, Kemudian Malang, Surabaya...dan Akhirnya kembali lagi ke JOGJA.....

demikianlah sedikit cerita petualangan saya kali ini. Sangat dibutuhkan Komentar dari para Sahabat Petualang untuk memberikan Komentarnya, demi berlangsungnya petualangan-petualangan selanjutnya oleh saya yang ngaku-ngaku sebagai seorang Petualang (halahh...).

Berfikirlah Sebelum Bertindak, Perhitungkan Resiko terkecil yang akan dihadapi, dan buatlah Keputusan yan sejauh mungkin meninggalkan Resiko.

Pendaki Gunung Bukanlah Penakuk Alam, Bukanlah Penantang....Alam tak Bisa di Taklukkan dan tak Boleh di Tantang....



Salam Lestari,


READ MORE ...

Senin, 15 Juni 2009

Penghargaan Buat Sahabat Petualang

Wah,sudah cukup lama tak terasa aku berpetualang dan baru ketemu sama dunia maya sekarang. Seminggu di Semeru membuat aku hampir berbulu (hahhahahaa..) dan betah disana. Tapi karena masih ada pekerjaan yang lain, akhirnya turun Gunung juga deh. Oh ya, sahabat petualang, akhirnya aku bisa memenuhi janji ku untuk memberikan sebuah penghargaan buat sahabat petualang yag telah berpartisipasi dalam menyuarakan dukungannya terhadap kelestarian Lingkungan Hidup.

Mohon maaf sebelumnya, jika award yang saya buat ini desainnya sederhana, dan sepertinya terlalu sederhana. Tapi, harapan saya dari kesederhanaan ini, kita dapat membangkitkan kesadaran masyrakat untuk dapat melestarikan Lingkungan Hidup untuk generasi anak cucu kita di masa yang akan datang.

Bagi sahabat petualang yang sudah memberikan komentarnya terhadap postingan tentang lingungan hidup sebelumnya, saya ucapkan banyak terima kasih. Dan bagi sahabat petualang yang belum memberikan komentar, tapi ingin mendapatkan award sedehana ini, silahkan untuk langsung saja meng"copy-paste"an kodenya yang ada dibawah ini (jika berkenan), dan jika memungkinkan untuk disebar-luaskan untuk mendukung gerakan pelestarian Lingkungan Hidup.

Sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada Sahabat Petualang atas dukungan dan parisipasinya. Walaupun sebenarnya saya bukan orang yang kompeten untuk memberikan penghargaan ini, namun inilah usaha terkecil dan sederhana yang dapat saya lakukan untuk kelestarian alam kita.

Silahkan tinggalkan pesan (komentar) sahabat petualang jika sudah mengambil award ini. Hal ini untuk memudahkan saya dalam mengecek apakah award ini sudah diterima oleh sahabat petualang.

Suara Petualang

Silahkan Copy Paste Kode tersebut di Blog Sahabat Petualang


Salam Lestari.....
READ MORE ...

Jumat, 12 Juni 2009

Jalur Pendakian Gunung Lawu

Gunung Lawu (3.265 m) berdiri kokoh diperbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, banyak menyimpan sejuta misteri dan legenda. Dalam legenda Gunung Lawu dipercayai sebagai tempat bertapanya Raden Brawijaya atau dikenal dengan Sunan Lawu setelah mengundurkan diri dari kerajaan Majapahit, dan beliau dipercaya sebagai penguasa seluruh makhluk yang ada di Gunung Lawu.

Gunung Lawu juga mempunyai kawah yang namanya sangat terkenal yakni Kawah Condrodimuko, yang dipercaya masyarakat sekitar sebagai tempat menggodok tokoh pewayangan yaitu Raden Gatutkaca, salah satu dari Pandawa Lima. Di gunung ini juga banyak tempat-tempat keramat antara lain Sendang Drajat, Argo Dalem, Argo Dumilah, Pasar Dieng, Batu Tugu "Punden Berundak", Lumbung Selayur, Telaga Kuning dan masih banyak lagi. Gunung ini juga ditumbuhi bunga Edelweis berwarna merah muda, kuning dan putih.

Gunung Lawu menyimpan misteri pada masing-masing dari tiga puncak utamanya dan menjadi tempat yang dimitoskan sebagai tempat sakral di Tanah Jawa. Harga Dalem diyakini sebagai tempat pamoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas, Harga Dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon, dan Harga Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi.
Setiap orang yang hendak pergi ke puncaknya harus memahami berbagai larangan tidak tertulis untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan. Bila pantangan itu dilanggar di pelaku diyakini bakal bernasib naas. Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat yakni: Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Kepanasan/Cakrasurya, dan Pringgodani.
Desa Cemoro Sewu maupun dukuh Cemoro kandang yang hanya berjarak sekitar 1 kilometer merupakan gerbang pendakian ke puncak Lawu atau lebih dikenal dengan nama Argo Dumilah, letaknya berada tidak jauh dari kota dan dilintasi oleh jalan raya tertinggi di pulau Jawa yaitu sekitar 1.878 meter dari permukaan air laut. Karena letaknya yang mudah dijangkau, Gunung Lawu ini banyak dikunjungi pendaki pada Minggu dan hari-hari libur. Bahkan pada bulan Suro (Tahun Baru menurut penanggalan Jawa), kita akan menemui bahwa mereka yang mendaki bukan saja untuk ke puncak gunung Lawu, tetapi juga banyak diantaranya adalah peziarah, pertapa dan berbagai tujuan lainnya.

Kedua daerah gerbang pendakian tersebut merupakan daerah berbentuk saddle antara daerah tujuan wisata Sarangan yang terkenal dengan danaunya dan Tawangmangu dengan air terjunnya. Kedua jalur Selatan ini adalah yang paling banyak dilalui karena jalurnya mudah dan pemandangannya sangat indah.
Untuk mencapai daerah ini. Dari arah Surabaya menuju Madiun diteruskan ke Magetan dengan bus, kemudian naik colt menuju Sarangan (1.286 m.dpl), dari sini kita naik colt jurusan Tawangmangu turun di Cemoro Sewu atau Cemoro Kandang. Kalau dari arah Solo, kita naik bus menuju Tawangmangu (1.000 m.dpl), lalu naik colt jurusan Sarangan berhenti di Cemoro Kandang atau Cemoro Sewu. Angkutan umum/colt dari Tawangmangu ke Sarangan atau arah sebaliknya agak sulit ditemui mulai pukul 16.00 wib.
Segala fasilitas umum antara lain hotel, wartel yang paling dekat adalah di daerah wisata Sarangan terletak 5 kilometer dari Cemoro Sewu atau di Tawangmangu yang juga merupakan tempat wisata. Walau demikian, kita dapat menginap dirumah-rumah penduduk. Kita juga bisa memenuhi kebutuhan logistik tambahan untuk pendakian di warung-warung yang ada di desa gerbang pendakian ini.

