Rabu, 03 Juni 2009

Tips Cari Ongkos Naik Gunung

Udah pernah naik gunung?...
Hah… belom?
Yaudah gak usah baca, yang baca yang udah pernah naik gunung aja….
Hehehe… diseriusin aja ah… Lanjut Yuuk…..
Buat kawan – kawan yang hobi naik gunung, atau setidaknya yang udah pernah nyoba mendaki, pasti dah tau kan asiknya kayak gimana..?
Menikmati keindahan ciptaan tuhan dari ketinggian,setelah sebelumnya berjuang menaklukkan rasa takut, letih,lapar, dingin, putus asa, adalah kebanggan yang gak bisa dibayar pake kertas Koran…. Ya iyalah, kertas Koran mana laku.. aya – aya wae…
Tapi bener kok, kepuasan yang kita dapet gak bisa dibandingin peke apapun..
Bikin kita mauu… dan mauuu lagi.. yang udah pernah naek pasti setuju kan…
Yang belom pernah.. ANDA HARUS COBA!!!!..

Cuma masalahnya, dan ini selalu aja jadi masalah utama, naik gunung tuh butuh biaya..
Buat ongkos transportasi, buat beli peralatannya, emang sih kita bias minjem, tapi kan lebih enak kalo kita punya sendiri. Lagian kan kalo minjem mulu kan malu. Kalo nggak malu yaa… namanya Gak Tau D***…. Hehehe.. Kidding, Wollezz kang..
trus belom lagi buat beli perbekalan atau logistik.
Banyak dikitnya biaya yang diperlukan ya tergantung dari kitanya sendiri, kalo dana kita cekak, ya kita nyari transportasi yang murah2 aja.. jangan dana cekak terus kita naik yang eksekutive, bisa berangkat gak bisa pulang… hehehe..

Buat yang udah kerja, atau yang udah punya penghasilan sendiri sih, soal biaya masih bias di kondisikan. Tinggal nyisihin duit gaji tiap bulan, itu pun kalo masih ada sisa. Belom buat makan, bayar kontrakan, bayar kredit motor, bayar kasbonan bulan kemaren, bayar utang di warung sebelah.. abis donk.. 
Trus gimana buat sohib – sohib yang masih sekolah atau kuliah, yang uang jajannya masih mengandalkan kebaikan hati orang tua..?
mmmmm… gimana ya…? Tiba2 ada yang nyeletuk..

- Yang sok bijak “ Saya tau..!! ngumpulin lah.. hemat pangkal kaya choy..”
- Yang sekolah “ Mana bisa, dah abis buat malem mingguan, N nonton ma Bokin”
- Yang sok bijak “ Ya udah cari kerja aja..!!”
- Yang sekolah “ Kan sekolah, mana ada waktu sih, “
- Yang sok bijak “ Ya udah nggak usah naek gunung kalo nggak punya duit..!!!”
- Yang sekolah “ Kambing..!!! Ke laut aja loe..!!”
Akhirnya dateng pemuda tampan yang bijak beneran, katanya sih namanya catur… trus ngomong gini.. (yang ini serius..)
“ Eh.. eh.. gak perlu ribut – ribut gitu, saya punya solusinya.. begini, kalo kisanak pengen punya duit sendiri buat naek gunung, tapi gak punya waktu buat nyari kerja, kenapa gak coba cari tambahan duit di internet aja.. banyak kok caranya.. banyak juga yang udah nyobain, dan banyak juga yang berhasil. Soal waktu kita gak usah pikirin, kita bisa kerja dari rumah kalo dirumah udah bisa internetan, atau kalo gak ada internet dirumah, kita bisa juga dari warnet, lagian kan warnet sekarang kan dah murah – murah tuh. Cukup satu jam aja sehari.. dan asiknya lagi kita bisa libur kapanpun kita mau, jadi bisa kapanpun naik gunung.. hehehe..”
Yang dua orang tadi jadi penasaran tuh…
- Yang sok bijak : “Wah.. boleh juga tuh.. gimana caranya kisanak..?”
hehehe, rupanya yang sok bijak ini juga pengen banget naek gunung, tapi gak punya ongkos juga.. weleh –weleh.. pake sok nasehatin lagi nih orang.. aya – aya wae..
terus si pemuda tampan tadi ngelanjutin..
“ Ada banyak cara buat cari tambahan penghasilan lewat internet. Sekarang ini emang lagi marak macam – macam bisnis internet. Ada yang gratis, atau tanpa investasi, tapi ada juga yang mengharuskan kita menanam modal atau berinvestasi terlebih dahulu. Logikanya sih, yang pake modal biasanya lebih kongkrit.. atau lebih jelas keuntungannya gitu. Tapi semua kembali lagi pada yang ngejalanin. Karena usaha atau bisnis apapun, kalo kita ngejalaninnya dengan serius, tekun dan pantang putus asa, hasilnya juga InsyaAllah akan memuaskan. Bukan begitu bukan.?!!  ..

