Selasa, 21 April 2009

Rafting is Fun

Siapa bilang arung jeram itu menakutkan ?

Bagi para petualang arung jeram adalah olah raga yang penuh tantangan dan mengasyikkan. Dari olahraga dan wisata ini petualang akan mendapatkan cara menghadapi kesulitan, tantangan, melawan ego dan menikmati keindahan alam. Arung jeram yang sempat di cap sebagai olahraga “pembawa maut” ternyata tidak seseram yang diduga banyak orang, memang ada beberapa korban saat menjalani olahraga ini, tetapi apabila perlengkapan memenuhi persyaratan dan petualang memiliki pengetahuan tentang arung jeram maka kecelakaan bisa di minimalisir.

Pada tahun 70-an banyak korban yang meninggal saat arung jeram diantaranya pada saat Citarum Rally yang merenggut 7 korban jiwa. Pada tahun tersebut masih minim perlengkapan dan pengetahuan tentang olahraga arung jeram oleh karena itu beberapa perlombaan permintaan ijinnya dipersulit bahkan ada yang ditolak, sehingga olahraga arung jeram menjadi terpuruk dan tidak populer di Indonesia pada tahun itu.

Dari segi resikonya olahraga arung jeram memang olahraga yang tergolong beresiko tinggi ( high risk ). Namun sebenarnya olahraga ini sama dengan olahraga menantang lainnya seperti terjun payung dan panjat tebing. Jadi kesalahan bukan pada olahraganya tetapi pada manusianya.

Dunia arung jeram di Indonesia sebenarnya terlambat 10 tahun dibandingkan dengan negara Amerika serikat. Di negara Paman Sam ini arung jeram termasuk olahraga populer dan bahkan laris dibisniskan. Di Colorado, bisnis dibidang ini termasuk penyumbang terbesar pendapatan negara itu. Sementara dinegara lain olahraga arung jeram sudah begitu maju, di Indonesia malah memakan korban. Maka untuk menyatukan persepsi tentang seluk beluk olahraga arung jeram termasuk pendidikannnya maka pada tanggal 29 Maret 1996 dibentuklah Federasi Arung Jeram Indonesia ( FAJI ) oleh pecinta dan pelaku Arung Jeram

Beberapa tahun sebelum itu sekitar tahun 1992 bisnis arung jeram mulai menjamur, sedangkan cikal bakal bisnis arung jeram sudah dimulai oleh SOBEK Internasional pada tahun 80-an yang menggarap sungai alas di Aceh. So sebenarnya arung jeram selain olahraga petualangan juga dapat dibisniskan.

READ MORE ...

Manajemen Pemanjatan

Dalam pemanjatan tebing, seorang pemanjatat harus mengenal dan menguasai berbagai macam peralatan serta cara pemasangannya dengan baik dan benar, disamping itu pula pemanjatan harus dapat menguasai teknik – teknik yang digunakan dalam pemanjatan. Namun sebelum itu mengetahui medan dengan perencanaan adalah hal yang sangat penting.
Dalam pemanjatan tebing kita memerlukan etika, urutan, cara dan prosedur yang tepat agar menjamin lancarnya kegiatan panjat tebing tersebut. Berikut adalah langkah – langkah yang dilakukan dalam pemanjatan agar mencapai hasil sesuai dengan yang diharapkan.
  1. Pemilihan jalur, jalur yang dipilih kita cari datanya berdasarkan data yang telah ada melalui literatur, informasi dari pemanjat lain dan dari pengamatan langsung melalui orientasi medan / jalur, cara ini sangat efektif karena dapat mengetahui kondisi tebing yang sebenarnya.
  2. Mempersiapkan peralatan, peralatan harus di cek sebelum dan sesudah pemanjatan agar untuk mempermudah dalam pengontrolan alat, peralatan yang dibawa juga harus disesuaikan dengan kondisi medan dan sistem pemanjatan yang digunakan.
  3. Penentuan personil, penentuan personil harus disesuaikan dengan kemampuan, jalur yang dipilih, sistem pemanjatan yang digunakan dan persediaan alat. Dalam penentuan personil, jumlah, kemampuan serta tenaga diatur agar dapat didistribusikan secara tepat agar pemanjatan dapat berjalan dengan lancar.
  4. Mempersiapkan pemanjatan, dalam pemanjatan komunikasi antar para pemanjat sangat penting, sehingga tentukan dahulu jenis komunikasi sebelum melakukan pemanjatan, biasanya dalam bentuk teriakan atau sentakan pada tali dan dapat juga menggunakan peluit.
  5. Memulai pemanjatan, Leader melakukan pemanjatan dari Ground ke pitch pertama dengan membawa dua roll tali sekaligus, satu tali sebagai tali utama yang dikaitkan pada runner pengaman yang telah dipasang oleh leader, tali kedua adalah tali tambat ( fixed rope ) yang berfungsi sebagai tali untuk Jummaringan dan dapat juga digunakan untuk tali transfer.
  6. Cleaning, setelah leader sampai pitch pertama dan memberitahu bellayer / orang kedua yang melakukan pemanjatan dengan membersihkan semua pengaman dengan diamankan oleh leader yang telah beralih tugas menjadi hanging bellayer, sementara personil yang lain melakukan Jummaringan di tali tambat ( fixed rope )
  7. Pemanjatan pitch kedua dan selanjutnya, setelah cleaner sampai di pitch pertama langsung dilakukan persiapan untuk pemanjatan berikutnya, cleaner beralih tugas menjadi leader merintis jalur sampai pitch kedua dan di bellay oleh pemanjat lainnya, setelah leader sampai di pitch kedua cleaner melakukan tugasnya dst...
  8. Abseiling ( Rappelling ), setelah sampai di pitch terakhir maka yang dilakukan adalah turun tebing, dapat turun lewat jalan turun biasa ( way off ) kalau ada atau pemanjat melakukan instalasi untuk rappeling. Rappeling dapat dilakukan dengan tali tunggal ataupun tali ganda. Personil yang turun pertama membawa tali yang lain untuk dipasang pada pitch berikutnya, untuk pemanjatan terakhir sebaiknya melakukan rappeling dengan sistem double rope ( tali dikalungkan pada anchor ) agar tali dapat ditarik ke bawah dengan mudah.
  9. Re – check, setelah semua pemanjat turun, perlu dilakukan pengecekan semua data – data peralatan yang dipakai dalam pemanjatan.
Setelah selesai pemanjatan selanjutnya membuat topo jalur, yang dimaksudkan sebagai pembuatan laporan yang berisikan hal – hal/data – data dalam pemanjatan, juga sebagai bahan presentasi, skets topo dilengkapi dengan nama jalur, lokasi, jenis batuan, tinggi tebing, sistem pemanjatan, teknik pemanjatan, waktu, tingkat kesulitan, data peralatan yang digunakan, daftar pemanjat dan kronologis pemanjatan.