Gerbang Jawa Timur ,lewat Desa Cemoro Sewu
Desa Cemoro Sewu (1.800 m dpl) kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan merupakan gerbang pendakian dari jalur Jawa Timur adalah daerah yang sangat subur. Daerah yang dihuni 20 keluarga dengan mata pencaharian utama adalah bertani ini tampak hijau, bersih sehingga menyejukkan mata yang melihatnya.
Penduduknya sangat rukun, suka gotong-royong, ramah terhadap para pendatang dan sangat peduli terhadap kebersihan lingkunganya, ini terbukti dengan didapatnya tropi Jawa Timur tahun 1991 dan Kalpataru untuk katagori Pengabdi Lingkungan tahun 1992 oleh Bapak Sardi Kamituwo desa Cemoro Sewu.
Jalur yang dimulai dari Cemoro Sewu (1.800 m.dpl) ini adalah yang paling sering digunakan untuk pendakian, panjangnya 6.5 km, berupa jalan makadam mulai desa sampai mendekati puncak. Di desa Cemoro Sewu ini kita mempersiapkan air untuk perjalanan naik dan turun. Kita akan melewati hutan pinus dan akasia di sisi kiri dan kanan sampai pada ketinggian lk 3.000 m dpl. Dalam pendakian ini kita akan melewati 4 buah pos pada ketinggian 2.100 m, 2.300 m, 2.500 m dan sampai di pos IV dengan ketinggian 2.800 m dpl dengan waktu 4 - 5 jam. Setelah pos IV ini pepohonan mulai rendah sampai kita harus menyusur punggungan, jalannya berupa tanah mendatar dan di sisi kanan terdapat jurang.
Kurang lebih 10 menit kita akan sampai di Sendang Drajat, sebuah sumber air yang dianggap keramat oleh para peziarah. Di daerah sini biasanya juga digunakan untuk bertapa oleh orang-orang yang percaya bahwa akan mendapat "ilmu". Disini terdapat gua selebar 2 meter yang dapat kita pakai untuk bermalam.
Didepan gua terdapat lubang sekitar satu meter yang kadangkala dapat ditemukan air. Jika tidak mau menginap di Sendang Drajat, kita dapat berjalan terus ke Argo Dalem, dengan melewati punggungan bukit sekitar 30 menit, kita akan menemukan pertigaan yang kekiri langsung menuju puncak Argo Dumilah ( 3.265 m dpl) sedang ke kanan menuju ke Argo Dalem (3.148m dpl). Dari pertigaan ini, untuk menuju puncak Argo Dumilah hanya membutuhkan waktu 10 menit.
Alun-alun Argo Dalem merupakan hamparan padang terbuka bervegetasi perdu, memungkinkan kita untuk melihat kearah puncak maupun kelembah di bawahnya. Ada pondok utama yang biasanya menjadi tujuan peziarah yang datang, lengkap dengan barang-barang persembahannya Puncak Gunung Lawu berupa dataran yang berbukit-bukit dan terdapat titik trianggulasi. Dari arah puncak kita dapat menikmati pemandangan yang sangat menawan. Selain Matahari terbit, bila kita memandang ke arah barat, akan tampak puncak Gunung Merapi dan Merbabu, dan arah timur akan terlihat puncak Gunung Kelud, Butak dan Wilis.

Gerbang Jawa Tengah: Desa Cemoro Kandang
Jalur yang dimulai dari Desa Cemoro Kandang ini, panjangnya sekitar 12 km, juga paling sering digunakan untuk pendakian, karena tidak terlalu menanjak dan pemandangannya sangat indah. Diseberang gerbang pendakian terdapat warung-warung, juga bisa untuk menambah logistik, air juga harus dipersiapkan disini untuk perjalanan naik sampai turun lagi.
Kita mulai perjalanan melalui hutan akasia dan pinus dengan kondisi jalan berbatu kurang lebih 1,5 jam, kita sampai pada PosI Taman Sari bawah. Kemudian kita melewati jalan tanah dari hutan cemara dan pinus selama sekitar 30 menit akan menemui Pos II Taman Sari Atas. Dari sini kita masih melewati hutan dan menyisir bukit, setelah perjalanan selama 2,5 jam kemudian kita sampai di pos III Penggik (2.760 m dpl).
Dari pos penggik ini kita menuju ke Pos IV Cokrosuryo dengan melewati hutan, kemudian menyisir bukit, disebelah kiri kita adalah jurang, waktu yang dibutuhkan sekitar 1,5 jam. Jika tidak ingin menginap di Cokrosuryo kita bisa berjalan terus ke Argo Dalem dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Dalam perjalanan ke Argo Dalem kita akan menemui sebuah pos yang rusak di pertigaan yang kekanan ke Argo Dumilah dan yang lurus menuju Argo Dalem.

Perlengkapan dan Tips
Perjalanan Pendakian ke Gunung Lawu jika melalui Cemoro Kandang membutuhkan waktu 8-9 jam dan 5-6 untuk turun, sedang dari Cemoro Sewu dibutuhkan waktu 6-7 jam untuk pendakian dan 4-5 jam untuk turun. Pakaian yang tahan angin dan tahan air serta peralatan untuk tidur sebaiknya dibawa untuk kenyamanan perjalanan pendakian.
Kalau ingin pendakian anda tidak terlalu ramai maka sebaiknya melakukan pendakian pada hari-hari biasa (senin-Jumat)

Perijinan dan Pemanduan
Untuk perijinan pendakian ke Gunung Lawu sampai saat ini masih belum ada keharusan ijin yang resmi dari instansi-instansi yang memangku daerah pendakian ini, dan anda cukup mendaftarkan diri ke petugas yang ada di pos pendakian Cemoro Kandang atau ke Bapak Sardi Kamituwo di desa Cemoro Sewu serta meninggalkan kartu pengenal diri.
Bila anda ingin mengetahui tempat-tempat yang keramat di gunung ini, sebaiknya anda menggunakan pemandu untuk mengantar anda. Anda bisa menghubungi bapak Sardi untuk membantu kita untuk mencarikan pemandu yang mengetahui tempat-tempat keramat. Bila mengalami keadaan darurat di Gunung Lawu, kecelakaan atau rekan yang hilang, kita bisa menghubungi SAR SATKORLAK UNS Solo Jl. Urip Sumoharjo 110 Mesen Surakarta Telp. (0271) 41799, 47199.