• yang gratisan ada yang namanya program PTC (Paid To Click). Disini anda anda akan mendapat bayaran hanya dengan mereview atau mengklik iklan. Tugas anda hanya perlu mengklik iklan yang ada di situs PTC tersebut dan mereviewnya selama beberapa detik (biasanya antara 20 – 30 detik ) setelah itu akan ada konfirmasi bahwa uang anda telah bertambah. Besarnya bayaran anda untuk setiap iklan yang anda review bergantung dati situs PTC yang bersangkutan. Biasanya berkisar antara Rp. 25,- s/d Rp. 150,- per iklan. Jumlah iklan yang bisa anda review pada setiap situs PTC pun bervariasi, antara 3 s/d 15 iklan. Untuk lebih jelasnya tentang PTC, silahkan klik disini

• selanjutnya ada yang dinamakan Paid To Share File. Program yang satu ini akan membayar anda untuk setiap file yang di download. Anda akan dibayar $0,001 per file yang di download. Jadi jika ada 1000 orang yang mendownload file anda, maka anda akan dibayar $1. anda cukup mengUpload sebuah file, lalu anda akan diberikan sebuah Link download. Nah, jika nanti ada yang mendownload file tersebut, anda akan mendapatkan uang. Sederhana bukan? Gampang dan sederhana, tapi kalau anda menjalaninya dengan serius dan sungguh – sungguh, saya yakin hasilnya tidak akan sesederhana prosesnya.  Silahkan klik disini untuk mendaftar.

Masih banyak lagi cara2 mendapatkan penghasilan tambahan internet. tapi yang jelas segala sesuatu tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya usaha dan kerja keras. Jangan cepat terpengaruh dengan promosi2 yang menggiurkan dari penyadia layanan bisnis di internet. mereka tidak bohong, apa yang mereka janjikan memang bisa anda raih. Tapi tentu saja tidak semudah membalikkan telapak tangan, dan sama sekali tidak otomatis. Kerja keras tetap diperlukan agar usaha anda bisa berjalan dengan baik dan menghasilkan keuntungan yang anda harapkan. Terus, Bisa naik gunung lagi deh.. berangkat…!!

Untuk model bisnis internet lainnya akan saya posting secepatnya..
Untuk sementara yang itu dulu ya..
Biar anda nggak bingung kalo kebanyakan..
Oke..?... oke..?.. woi…!!!!.. OK gak.?”

-Yang sok bijak dan yang sekolah “zzzzzzzzz…zzzzzz”
-Pemuda Tampan “KAMBING, !!!!!!.”


READ MORE ...

Selasa, 02 Juni 2009

Gunung Merbabu Jalur Wekas

ini pendakian pertama saya. Berkat ajakan seorang teman, akhirnya saya bisa juga merasakan nikmatnya sensasi mendaki gunung. Dan yang akan menjadi gunung pertama yang saya daki adalah gunung merbabu.

Gunung Merbabu memiliki ketinggian 3142 mdpl (Meter diatas permukaan laut). Secara geografis terletak diantara 110o 1’ – 110o 37’ BT dan 7o 8’ – 7o 35’ 27” LS. Dan berada di 3 kabupaten, yaitu Magelang, Salatiga, dan Kabupaten Boyolali. Gunung ini termasuk jenis gunung Stratovulcano. Berada pada rangkaian gunung yang mengarah ke utara bersama gunung Merapi, T
elomoyo, GajahMungkur, Gunung Andong dan Gunung ungaran. Gunung ini pernah meletus beberapa kali, dan terakhir pada tahun 1968.

Gunung Merbabu merupakan salah satu gunung dengan jalur pendakian terbanyak di Indonesia. Jalur ya
ng biasa digunakan oleh pendaki diantaranya adalah jalur Wekas via Magelang, Jalur Kopeng via Salatiga, dan Jalur Selo via Boyolali. Untuk pendaki yang ingin melakukan pendakian estafet Merapi – Merbabu, bisa melalui jalur Selo. Dan kali ini, kami akan melakukan pendakian gunung Merbabu melalui Jalur Wekas, karena salah seorang teman kebetulan mempunyai famili di Magelang, jadi bisa sekalian mampir.

Untuk menuju Magelang, dari Jakarta anda bisa menumpang Bus dari terminal Lebak Bulus, K
ampung Rambutan atau Pulogadung. Ongkosnya bervariasi, tergantung bus yang anda tumpangi. Kami membayar 40rb per orang untuk bus ekonomi (Tahun 2003), untuk update informasi ongkos terbaru akan saya posting secepatnya. Kami berangkat dari terminal Lebak Bulus Pukul 5 sore, dan tiba di terminal magelang pada pukul 6 pagi. Dari terminal magelang, anda bisa menumpang bus mini jurusan kopeng, dan turun di pertigaan kaponan, tepatnya di depan gapura desa wekas. Kemudian diteruskan dengan berjalan kaki sejauh 3km menuju pos pendakian. Sementara kami waktu itu singgah dulu di Magelang, kemudian sorenya baru menuju wekas dengan mencarter mobil bak tertutup, seacam angkutan pasar dengan biaya 60rb (Tahun 2003).