READ MORE ...

Jalur Pendakian Gunung Slamet

Gunung Slamet (3,432 ) adalah gunung tertinggi di Jawa setelah Gunung Semeru di Jawa Timur, berbentuk kerucut/Strato serta memiliki kawah yang masih aktif dan luas. Letusan besar terakhir terjadi pada tanggal 13 juli 1988, yang menimbulkan lidah api dan semburan lava pijar setinggi 300 meter. Gunung Slamet terletak di perbatasan Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, Banyumas, dan Brebes. Dengan posisi geografis 7°14,30' LS dan 109°12,30' BT.

Pada awal bulan September 1995, hutan di Gunung Slamet ini mengalami kebakaran hebat, diperkirakan karena kesalahan manusia, yang mengakibatkan lenyapnya berbagai tumbuhan dan fauna khas yang masih tersisa di gunung ini, termasuk tanaman langka Edelwis Jawa yang merupakan tanaman khas Gunung Slamet. Edelweis Jawa disini, bunganya putih kekuningan dan tangkai bunganya serupa dengan daun kering yang panjang, berbeda dengan Edelweis di Gunung Gede-Pangrango yang bunganya keputih-putihan dan tangkai bunganya berbulu-bulu.

Hutan di kawasan Gunung Slamet, sebagian terdiri dari hutan alam, hutan alam produksi dan hutan produksi yang dikelola oleh PERHUTANI KPH Pekalongan Barat dan KPH Banyumas Timur. Pendakian ke Gunung Slamet cukup berbahaya, karena hutannya masih lebat dan jarang didaki, selama tahun 1975 - 1994 tercatat 17 orang meninggal di gunung ini, 10 orang diantaranya meninggal karena hujan salju pada bulan Februari 1992. Suhu dipuncak Gunung Slamet seringkali mencapai 0°C, karenanya kita harus menyiapkan fisik, logistik dan perlengkapan untuk mendaki gunung ini.
Untuk mencapai puncak Gunung Slamet, kita bisa melalui beberapa jalur: dari Utara via Gambuhan-Jurangmangu, dari Selatan via Baturaden-Gunung Malang, dan Timur via Bobotsari - Bambangan. Jalur yang paling dekat dan lebih aman, adalah dari Bambangan dan Jurangmangu, yang merupakan jalur yang dianjurkan, sedangkan jalur Baturaden sebaiknya dihindari karena banyak ditumbuhi rumput-rumput liar dan medannya terjal serta berbahaya.

Jalur Bambangan
Untuk menuju Bambangan (1.470 m.dpl), dari Purwokerto kita naik Bis ke jurusan Bobotsari Kabupaten Purbalingga. Di Bobotsari kita sebaiknya melengkapi perbekalan yang masih diperlukan, dan disini tersedia fasilitas Telpon Interlokal(WARTEL). Dari terminal Bobotsari naik Primkodes (minibus) menuju Pasar Priatin di Desa Kutabawa Kecamatan Karangrejo. Dari Priatin kita berjalan sejauh 2,5 km menuju dusun Bambangan, karena hanya sesekali saja daa truk pengangkut yang melewati jalan tanah yang lembek dan berbatu ini. Kita juga bisa turun di Dukuh Penjagan (Serang), 2 km sebelum Priatin dan berjalan ke Bambangan sejauh 2,5 km melewati perladangan. Bila kita dari arah Pemalang, kita naik Bis jurusan Purwokerto, turun di Karangrejo, pertigaan ke Goa Lawa, dan naik minibus sejauh 7 km ke Priatin.
Dusun Bambangan merupakan hunian terakhir menuju Gunung Slamet, disini kita harus mengisi persediaan air, karena sepanjang pendakian, sulit ditemui mata air, terutama dimusim kemarau. Dusun Bambangan dihuni oleh kira-kira 900 penduduk, yang mengandalkan kehidupannya dengan bercocok tanam sayuran.
Di batas Kampung Bambangan, kita akan menjumpai Pondok Pemuda, sebuah gedung yang besar dan cukup megah yang dibangun Pemerintah Daerah Purbalingga untuk para pendaki. Setelah melapor ke Pak Mucheri, pendakian dimulai dari Pondok Pemuda, dimana ada jalan bercabang, yang kekanan merupakan jalur lama, kita bisa mengambil jalan yang lurus, karena rute yang baru ini lebih pendek.
Setelah perladangan kita akan memasuki kawasan Hutan PERHUTANI, dimana kita akan jumpai sebuah tempat berlindung (Shelter). Dari sini kita mendaki selama 0,5 Km dan akan melewati tempat yang disebut Pondok Gembirung (2.250 m.dpl) yang merupakan hutan alam, yang banyak ditumbuhi Pohon Gembirung. Dari sini sejauh 0,5 Km akan dijumpai Pondok Walang (2.500 m.dpl), berjalan lagi sejauh 0,5 Km kita akan menemui Pondok Cemara yang disekitarnya banyak ditumbuhi pepohonan Cemara.
Dari Pondok Cemara kita terus mendaki sejauh 1,5 Km menuju Pondok Samanrantu (2.900 m.dpl) disini ada pondok peristirahatan sederhana. Diperlukan waktu 4-5 jam untuk mencapai Samarantu dari Bambangan, dan 2 jam lagi untuk mencapai Puncak. Dari Samanrantu perjalanan diteruskan sejauh 0,3 km menuju Samyang Rangkah yang dimusim hujan ada mata air, berjalan sejauh 0,6 km lagi melewati Samyang Kendit dan Samyang Jampang (2.950 m.dpl) kita akan sampai di Samyang Ketebonan (3.000 m.dpl). Di Samyang Jampang banyak ditumbuhi bunga Edelweis yang sekarang nyaris punah, dan kita bisa menyaksikan matahari terbit dari tempat ini. Kita terus naik ke Plawangan (3.250 m.dpl) yang merupakan perbatasan hutan dan daerah berbatu. Menuju puncak Gunung Slamet masih dibutuhkan waktu 1 jam lagi, melewati batu-batu lahar yang amat sukar, berupa batu lepas dan tajam, kita harus lebih waspada di daerah ini.
Setelah tiba di puncak akan terlihat hamparan padang lahar yang luas dan menakjubkan. Kita juga dapat menyaksikan pemandangan yang menakjubkan ke arah kawah-kawah yang masih aktif, yang dinamakan Segoro Warian dan Segoro Wedi. Di puncak Gunung Slamet kita juga dapat menyaksikan panorama yang indah kearah puncak-puncak Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Ciremai juga kearah kota Tegal, Purwokerto, Brebes, dan di kaki langit membentang Samudra Hindia dan Laut Jawa. Untuk memantau kondisi vulkanisnya, Puncak Gunung Slamet dilengkapi pemantau gempa yang datanya ditransmisikan lewat pemancar radio dengan menara antena setinggi 18 meter.
Pendakian dari Bambangan menuju puncak Gunung Slamet ini memerlukan waktu sekitar 8 jam, sedangkan untuk turun dibutuhkan waktu sekitar 4 jam. Setelah pendakian kita bisa pergi ke Baturaden yang merupakan kawasan wisata, dimana tersedia banyak hotel dan penginapan dan fasilitas wisata lainnya. Di Baturaden kita dapat menikmati panorama lereng Gunung Slamet dengan amat indah, mandi air pnas dan berenang dengan biaya murah.