Wek
as merupakan desa terakhir menuju puncak merbabu. Jalur ini cukup popular dikalangan pendaki, terutama dari daerah magelang dan sekitarnya, karena cukup dekat dan banyak terdapat sumber mata air. Waktu tempuh untuk menuju puncak kira-kira 6 – 7 jam. Jalur wekas merupakan jalur pendek, sehingga jarang terdapat lintasan yang panjang membentang. Lintasan menuju pos I cukup lebar, dengan bebatuan yang mendasarinya. Sepanjang perjalanan akan ditemui ladang penduduk khas dataran tinggi yang ditanami bawang, kubis, wortel, dan tembakau. Rute menuju pos I cukup menanjak dengan waktu tempuh sekitar 2 jam.







POS I _ POS II


Pos I merupakan sebuah dataran dengan sebuah balai sebagai tempat peristirahatan. Di se
kitar area ini masih banyak terdapat warung dan rumah penduduk. Selepas pos I, perjalanan masih melalui ladang penduduk. Kemudian masuk hutan pinus. Waktu tempuh menuju pos II adalah sekitar 2 jam.



POS II – POS HELIPAD

Pos II merupakan sebuah tempat yang datar dan terbuka. Tempat ini mampu memuat hingga beberapa puluh tenda. Pada area ini terdapat sumber air yang disalurkan melalui pipa – pipa besat yang ditampung pada sebuah bak. Dari Pos II terdapat jalur buntu yang menuju ke sebuah sungai yang dijadikan sumber air bagi masyarakat sekitar Wekas hingga desa-desa di sekitarnya. Jalur ini mengikuti aliran pipa air menyusuri tepian jurang yang mengarah ke aliran sungai dibawah kawah. Terdapat dua buah aliran sungai yang sangat curam yang membentuk air terjun yang bertingkat-tingkat, sehingga menjadi suatu pemandangan yang sangat luar biasa dengan latar belakang kumpulan puncak - puncak Gn. Merbabu.
Selepas pos II jalur mulai terbuka hingga bertemu dengan persimpangan dengan jalur kopeng yang berada diatas pos IV jalur kopeng (Watu Tulis). Dari persimpangan ini menuju pos Helipad hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Jika anda mendaki pada musim kemarau, saya sarankan agar anda membawa masker atau penutup hidung. Karena jalur yang sangat berdebu membuat sesak napas anda. Saya sendiri sampai menggunakan pengganjal bahu jas sebagai masker, maklum, pendakian pertama, minim persiapan. Hehehe…

POS HELIPAD – PUNCAK KENTENG SONGO

Pos Helipad dipagari oleh tebing – tebing curam yang merupakan puncak – puncak merbabu yang terpisah, seperti puncak kukusan (2968 mdpl), puncak Pringgodalem (3119 mdpl), puncak Syarif, dan puncak Kenteng Songo yang merupakan puncak tertinggi. Mata air akan ditemui 150m arak kanan pos ini (menghadap puncak). Disamping mata air ini juga akan ditemui kawah mati yang bernama kawah Candradimuka. Disini pendaki harus benar – benar pintar memilih antara air tawar dan air yang mengandung belerang.
Selepas pos Helipad, pendaki akan dihadapkan pada rute terberat yang bernama jembatan setan. Lintasan ini merupakan punggungan tipis dengan jurang menganga pada sisi kiri dan kanan lintasan. Ditambah lagi hembusan angin yang cukup kencang disepanjang lintasan yang panjangnya 627m ini. Selepas jembatan setan, pendaki akan tiba pada sebuah persimpangan. Yang ke kiri, menuju puncak syarif, dengan jarak 180m dengan waktu tempuh sekitar 10 menit. Dan yang kekanan menuju puncak Kenteng Songo yang berjarak 433m. perjalanan melalui jalur ini memakan waktu 45menit dengan medan yang menanjak dan sesekali menurun. Dari puncak kenteng songo akan tampak di sebelah barat gunung sindoro dan gunung sumbing, disebelah timur gunung ungaran dan gunung lawu, sedangkan disebelah selatan dan yang terdekat adalah Gunung Merapi yang berdiri gagah dan misterius.
Silahkan baca juga jalur pendakian gunung merbabu via kopeng disini


READ MORE ...

Pendaki Gunung atau Perusak Alam?

Jargon ini sudah lama sekali terdengar dikalangan para pendaki gunung, pecinta alam (mapala,sispala maupun freelance) dan para petualang (mungkin juga termasuk saya atau anda). Apakah "Pendaki Gunung itu Perusak Alam?". Benarkah pameo ini mengisyaratkan bahwa kegiatan mendaki gunung itu merusak alam??? Dalam tulisan kali ini saya ingin berbagi pendapat dan sharing dengan teman-teman apakah pendaki gunung itu perusak alam. Baiklah, tanpa harus berbasa basi lagi saya ingin mengutarakan pemikiran saya, yang mungkin saja sama dengan pemikiran teman-teman

Yah...ketika kita mendaki gunung, kita mungkin melewati jalur (route) yang sudah ada dibuat yang khusus untuk pendakian. Terkadang pula kita terkonsep pada sebuah kegiatan ekspedisi untuk membuat jalur pendakian baru pada sebuah gunung. Nah, dari salah 2 (dua) contoh cara mendaki gunung tersebut, masing-masing mempunyai peranan dalam pelestarian alam, Tergantung dari sudut pandang mana kita akan menilainya.