Jalur Utara via Gambuhan
Jalur utara ini kurang populer dibandingkan jalur Bambangan tetapi jalur ini sering di gunakan oleh petugas Vulkanologi untuk menuju kawah Gunung Slamet. Desa Gambuhan (1.000 m.dpl) lebih mudah dicapai dari arah Tegal. Dari Tegal kita naik Bus jurusan Moga (540 m.dpl) sejauh 64 Km lewat Pemalang. Dari Moga kita naik minibus ke Desa Gambuhan. Gambuhan dapat juga dicapai lewat Toewel. Dari Tegal dengan minibus kita menuju Toewel (850 m.dpl) lewat Bojong. Dari Toewel kita ganti minibus lagi ke Gambuhan.
Sebaiknya logistik telah dipersiapkan di Toewel atau di Moga. Fasilitas Telpon Interlokal (Wartel) tersedia di Moga dan di Toewel. Dari Desa Gambuhan kita berjalan atau naik ojek ke Pos Vulkanologi yang jaraknya 700 meter, untuk mencatatkan diri dan meminta informasi tentang kondisi Gunung Slamet dan jalur pendakiannya. Disini kita bisa menemui Kepala Pos Vulkanologi, yang dapat membantu kita pemanduan dan penginapan. Dari Pos Vulkanologi kita meneruskan perjalanan ke Dusun Karang Sari, Desa Jurangmangu melintasi jalan desa selama 0,5 jam perjalanan atau dengan ojek selama 10 menit saja. Mobil hanya bisa mencapai Pos Vulkanologi saja, dan sementara kita mendaki mobil dapat diparkir di sini.
Pendakian kita mulai dari Dusun Karang Sari (1.050 m. dpl) ini, melewati Hutan Pinus menuju Pondok Buncis selama 0,5 jam, disini kita bisa beristirahat dan mengambil air. Dari Pondok Buncis perjalanan memasuki hutan alam dan Cemara, melewati Pondok Gribig (1.750 m.dpl), selama 1 jam perjalanan. Selanjutnya perjalanan diteruskan selama 1,5 jam ke Pondok Pakis (2.200 m.dpl). Jalan semakin menanjak, dan kita akan sampai di Penatus (2.350 m.dpl), setelah perjalanan selama 1 jam dan diperlukan 1,5 jam lagi untuk mencapai Pondok Gua (3.000 m.dpl).
Perjalanan 1 jam dari Pondok Gua kita sampai di batas pasir sisa letusan yang dinamakan Samyang Wenang (3.200 m.dpl), melalui rerumputan dan vegetasi bunga Edelweis Jawa. Perjalanan akan melintasi medan yang semakin curam, berpasir dan berbatu lepas, yang mengharuskan kita berhati-hati. Setelah perjalanan 1,5 jam kita sampai di gigir Kawah (3.400 m.dpl). Diperlukan 0,5 jam lagi untuk menuju Puncak Gunung Slamet yang terletak diakhir jalur Bambangan, sedangkan total perjalanan ke puncak 7-8 jam. Untuk kembali ke Gambuhan diperlukan waktu 4-5 jam.

C A T A T A N
Masalah air perlu mendapat perhatian ekstra, karena di musim kemarau di Bambangan kadang sulit mendapat air bersih dan sepanjang perjalanan ke puncak sudah tidak ada lagi mata air sedangkan di jalur Gambuhan sebaiknya air kita siapkan di Desa Jurangmangu.