Jika kita mendaki pada jalur yang sudah ada, kemungkinan kecil kita akan melakukan perusakan (dalam hal ini memotong atau menebas) alam. Ketika kita mendaki melewati jalur yang ada, minimal yang kita tinggalkan adalah "jejak kaki"(footprints). Namun dari beberapa pendakian yang pernah saya lakukan baik itu di gunung-gunung Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur dan Kalimantan Barat melalui jalur yang sudah ada, pemandangan yang saya saksikan Teramat sangat Indah dan mempesona. Namun ada juga pemandangan yang membuat saya (atau anda) pasti akan mengumpat, berguman (bahkan memaki), ketika melihat pohon yang telah dijahili, disayat oleh belati "pendaki jahil" yang tak mau diam. Apalagi melihat setumpuk bebatuan yang sudah berwarna-warni tak karuan bertuliskan nama-nama yang tidak jelas, hanya untuk menunjukan bahwa mereka pernah berada disana. (ohhh...shitt!!). Apalagi jika kita membuang sampah digunung, oh...bisa dibayangkan hampir disetiap pos (shelter) pendakian pasti ditemukan sampah-sampah non-organik yang dengan sengaja ditinggalkan oleh pada "pendaki jahil" tersebut. Sungguh memalukan (dimana MORAL anda wahai "pendaki jahil"...???)

Nah, apabila kita mendaki gunung dalam kegiatan yang terkonsep (misalnya ekspedisi) untuk membuat jalur pendakian baru, maka yang pasti dilakukan adalah "sedikit" membabat hutan (pohon,ranting dan semak) untuk digunakan sebagai jalur pendakian.Oke, baiklah, mungkin bagi kita hanya sedikit membabat hutan. Namun, ada dampak lain yang akan ditimbulkan jika jalur baru tersebut sudah dipublikasikan dan ramai digunakan sebagai jalur pendakian. Apa yang mungkin akan terjadi??? Salah satu jawabannya adalah "sampah". yeah...sampah lagi-sampah lagi.....!!!

Saya pribadi sangat TIDAK SETUJU jika digunung disediakan Tempat Sampah, seperti yang ada pada nasib gunung Gede-Pangrango via jalur Cibodas. Kenapa???? Yeah...karena walaupun sudah dsediakan bak sampah dan "segudang" peraturan yang berlaku pada Gunung ini dan terkesan sangat Ketat dan konservativ, ternyata Sampah-sampah ini hanya berserakan saja pada bak penampungan, bahkan meluber kemana-mana. Pemandangan tersebut saya saksikan ketika mendaki gunung ini pada bulan November 2008 yang lalu. Dalam perjalanan turun, tak lupa saya mengais sedikit dari sampah yang ada itu kedalam 'treshbag' yang saya bawa, namun karena tidak mencukupi maka sampah itu tak dapat saya bawa turun semua, bukan maksud saya untuk menyombongkan diri lho, hanya sedikit berbagi cerita saja. (Padahal kawasan itu merupaka kawasan Taman Nasional)...kok bisa ya...??? Ini terkesan bahwa gunung sebagai tempat sampah (karena difasilitasi oleh bak sampah), sehingga "pendaki jahil" dengan seenaknya saja meninggalkan sampahnya.

Demikianlah sedikit cerita petualangan dan pemikiran saya yang tersirat dalam tulisan ini.....Teman-teman pembaca yang Budiman, tolong berikan komentar anda untuk kita sama-sama sharing dan sedikit mengingatkan "pendaki jahil" tersebut jika kebetulan dia membaca tulisan ini.

Jika Pohon Terakhir sudah ditebang,
Sungai Terakhir Sudah Tercemar,
dan Ikan Terakhir sudah ditangkap,
Maka Manusia akan sadar...
UANG TIDAK DAPAT DIMAKAN


Salam Lestari...........!!!
Best Regards,
Yohanes Kurnia Irawan
READ MORE ...

Sabtu, 30 Mei 2009

Megawati Berjabat Tangan dengan SBY saja Enggan, Gimana Mau Jadi Presiden....????

Hari ini masing-masing pasangan Capres-Cawapres mengambil nomor urut dalam Pilpres tanggal 8 Juli 2009 Nanti. namun dalam siaran di televisi yang saya saksikan, begitu nyata ibu Megawati enggan (atau sengaja) bersalaman dengan Presiden SBY setelah foto bersama sambil mengangkat nomor urut masing-masing. Setelah diingatkan wartawan, barulah sambil sedikit tersenyum (kayaknya sambil terpaksa) mendatangi presiden SBY untuk berjabat tangan. Bahkan sebelumnya, ketika presiden SBY menghampiri ibu Megawati, entah sengaja atau tidak ibu Megawati tidak menatap wajah presiden (padahal ini pertemuan mereka untuk pertama kalinya lho setelah 5 Tahun...!!!) dan jabat tangan mereka hanya berlangsung tidak lebih dari 2 detik...!!!