Perijinan, Pemanduan & Keadaan Darurat
Jika ingin mendaki Gunung Slamet terlebih dahulu kita meminta ijin di Perum PERHUTANI Banyumas Timur, Jl. Gatot Subroto 92, Purwokerto (Telp. 0281-96108) dan Polisi setempat (Polsek Serang). Kita juga harus mendapat Rekomendasi dari Dinas Sosial Politik (Ditsospol) Kabupaten Banyumas. Dan di Bambangan kita harus laporkan pendakian kita ke Kepala Dusun, Pak Mucheri, yang juga seorang pemandu gunung yang tangguh.
Beliau juga akan memberi banyak informasi tentang Gunung Slamet, mencarikan pemandu atau porter dan menyediakan tempat bermalam bila diperlukan, juga membantu kita dalam keadaan darurat. Dan di jalur Gambuhan, kita harus melaporkan perjalanan kita kepada Kepala Desa setempat dan Petugas Vulkanologi.
Untuk kenyamanan dan keselamatan dapat digunakan Pemandu yang tarifnya bisa dirundingkan untuk dua hari perjalanan, atau Porter yang merangkap Pemandu yang tarifnya sama. Di Purwokerto kita bisa menghubungi Organisasi Pencinta Alam UPL (Unit Pandu Lingkungan) dan JAGRAWESA (Fak.Ekonomi) Universitas Jendral Sudirman (UNSUD) yang bersekretariat di Kampus UNSUD Gerendeng Purwokerto dan PPA Mayapada, Universitas Wijaya Kusuma Purwokerto, yang akan membantu kita keterangan, perijinan dan pemanduan ke Gunung Slamet.
Bila menghadapi keadaan darurat di Gunung Slamet, kita bisa menghubungi Pak Mucheri di Bambangan, Perum PERHUTANI Banyumas Timur di Purwokerto dan Organisasi Pencinta Alam setempat, petugas Vulkanologi serta Petugas Kepolisian. Dan bila diperlukan kegiatan SAR, kita bisa juga menghubungi Organisasi Pencinta Alam MAPAGAMA dan PALAPSI di Universitas Gajahmada (UGM) juga WANADRI di Bandung (telp.022-420 6440,430 699) atau Perwakilannya di Jakarta (telp.021-798 7270)


READ MORE ...

Jalur Pendakian Gunung Sindoro

Gunung Sundoro - 3.136 m.dpl, setidaknya ada tiga nama yang dikenal baik oleh masyarakat, Sindoro, Sundoro atau Sendoro. Adalah termasuk dalam jajaran gunung berapi yang mempunyai bentuk kerucut dengan tipe Strato. Dari kejauhan nampak seperti dua saudara kembar antara Sundoro dan Sumbing, berdiri kokoh di batas Kabupaten Temanggung sebelah barat dan sebelah timur kota Wonosobo. Diantara keduanya, dipisahkan oleh pelana Kledung (1.405 m.dpl) yang melintasi jalan raya, menghubungkan Wonosobo dengan kota Magelang

Gunung Sundoro mempunyai Koordinat/ Geografi pada 7° 18'LS dan 109° 59.5' BT dan memiliki areal Kawasan Hutan cukup luas yang di kelola oleh PERHUTANI Wonosobo (772 m.dpl) dan Temanggung. Berada di puncaknya, kita bisa melihat pemandangan disekitarnya, bagian lereng gunung ditanami hamparan kebun teh yang mengelilingi menjadikan lereng sindoro terlihat hijau sepanjang tahun.

Di bagian timur dari puncak datar seluas 400 x 300 m terdapat kawah kembar besar berukuran 210 x 150 m, sedangkan dataran Segero Wedi, Banjaran, di bagian barat dan utara, adalah sisa dari kawah utama dan sekunder. Kerucut dan kawah parasit ditemukan di lereng barat daya dan timur laut dan di kaki tenggara. Beberapa ratus bukit di kaki timur laut menurut Taverne dan van Bemmelen merupakan sisa erosi dari suatu longsoran tanah sebelum tanah sebelum sejarah atau dari lahar.

Rute Pendakian
Gunungapi ini mudah dicapai dari segala jurusan, dari sebelah timur dari Magelang, dari sebelah barat dari Banjarnegara, dari arah utara dari Candiroto atau Melayu, sedangkan dari arah selatan dari Purworejo. Untuk mendaki gunung Sundoro terdapat dua jalur umum yang biasanya dipergunakan, yaitu; lewat Desa Kledung dan lewat Desa Sigedang (Tambi).

Jalur Kledung
Untuk mencapai Desa Kledung, dari arah Magelang naik bus ke jurusan Wonosobo atau sebaliknya, turun di Desa Kledung disebelah Restoran Dieng Pass. Perjalanan dari arah Wonosobo hanya 3 Km. Untuk sarana penginapan di Kledung masih belum tersedia, penginapan hanya ada di Wonosobo atau Magelang, tetapi kita bisa menginap di rumah Kepala Desa atau di rumah masyarakat setempat.

Di Desa Kledung kita bisa menyaksikan pemandangan yang menarik baik kearah Gunung Sundoro maupun kearah Gunung Sumbing. Sekitar 0,5 jam perjalanan kita akan melewati batas ladang penduduk dengan hutan dan sampai di Watu Gede. Sekitar 0,5 jam perjalanan lagi kita akan sampai di Situk, disini ada pos pendaki dan kita dapat beristirahat disini. Dari Situk diteruskan lagi, kita akan menemui jalan bercabang, lurus dan ke arah kanan.
Sebaiknya kita ambil yang lurus karena jalan ini lebih cepat tetapi lebih menanjak, sedangkan jalan yang kanan lebih landai dan melewati lereng bukit, kedua jalan ini akan bertemu di Pestan dan dapat ditempuh dalam 2 jam dari Situk.
Berjalan sekitar 2-3 jam lagi kita sampai di Batu Tatah, daerahnya agak berbatu. Untuk menuju puncak diperlukan waktu 2 jam lagi, mendekati puncak kita mengambil jalan memutar dari arah kiri menuju ke arah kanan menuju puncak. Dari desa Kledung ke puncak Sundoro ini membutuhkan waktu 7 jam dan turunnya dibutuhkan waktu 4 jam.
Puncak Gunung Sundoro merupakan dataran seluas (400 x 300) meter, yang disebelah timurnya terdapat dua kawah kembar seluas (210 x 150) meter. Sedangkan di sebelah barat dan utara terdapat dataran Segoro Wedi dan Banjaran serta dua dataran yang belum bernama, yang merupakan sisa kawah utama dan sekunder.
Menurut tradisi masyarakat di sini setiap tanggal 1 Suro, Tahun Baru pada penanggalan Jawa-Islam, banyak penduduk yang mendaki Gunung Sundoro ini, untuk mengadakan selamatan di puncak.

Jalur Sigedang-Tambi
Jalur Sigedang merupakan jalur yang agak sulit karena jalanan sangat menanjak sehingga jarang yang melakukan pendakian lewat sini tetapi jalur ini banyak di gunakan sebagai jalur turun karena lebih cepat dan lebih dekat dengan Lembah Dieng. Untuk mencapai Sigedang, dari arah Wonosobo kita naik bus ke jurusan Dieng, turun di Rejosari atau Tambi, sekitar 15 Km.
Selanjutnya perjalanan diteruskan dengan jalan kaki /naik Ojek menuju ke arah kampung Sigedang sekitar 4 Km. Kondisi Jalan menuju Sigedang sudah beraspal dan disekitar jalan kita bisa memandang hamparan tanaman teh. Awal pendakian kita mulai di sini. Berjalan melewati jalan berbatu menyusuri kebun - kebun teh selama 2 jam perjalanan akan sampai dibatas perkebunan teh dengan hutan (4 Km). Dari sini pendakian kita teruskan melalui jalanan yang cenderung menanjak selama 3 jam akan sampai di Watu Susu.
Watu Susu merupakan daerah yang mempunyai ciri adanya batu yang besar yang terdiri 2 buah. Menurut kepercayaan penduduk, batu ini merupakan buah dada dari Gunung Sundoro. Dari Watu Susu ke puncak dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam lagi. Perjalanan dari Sigedang menuju puncak Gunung Sundoro membutuhkan waktu sekitar 6-7 jam dan turunnya memakan waktu 4-5 jam perjalanan.
Untuk melakukan pendakian lewat Sigedang harus melapor dahulu ke Kepala Desa. Disini kita bisa menginap di rumah masyarakat setempat yang umumya juga sebagai pemandu gunung.
Untuk melakukan pendakian ke Gunung Sindoro lewat Kledung belum ada ijin khusus tetapi sebelum melakukan pendakian kita harus mencatat nama di rumahnya Kaur pembangunan (Pemerintah Desa) sebagai tanda ijin mengetahui adanya pendaki yang naik.
Untuk melengkapi penjalanan bisa menuju ke Kawasan wisata Dataran Tinggi Dieng. Dataran Tinggi Dieng merupakan kawasan wisata yang terkenal baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Untuk mencapai Dataran Tinggi Dieng dari arah Wonosobo kita naik minibus atau taksi menuju ke arah Dieng (26 Km). Kota Wonosobo merupakan kota pegunungan yang terletak 2316 kaki dan berdiam di punggung sebuah bukit . Suhu rata - rata 22 - 30 derajat pada siang hari dan 15 - 20 derajat pada malam hari sungguh menawarkan suasana sejuk dan nyaman.Untuk penginapan di Wonosobo banyak di temui hotel berbintang dan losmen.

Dataran Tinggi Dieng (2.093 m dpl)
Tempat wisata yang paling terkenal kawah Cikidang. Bentuk kawah Cikidang menyerupai kawah Tangkuban Perahu, Kawah Cikidang merupakan bekas kepundan gunung berapi. Telaga Warna merupakan sebuah telaga vulkanis, bekas kepundan sebuah gunung berapi yang meletus pada masa Dieng Purba. Kandungan telaga vulkanis ini berisi aneka bahan mineral dan belerang . Sehingga ketika cahaya mentari menembus dasar telaga, karena refleksi ekologis maka terpantullah aneka warna cemerlang ke permukaan : Putih, kuning, hijau.dan untuk menikmati lebih banyak lagi silahkan anda datang ke tempat yang indah ini , kesan takjub akan pasti kita dapatkan.
Untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap dapat anda peroleh saat berkunjungke Lembah Dieng. Buku panduan juga bisa di peroleh di tempat menginap baik hotel maupun losmen.


READ MORE ...

Jalur Pendakian Gunung Sumbing

Gunung Sumbing merupakan gunung bertipe strato (kerucut), dengan ketinggian 3.371 m dpl. Gunung ini terletak di kawasan kabupaten Wonosobo, tepatnya di daerah Temanggung, Jawa Tengah. Kondisi puncaknya terdiri atas tebing batu cadas yang menjulang tinggi dan disekitarnya banyak dijumpai kawah - kawah kecil yang mengeluarkan asap belerang. Puncak Gunung Sumbing terdiri atas dua puncak, Puncak Buntu, dengan ketinggian 3.362 m dpl dan puncak Kawah, dengan ketinggian 3.372 m dpl.

Lereng Gunung Sumbing merupakan salah satu kawasan yang rawan tanah longsor karena terlalu luas dieksploitasi lahannya untuk ladang tembakau dan sayur - sayuran. Menurut ahli konservasi dari UGM lereng Gunung Sumbing mempunyai tingkat erosi yang paling tinggi diantara gunung-gunung yang berada di sekitarnya sehingga bila kita mendaki gunung ini sejauh mata memandang akan terlihat hampir separuh lereng gunung sudah merupakan daerah perladangan.
Untuk mencapai puncak Gunung Sumbing terdapat satu jalur utama yaitu lewat Kampung Butuh, Desa Garung, Wonosobo. Desa Garung merupakan desa yang terletak di kaki sebelah kanan Gunung Sumbing dan sebelah kiri lereng Gunung Sindoro. Masyarakat desa ini sebagian besar bermata pencaharian dengan bertani. Jumlah penduduk desa Garung juga tidak terlalu banyak tapi kelihatan sangat makmur.
Desa Garung (1.543 m dpl) merupakan desa terakhir menuju ke puncak Gunung Sumbing, dapat dengan mudah kita capai karena letaknya yang dilalui jalur Bus/minibus dari arah Magelang menuju ke Wonosobo atau sebaliknya.
Dari Magelang kita naik bus jurusan ke Wonosobo dan turun sebelum Kota Wonosobo sekitar 16 Km tepatnya di Gapura Desa Garung (Pasar Reco). Untuk mencapai jalan pendakian yang menuju ke puncak Gunung Sumbing dari Gapura Desa Garung kita menuju ke Kampung Butuh melalui jalan berbatu, sekitar 0,5 jam dengan jalan kaki atau naik ojek.
Setelah sampai di Kampung Butuh, kita melapor pada pak Zamroni, Kamituwo kampung ini untuk minta ijin pendakian ke Gunung Sumbing. Di rumahnya ini kita bisa bermalam untuk melanjutkan pendakian esok hari atau istirahat sebentar dan melanjutkan pendakian pada malam hari. Untuk kebutuhan air sebaiknya dipersiapkan dikampung ini, karena selama perjalanan kepuncak tidak ada mata air dan kalau kita memerlukan pemandu gunung (porter) kita bisa mendapatkan di desa ini.
Dari Kampung Butuh ini terdapat dua jalur pendakian yaitu Jalur Baru dan Jalur Lama. Jalur Baru di buka karena jalur lama sudah terkena erosi yang menyebabkan jalur agak sulit untuk dilalui. Panjang jalur dari Desa Garung sampai ke puncak Gunung Sumbing lewat jalur lama, 7 Km dan Jalur Baru, sepanjang 0,5 Km.