Sebenarnya saya enggan untuk mengomentari masalah POLITIK. Namun, hati kecil saya sebagai warga negara yang punya hati dan punya otak untuk berfikir setidaknya turut prihatin menyaksikan hal tersebut. Bagaimana tidak...., seorang CAPRES yang mungkin nantinya akan memimpin Negara ini dengan terang-terangan menunjukan sikap persaingan yang (menurut saya) tidak positif.

Dalam tulisan ini saya tidak ingin menjelek-jelekan Capres ataupun Cawapres yang telah lolos seleksi....Namun masyarakat dapat menilai sendiri situasi Politik ditanah Air kita yang sedang panas-panas nya ini...Wow....sungguh sebuah pemandangan, seolah-olah ingin berebut KEKUASAAN di Negri yang kaya ini (Berebut......????kayak Kucing aja ya...:)Kita mungkin cuek dengan keadaan sekarang, namun yang harus kita fikirkan juga adalah diri kita sendiri kelak, jika salah dalam menjatuhkan PILIHAN.

Marilah saudara-saudaraku, kita dapat melihat sendiri, jika sebuah DENDAM politik masa lalu ikut mewarnai kancah politik saat ini, kita bisa bayangkan bagaimana demokrasi yang diharapkan oleh masyarakat serta Reformasi yang dikumandangkan rekan-rekan. Situasi Ekonomi sekarang ini juga dibawa-bawa hanya untuk menarik simpati. Membawa-bawa nama nelayan, petani, pedagang, pemulung, dan lainnya (petualang kok gak di sebut ya,.....Nah lo..)

Lebih baik para capres maupun cawapres ini ikut saya mendaki gunung aja deh, biar tau gimana rasanaya naik gunung itu...(hehehehehhehehe...), biar menemukan filosofi dari naik gunung. FIKIRKANLAH......!!!

Jika Pohon Terakhir sudah ditebang,

Sungai Terakhir Sudah Tercemar,
dan Ikan Terakhir sudah ditangkap,
Maka Manusia akan sadar...
UANG TIDAK DAPAT DIMAKAN

Salam Lestari,
Lestari Alamku-Lestari Indonesiaku.
READ MORE ...

Jumat, 29 Mei 2009

Pendaki Hilang di Gunung

Tulisan saya kali ini sedikit menyikapi apa yang sering dikumandangkan oleh media cetak & elektronik beberapa bulan terakhir ini dan mambuat saya kembali tersadar akan diri saya sebagai bagian kecil dari itu. Belum hilang dari ingatan kita 3 orang pendaki yang hilang di Gunung Agung tahun lalu, kemarin muncul lagi ada pendaki yang hilang di Gunung Salak (Jawa Barat) yang beritanya sangat heboh dilayar kaca. Bahkan dalam bulan mei ini ada 3 kasus hilangnya pendaki yang hilang (bahkan ada yang meninggal) saat mendaki gunung. Bulan mei ini tercatat 1 orang pendaki asal Surabaya tewas di Gunung Agung pada tanggal 2 Mei 2009 yang lalu. Kemudian muncul lagi berita ada pendaki asal Bekasi yang hilang di Gunung Ciremai (Jawa Barat), dan sekelompok pramuka hilang di Gunung Argopuro (JawaTimur). 2 berita terakhir ini dikabarkan selamat semua (menurut kabar dari rekan saya yang ikut nge-SAR).



Yah...apa hendak dikata, takdir membawa kita pada jalannya dan kita mengikuti alurnya saja (benarkah demikan...). Sedikit terhenyak menyaksikan siaran televisi yang mengabarkan ada pendaki yang hilang, terhenyak sms dan telfon dari rekan-rekan yang mengajak saya untuk ikut melakukan pencarian...namun posisi saya saat itu memang tidak bisa meninggalkan Jogja (diluar alasan kemanusiaan lho...).



Melakukan pendakian di Gunung bukan hanya mengandalkan kekuatan fisik saja. Banyak faktor lain yang harus di mengerti dan dipahami oleh setiap makhluk Pendaki Gunung. Selain faktor Alam yang sifatnya nyata dan danpat dirasakan, ternyata di Gunung juga banyak hal yang tidak nyata namun bisa dirasakan (semacam hal mistis), yang tentunya kita tidak boleh seenaknya saja di gunung.



Faktor Human Error bisa menjadi penyebab salah satu dari kasus pendaki yang hilang. Nekad, asal-asalan dalam manajemen, tidak mentaati etika setempat, dan banyak faktor dari dalam individu, termasuk dalam mengikuti aturan yang berlaku di gunung. Hal semacam ini yang bisa memicu terjadinya kasus tersebut.



Faktor lain adalah penguasaan medan, pengetahuan akan navigasi dan survival, yang sedikit banyak bisa membantu kita keluar dari masalah tersebut. Minimnya pengalaman bisa ditutupi oleh penguasaan materi (teori) dan kesempatan untuk mengaplikasikannya. Namun banyak yang mengindahkan hal itu.....(sangat disayangkan bukan..)



Yah...mendaki gunung sebaiknya tidak hanya sekedar mendaki saja. Banyak sekali pelajaran hidup yang didapat dari kegiatan mendaki gunung dengan segudang filosofi didalamnya. Ada baiknya jika kita mengetahui sejak dini apa yang akankita lakukan dan persiapan apa yang harus dipersiapkan. Semoga tulisan Konyol ini dapat menggelitik reken-rekan Petualang yang akan melakukan Pendakian.