Jalur Lama
Dari Kampung Butuh, perjalanan kita lanjutkan menuju perbatasan antara hutan dengan ladang jaraknya sekitar 4,5 Km dari kampung Butuh, maka kita akan sampai di Boswisen. Di Boswisen ini terdapat sungai kecil, bila musim hujan terdapat air dan bisa kita pergunakan untuk keperluan memasak dan minum.
Setelah sampai di Boswisen perjalanan kita teruskan menuju pertigaan yang dinamakan Bukit Genus, sekitar 2 jam melalui tanjakan - tanjakan yang cukup melelahkan. Setelah sampai di Bukit Genus kita bisa beristirahat sebentar sambil menikmati pemandangan karena lokasinya yang cukup datar, lalu perjalanan kita teruskan lagi melewati banyak tanjakan terjal menuju Pestan atau Pasar Setan (2.437 m dpl), selama 2 jam perjalanan. Kawasan Pestan banyak di tumbuhi rerumputan, dan seringkali terjadi badai yang menerpa wilayah ini sehingga mengakibatkan bahaya saat melakukan pendakian.
Catatan
Pendakian yang paling ramai pada bulan Agustus - September. Menurut data di buku pendakian di Kepala Desa pendaki tiap tahun dapat mencapai 5.000 orang. Untuk mencari penginapan kita bisa ke Kota Wonosobo karena di Desa Garung tidak ada penginapan. Bila kita ingin menikmati perjalanan di kawasan Gunung Sumbing kita bisa menuju ke Wisata air terjun Curuk Duwur, yang terletak sekitar 2 Km dari pusat Desa Garung/Butuh. Dari Desa garung kita juga bisa meneruskan perjalanan ke kota Wonosobo dan langsung menuju ke Lembah Dieng (lihat catatan Di Gunung Sindoro). Jika kita mengalami keadaan darurat kita bisa menghubungi Karang Taruna Desa Garung atau menghubungi Pos Penjagaan Polisi di Kledung dengan frekwensi 147,940 Mhz atau Polsek Wonosobo dan Magelang dengan frekwensi 147.000 Mhz dan disini akan dilakukan koordinasi lebih.
Dari Pestan jalan semakin curam dan agak sulit di lalui sepanjang 0,5 Km, kita akan menemui batu besar, yang dapat dipergunakan sebagai tempat berlindung dari hembusan angin yang keras, tempat ini dinamakan Batu Kotak.
Dari Batu Kotak perjalanan kita teruskan menuju di kawasan Tanah Putih, sekitar 1 jam perjalanan lalu kita dapat langsung menuju ke puncak. Dari Batu Kotak untuk mencapai puncak Gunung Sumbing membutuhkan waktu 2-3 jam lagi perjalanan pendakian.

Jalur Baru
Bila kita ingin melewati jalur baru dari Kampung Butuh kita menuju ke kawasan Boswisen sebelah barat yang membutuhkan waktu 2 jam perjalanan, melewati jalan berbatu dan menanjak. Boswisen merupakan batas ladang dan hutan pinus milik PERHUTANI dan terdapat pondok yang merupakan Pos I. Pos ini bisa dipergunakan untuk bermalam bila kita tidak bermalam di desa dan pagi harinya kita meneruskan perjalanan.
Dari Pos I Perjalanan kita lanjutkan menuju ke pos II yang dinamakan Pos Gatakan, sekitar 3 Km. Dari pos II perjalanan kita lanjutkan sampai menemui pertigaan, yang merupakan pertemuan jalur lama dan jalur baru, sekitar 1-1,5 jam. Seterusnya perjalanan kita teruskan melewati jalur lama menuju ke puncak. Puncak Gunung Sumbing berbentuk kaldera kecil yang bergaris tengah 800 meter, dengan kedalaman 50-100 meter dan beberapa puncak yang runcing dan sulit untuk dicapai. Dari Desa Garung ke puncak membutuhkan waktu 7-8 jam perjalanan, sedang turunnya membutuhkan waktu 5 jam.


READ MORE ...

Senin, 08 Juni 2009

Gunung Patuha

Bandung, sebagai kota wisata, tak pernah sepi dari objek-objek menakjubkan. Kota berhawa dingin ini memang gudangnya tempat wisata yang tepat untuk melepas penat di tengah hiruk pikuk metropolitan.
Seperti kawasan Hutan Bandung Selatan yang menawarkan eksotiknya Kawah Putih. Sebuah kawah besar yang mengandung cairan belerang, terletak di lereng gunung Patuha, kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung. Terletak kurang lebih 45 km dari selatan kota Bandung, berada di antara jalur Ciwidey - Situ Patengan

Menuju lokasi danau Kawah Putih, dari pintu masuk hingga ke kawah jaraknya sekitar 5 km atau bisa ditempuh sekitar 20 menit. Melalui jalan beraspal yang berkelok-kelok dengan pemandangan hutan tanaman Eucalyptus dan hutan alam dengan aneka ragam species hutan hujan tropis.
Selain bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan, dapat pula ditempuh dengan berjalan kaki atau lintas jalan kaki sejauh 7 km dari objek wisata alam Punceuling, melalui jalan setapak hutan alam. Meski perjalanan agak melelahkan, namun di sepanjang perjalanan akan terhibur dengan suasana hutan alam dan udara segar dan bersih. Bagi petualang, jalur ini menjadi alternatif yang cukup menantang hingga mencapai objek wisata kawah.