Segala informasi menjadi penting untuk diperhatikan agar kita dapat mengantisipasi segala kemungkinan yang akan timbul....

Salam Lestari........



Best Regards,

Yohanes Kurnia Irawan

READ MORE ...

Wapalhi Tradisi Merapi 2009

Mendaki gunung memang kegiatan yang mengasyikan dan penuh tantangan. Selain kita dapat menikmati pemandangan yang indah, kita juga harus berjuang keras untuk dapat mencapai puncak. Melewati jalan setapak, jalur berliku, berbatu, berdebu, mulai dari jalan yang mudah dilewati hingga yang memerlukan keahlian khusus. Itulah seni mendaki gunung. Berikut adalah liputan reporter KAONAK saat meliput kegiatan pendakian masal yang digagas oleh Mahasiswa Pecinta Lingkungan Hidup (WAPALHI) Polines Semarang saat melaksanakan pendakian massal ke Gunung Merapi (2.962 mdpl) tanggal 2-3 Mei 2009, serta melaksanakan ritual khusus di Merapi.

Hari Sabtu sore yang cerah, tanggal 2 Mei 2009 sekitar pukul 15.30 saya sudah sampai di basecamp Bara Meru, basecamp yang biasa digunakan oleh para pendaki melalui jalur Selo, Boyolali. Ternyata rekan-rekan WAPALHI tidak menggunakan basecamp ini, melainkan basecamp bawah dengan menggunakan rumah penduduk dan mendirikan tenda untuk menampung para peserta untuk kegiatan malam harinya. Sekitar pukul 19.00 para peserta beserta tim dari WAPALHI sudah berkumpul, kemudian makan malam bersama, dan dilanjutkan dengan nonton bersama film petualangan. Suasana keakraban menyelimuti malam itu, hingga akhirnya mereka semua diminta untuk tidur dan beristirahat di basecamp yang disediakan.

Menurut ketua paitia, Prabowo “klowor”, peserta pendakian pada kegiatan kali ini berjumlah sekitar 200 orang dari berbagai kalangan, yang mayoritas berasal dari Semarang dan berangkat dengan menggunakan kendaraan truck. Pendakian rencananya akan dilakukan mulai pukul 02.00 pagi. Namun saya berinisiatif untuk terlebih dahulu naik pada malam itu dan menunggu peserta pendakian diatas sebelum pasar bubrah.
Keesokan harinya, minggu pagi peserta pendakian sudah kelihatan ada yang mencapai pasar bubrah. Mereka dibagi dalam beberapa tim untuk mempermudah pengawasan. Tiba di pasar bubrah, peserta beristirahat sejenak, sebelum melanjutkan pendakian melewati jalan terjal bebatua menuju puncak Merapi.

Rekan-rekan dari WAPALHI hanya beberapa orang saja yang mengawasi para peserta di puncak, Karena mereka harus melakukan ritual rutin di lokasi pasar bubrah, yaitu pelantikan Kepala Suku Wapalhi periode 2009-2010. Ada beberapa kandidat Kepala Suku yang akan dilantik, namun tentunya hanya satu orang yang akan menjadi kepala suku. Kandidatnya antara lain Ardian Muhammad “lembu, Irfan Jasa Putra “Kluak”, Yoga Sutop[o “Benyek”, Muhammad Anwar Kaspul” dan Sukma Ardianto “siMbah”. Dan pada saat yang ditunggu-tunggu, akhirnya saudara Adrian Muhammad “Lembu” dilantik menjadi Kepala Suku WAPALHI Periode 2009-2010.

“Sebuah langkah awal yang berat menuju puncak kesuksesan, tapi tetap semangat”, ungkap Lembu ketika saya wawancarai. “dukungan dari teman-teman WAPALHI sangat dibutuhkan untuk kemajuan WAPALHI secara khusus dan kita semua secara umum”, tambah Lembu.
Antusis peserta juga mengagumkan, karena saat ini jarang sekali ada yang mengadakan kegiatan pendakian pendakian massal. “Saya kagum, senang banget, dan saya juga salut sama WAPALHI yang setiap tahun bisa menyelenggarakan tradisi ini setiap tahunnya”, ujar Muhammad Ali Akso, salah seorang peserta pendakian missal ini yang notabene adalah ketua Forum Pecinta Alam Semarang (semacam Sekber kalo di Jogja). “dari pendakian missal ini diharapkan kita bisa berkumpul lagi dalm forum pecinta alam dan melakukan kegiatan bersama”, tambah Ali Akso yang juga anggota Matepala ATS Semarang ini.

Peserta pendakian mulai turun sekitar pukul 12.00 menuju basecamp, hingga peserta terakhir yang melewati flying camp saya sekitar pukul 15.00, diikuti oleh sweeper. Selain melakukan pendakian dan ritual di Gunung Merapi, ternyata ada agenda lain dari rekan-rekan WAPALHI yaitu bakti social di desa Selo, yaitu berupa penyerahan tong sampah, alat-alat kebersihan, sapu serta bibit sebanyak 200 batang.
Wah, ternyata mendaki gunung tidak hanya sekedar mendaki saja ya, kita juga harus peduli pada warga sekitar jalur pendakian. Contoh kecil yang dapat kita lakukan adalah tidak mencorat-coret tembok, pohon atau batu. Seain itu kita juga sebaiknya membuang sampah pada tempatnya, untuk menjaga keindahan dan kelestarian lingkungan kita.