Kawah putih berada di ketinggian 2.194 m meter di atas permukaan laut, terbentuk saat terjadi letusan gunung Patuha sekitar tahun 1000-1200. Sekarang kawah ini sudah relatif stabil, dengan tidak adanya aktivitas aliran magma yang membahayakan sejak tahun 1600.
Sebelum ditemukan Kawah Putih di puncak Gunung Patuha, masyarakat menganggap puncak itu sebagai daerah yang angker, tak seorang pun berani menjamahnya. Bahkan, karena angkernya, burung yang melewati kawah pun akan mati. Kisah-kisah turun-temurun yang beredar di kalangan penduduk setempat menyebutkan, puncak Gunung Patuha dulu merupakan tempat pertemuan para leluhur Bandung Selatan.
Puncak tertinggi Gunung Patuha dinamakan Puncak Kapuk. Konon di situlah para leluhur berembuk memperbincangkan kesejahteraan dan keamanan masyarakat melalui penjagaan kelestarian hutan.
Penduduk setempat juga mengatakan, makam para leluhur itu dipercaya berada di Puncak Kapuk. Pada waktu-waktu tertentu, sering ada orang yang kawenehan (secara kebetulan) melihat seekor domba yang bulunya hijau mirip lukut, sehingga disebut domba lukutan, dan dipercayai sebagai ternak peliharaan para leluhur tadi.
Misteri keindahan danau Kawah Putih baru terungkap tahun 1837, oleh seorang ilmuwan Belanda peranakan Jerman, Dr. Franz Wilhelm Junghun, yang juga seorang pengusaha perkebunan Belanda yang mencintai kelestarian alam.
Saat itu, Junghun mengadakan perjalanan ke Gunung Patuha, dia sempat bertanya pada masyarakat setempat tentang suasana alam yang dirasakannya sangat hening dan sunyi itu. Ternyata dia mendapat jawaban, bahwa di kawasan tersebut merupakan daerah angker sebagai kerajaan jin dan tempat bersemayamnya roh para leluhur. Kondisi lembah Gunung Patuha pada waktu itu masih berupa hutan lebat, dipenuhi pohon-pohon kayu jenis lokal, seperti rasamala, saninten, huru, samida, dan lain sebagainya.
Namun, Junghuhn tidak mempercayai cerita itu begitu saja, sambil melanjutkan perjalanan menembus hutan belantara hingga akhirnya menemukan sebuah danau kawah yang indah. Dari dalam danau itu keluar semburan lava bau belerang yang menusuk hidung. Ternyata kondisi belerang yang sangat tinggi itulah yang menyebabkan burung enggan terbang di atas permukaan kawah.
Meski sudah ditemukan, keindahan danau Kawah Putih tetap saja tak dikenal dan belum bisa dinikmati oleh masyarakat luas. Hingga 1987 PT Perhutani (Persero) Unit III Jabar dan Banten mengembangkannya menjadi sebuah objek kunjungan wisata.
Popularitas Kawah Putih mulai meningkat. Apalagi lokasinya merupakan satu rangkaian dengan objek-objek wisata hutan Bandung Selatan lainnya, seperti Rancaupas dan Cimanggu.
Rancaupas sudah sejak lama menjadi areal penangkaran rusa. Di dekat areal penangkaran rusa, terdapat bumi perkemahan yang selalu padat pada musim liburan sekolah, terutama pada bulan Juli-Agustus. Cimanggu merupakan kolam renang air panas yang cukup luas. Dilengkapi kamar-kamar mandi khusus juga beberapa cottage.

Kawah Putih memang menakjubkan, baik dari sosok penampilannya, maupun dari aspek kelestarian lingkungannya. Cekungan seluas 25 hektar itu berair keputih-putihan.
Air danau kawahnya selalu berubah-ubah warna. Terkadang berwarna hijau apel dan kebiru-biruan, bila terik matahari dan cuaca terang, terkadang pula berwarna coklat susu, kuning terang dan yang paling sering dijumpai adalah berwarna putih disertai kabut tebal di atas permukaan kawah.
Bahkan, tatkala sore hari, air danau kawah pun, tiba-tiba pasang surut. Selain permukaan kawah yang berwarna putih, pasir dan bebatuan di sekitarnya pun didominasi warna putih. Karenanya kawah itu dinamakan Kawah Putih. Mirip dengan Danau Kalimutu.
Bila malam hari berkunjung ke Kawah Putih, keajaiban alam pun akan terjadi. Sekitar pukul 21.00, saat langit cerah dengan disinari bintang-bintang, dari danau kawah putih terlihat pancaran cahaya terang kehijau-hijauan menghiasi kawah. Kemudian, dari bias cahaya berwarna hijau itu, membentuk sebuah lingkaran yang mampu menerangi seluruh lokasi kawah. Benar-benar menakjubkan untuk dilihat.
Keberadaaan danau Kawah Putih di puncak Gunung Patuha yang menurut penelitian masih tergolong aktif itu di batasi oleh dinding bebatuan terjal di sebelah utara dan di sebelah barat masih terdapat pancaran kawah yang bergolak. Jika ingin lebih dekat kawah bisa melalui pintu masuk di sebelah timur. Tak jauh dari lokasi kawah terdapat sebuah gua buatan sedalam 5 meter.
Keindahan kawah pun bisa dinikmati lebih dekat lagi, sambil berjalan santai atau pun duduk-duduk pada shelter-shelter. Sementara beraneka jenis flora dan fauna bisa dijumpai di sekitar kawah, seperti tanaman Cantigi dan Lemo, yang berbau harum seperti minyak lawang. Khasiat tanaman Lemo, dapat mengusir binatang berbisa seperti ular. Selain itu terdapat pula tanaman Vaccinium sebagai vegetasi khas daerah kawah.
Bila kita akan naik ke puncaknya bisa mendapati bunga Eidelweis. Adapun jenis fauna yang sering muncul, antara lain elang, monyet, kancil, babi hutan serta macan kumbang dan tutul.
Keindahan danau Kawah Putih Gunung Patuha, memang sangat mempesona dan menakjubkan. Bahkan, jika sudah mengetahui keajaiban alamnya, pasti akan mengatakan tak ada kawah yang seindah Kawah Putih.
Karena keindahan alamnya, Kawah Putih sering dijadikan tempat syuting film dan sinetron. Ditunjang jalan yang cukup mulus, dari jalan raya Ciwidey hingga ke areal parkir di dekat kawah, maka pengunjung Kawah Putih dari hari ke hari terus berjubel.
Tertarik untuk menikmati keindahannya? Siapa tau bisa ketemu artis waktu ada syuting. Lumayan khan?

Sumber: KapanLagi.com

Posting lebih lengkap tentang Gunung Patuha sedang saya susun. Ditunggu Yaa..
salam, Blackmamba..


READ MORE ...