Selamat buat Kepala Suku WAPALHI yang baru, semoga membawa harapan baru dan perubahan baru untuk kemajuan WAPALHI. Salam Lestari…..

PECINTA ALAM BERSATU TAK BISA DIKALAHKAN

Report by : Yohanes Kurnia Irawan
Untuk KAONAK edisi-54
Media Informasi Independen
GAPADRI MAPALA STTNAS YOGYAKARTA
READ MORE ...

Kamis, 28 Mei 2009

Struktur Geologi Gunung Merbabu

Bentuk dan struktur Gunungapi Merbabu, bentuknya besar sekali jika dibandingkan dengan gunung Merapi yang sangat ramping yang tampaknya merupakan suatu gunungapi yang tumbuhnya berlebihan. Bagian puncaknya dapat dibagi menjadi tiga satuan yang merupakan sektor Graben Gunungapi, yakni :

a. Graben Sari dengan arah timur tenggara – barat baratlaut.
b. Graben Guyangan dengan arah selatan baratdaya – utara timur.
c. Graben Sipendok dengan arah barat laut – timur tenggara.

Erupsi samping gunungapi Merbabu banyak menghasilkan aliran lava dan aliran piroklastik, aliran lava tersebut mengalir melalui titik erupsi yang diselimuti oleh endapan piroklastika baik aliran maupun jatuhan. Titik-titik erupsi tersebut diperkirakan melalui jalur sesar dengan arah utara baratlaut – selatan tenggara serta melalui daerah puncak.
Morfologi gunungapi Merbabu dapat dibagi menjadi beberapa satuan berdasarkan penampilan bentuk rupa bumi pada peta topografi (Hamidi.S dkk 1988) masing-masing :
1. Satuan morfologi sisa graben (daerah sekitar puncak), satuan morfologi ini terdiri dari 3(tiga) bagian yakni Graben Sari, Graben Guyangan dan Graben Sipendok. Ketiga graben tersebut diperkirakan adalah hasil kegiatan volkano tektonik dimana kegiatan tektonik berupa sesar di-ikuti oleh kegiatan erupsi dan kemudian di-ikuti pula oleh kegiatan erupsi samping yang membentuk kerucut erupsi samping.
2. Satuan morfologi aliran lava Kopeng, satuan morfologi aliran lava ini jelas dapat dilihat di lapangan yang membentuk punggung lava yang sangat menonjol, dimana batuan yang mengalasi berupa aliran lava.
3. Satuan morfologi Kerucut Watutulis,Satuan morfologi ini merupakan kerucut erupsi samping (flank eruption) yang banyak menghasilkan aliran lava yang bersifat andesitis – basaltis dan piroklastika, baik aliran maupun jatuhan.
4. Satuan morfologi Kerucut Gunung Pregodalem, keadaan satuan ini sama dengan satuan morfologi kerucut Gunung Watutulis, dimana kerucut ini dapat dipertimbangkan sebagai sumber bahaya apabila terjadi peningkatan letusan.
5. Satuan morofologi titik-titik erupsi samping, satuan morfologi ini sangat banyak terdapat didaerah gunung Merbabu, berdasarkan peta rupa bumi daerah yang terkait, satuan morfologi ini membentuk suatu kelurusan rupa bumi yang ber-arah utara baratlaut – timur tenggara, bentuk kelurusan rupa bumi ini dapat mencerminkan adanya bentuk struktur sesar yang melalui daerah puncak gunungapi Merbabu.
Stratigrafi gunungapi Merbabu, sifat letusan dari pada gunungapi ini diantaranya adalah eksplosif, disamping itu bersamaan dengan sifat efusif yang dapat dibuktikan dengan adanya aliran lava, baik yang berasal dari pada kegiatan erupsi pusat maupun erupsi samping. Sifat eksplosif dapat dibuktikan dari banyaknya endapan piroklastika yang tebal. Secara umum gunungapi Merbabu terdiri atas aliran piroklastika, aliran lava, endapan banjir bandang pada Th 1985 dan endapan longsoran (Hamidi,1988)
1. Aliran piroklastika, ini menyebar di seluruh bagian tubuh gunungapi Merbabu, sifat singkapan tertentu dengan warna abu-abu ke-kuningan, berbutir halus hingga kasar, kadang kala ditemukan lapisan semu (“surge”), lokasi singkapan dapat dilihat di sekitar Jrakah ditemukan lapisan sebanyak lebih dari 12 lapisan piroklastika aliran dengan tanah hasil pelapukan yang sangat tebal.
2. Aliran lava, gunungapi Merbabu secara umum mengisi bagian lembah sungai yang terdapat di sekitar gunungapi tersebut, ber-umur paling muda menurut urutan umur stratigrafi. Akan tetapi di daerah Selo Redjo ditemukan aliran lava tua dengan sifat pelapukan yang sudah lanjut. Di daerah Kopeng aliran lava membentuk suatu pematang aliran lava yang sangat tinggi dan membentuk lidah lava.
3. Endapan banjir bandang di daerah gunungapi Merbabu di temukan didaerah Kaponan, pada dasar sungai Soting, dimana menurut keterangan penduduk setempat pada Th.1985 telah terjadi banjir bandang yang telah merusak jembatan penghubung antara Kaponan dengan daerah lainnya, sifat endapan banjir bandang ini seperti endapan sungai, terdiri dari bongkah-bongkah lava andesitis sampai basaltis, pasir sangat kasar, masih segar dan mudah lepas.
4. Endapan longsoran (debris avalanche) dapat ditemukan didaerah Salatiga, dimana bukaan yang sangat besar dengan arah ke utara – timurlaut, yakni daerah wilayah Salatiga.

Peneliti Terdahulu
Beberapa peneliti terdahulu diantaranya adalah Junghun pada Tahun 1850 dan Verbeek & Fennema pada Tahun 1896. Menurut Verbeek & Fennema Th.1896, telah menemukan hasil erupsi berupa lava basaltis yang mengalir dalam sungai-sungai kecil diantara Boyolali dan Selo. Van Bemmelen, R.W. 1941, telah memetakan daerah G. Merbabu serta membagi beberapa satuan batuan hingga menjadi 9 (sembilan satuan) diantaranya:

1. Kerucut Merbabu (terutama lava basaltis andesitis dan breksi).
2. Dataran tinggi Kopeng yang diselimuti oleh lapisan abu.
3. Kaki kerucut Merbabu (terutama breksi lahar dan lava)
4. Aliran lava muda kerucut Merbabu (erupsi samping)
5. Kaki utara Merapi diselimuti oleh abu G.Merapi
6. Kawah (erupsi samping)
7. Erupsi pusat berupa aliran lava muda
8. Mofet dan solfatara di gunungapi Merbabu.
9. Sisa struktur volkano – tektonik (sektor graben)

Penelitian yang dilakukan oleh Neuman van Padang 1951, telah menemukan bahwa gunungapi tersebut telah mengeluarkan basalt olivin augit, andesit augit dan andesit hornblende hiperstein augit.

Demikian pula menurut Mac Donald 1972, melaporkan bahwa pada th.1797, gunungapi Merbabu meletus melalui erupsi samping dan erupsi pusat, namun tidak dilaporkan bahwa hasil erupsi yang telah dikeluarkan serta kerusakan dan korban akibat kegiatan erupsi tersebut.

GEOKIMIA
Jenis Batuan : Menurut Neuman van Padang 1951, batuan yang dihasilkan oleh Gunungapi Merbabu adalah ; Basalt olivin augit, Andesit augit dan Andesit hornblende hiperstein augit.

MITIGASI BENCANA GUNUNGAPI

Pemantauan aktivitas gunungapi Merbabu dilakukan secara Visual dari Pos Pengamatan yang terdekat (G.Merapi). Daerah Bahaya Gunungapi Merbabu yang dilakukan oleh Hamidi.S dkk, 1988, dapat dibagi menjadi 3(tiga) kategori, diantaranya adalah :
1. Daerah Bahaya Primer, daerah bahaya ini meliputi daerah puncak dan sekitarnya dengan radius sekitar 4-5 Km dari titik pusat erupsi, selain itu mempertimbangkan pula adanya titik-titik erupsi samping yang menempati zona pelurusan topografi dengan arah baratlaut – tenggara. Daerah yang termasuk kedalam daerah bahaya primer ini tidak selayaknya untuk dikembangkan apabila kegiatan gunungapi Merbabu menunjukkan peningkatan kegiatan yang nyata, baik erupsi normal atapun erupsi samping.
2. Daerah Bahaya Lontaran, dapat dibagi menjadi 2(dua) bagian masing-masing berbentuk lingkaran yang mempunyai radius antara 5 dan 6 Km dari titik erupsi (puncak), daerah ini kemungkinan besar dilanda oleh bahan-bahan jatuhan piroklastika (efflata maupun tefra), daerah ini dapat juga disebut sebagai daerah Waspada terhadap lontaran. Bahaya yang mungkin melanda daerah waspada terhadap lontaran ini tidak bergantung pada topografi, sehingga apabila terjadi kegiatan gunungapi yang berupa letusan yang menghasilkan jatuhan piroklastika, tindakan yang tepat adalah mencari perlindungan yang kuat atau meninggalkan tempat pemukimannya.
3. Daerah Bahaya Sekunder, daerah bahaya ini kemungkinan dilanda oleh lahar hujan. Daerah ini meliputi morfologi rendah yang memungkinkan untuk dilanda oleh aliran lahar sekunder, sehingga daerah bahayanyapun terdapat disekitar daerah aliran sungai yang berhulu dari daerah puncak gunungapi Merbabu.

Baca Juga Jalur Pendakian Gunung Merbabu

Untuk bertukar Informasi seputar artikel ini bisa lewat email ke Catur_4884@merbabu.com

Salam...
READ MORE ...