disadur dari O'croth
dari berbagai Sumber
READ MORE ...

PEGANGAN DAN PIJAKAN PADA PANJAT TEBING

Olah raga panjat tebing sebetulnya sama saja dengan olah raga yang lainnya. Prinsipnya olah raga adalah apa-apa yang dilakukan dengan memanfaatkan kerja motorik tubuh. Memanjat juga merupakan usaha untuk menggerakhan motorik tubuh sehingga memanjatpun disebut sebagai olah raga. Tetapi olah raga panjat tebing mempunyai perbedaan dengan olah raga pada umumnya dari segi pealatan dan media olah raganya. Hal ini dikarenakan olah raga panjat tebing mempunyai tingkat kesulitan medan yang cukup tinggi yang tidak kita jumpai pada bentuk olah raga lainnya yaitu media yang dipakai adalah media vertikal dalam artian pemanjat selalu bermain dengan ketinggian, dan melawan grafitasi. Untuk itu demi lancar dan suksesnya dalam menjalani olah raga panjat tebing maka pemanjat harus memiliki serta mengerti prinsip serta etika pamanjatan. Selain memiliki prinsip serta etika pamanjatan, pemanjat juga harus memiliki keberanian, ketelitian serta kemampuan berpikir dalam bertindak dalam keadaan yang kritis. Pamanjat juga harus mempunyai kekuatan serta ketahanan fisik yang bagus dan yang paling penting adalah penguasaan teknik yang matang, karena jika pemanjat tidak mempunyai itu semua sama saja dengan mangantar nyawa (bunuh diri man.....).

Sama halnya dengan berjalan atau berlari, memanjat menggunakan kaki sebagai penopang tubuh serta tangan sebagai penyeimbang. Namun dikarenakan media pemanjatan selalu identik dengan ketinggian yang otomatis akan ada usaha untuk melawan grafitasi yang membuat tubuh kita semakin berat, maka disarankan untuk menghemat gerak sehinga dapat menghemat tenaga.Kegiatan memanjat mengharuskan kita mengeluarkan tenaga yang besar, maka untuk meningkatkan tenaga kita memerlukan latihan-latihan khusus seperti push up, pull up dan latihan kekuatan lainya. Sedangkan untuk menjaga ketahanan (endurance) bisa dilatih dengan melakukan joging dengan porsi yang cukup.

Tebing sebagai media yang akan dipanjat nantinya penuh dengan cacat batuan yang akan digunakan sebagai pegangan maupun pijakan. Untuk melengkapi pengetahuan kita tentang teknik pemanjatan kita juga harus mengenali teknik pegangan serta pijakan yang baik. Beberapa teknik pegangan antara lain:

a. A HAND JAM, yaitu dengan memasukan tangan kedalam celah (besar celah seukuran tangan) dan menggunakan bagian dalam serta luar tangan sebagai friksi pegangan.

b. A FIST JAM, sama seperti a hand jam hanya saja friksi pegangannya menggunakan sisi tangan.

c. A PICH GRIP, caranya dengan mencengkram tonjolan dengan ibu jari sebagai penguncinya.

d. A FINGER LOCK, yaitu sebuah teknik pegangan yang dilakukan dengan memasukan jari-jari tangan pada celah batuan, pegangan seperti ini ada dua macam yaitu dengan hanya empat jari tanpa ibu jari dan semua jari dimasukkan ke celah.

e. TWO FINGER LOCK, teknik pegangan seperti ini biasanya digunakan pada celah tebing yang sempit yang hanya bisa dimasuki oleh dua jari, caranya dengan memasukkan jari telunjuk dan jari tengah dengan cara di tumpuk. (untuk lebih jelasnya lihat gambar)

Sedangkan beberapa teknik pijakan adalah:

a. FRIKSI, adalah gerakan kaki pada bidang yang miskin pijakan yang berguna untuk menambah ketinggian serta membantu keseimbangan tubuh.

b. EDGING, adalah pemanfaatan ujung sepatu untuk mendapatkan pijakan serta menambahkan jangkauan.

c. SMEARING, yaitu penggunaan sisi sepatu luar untuk menambah jangkauan serta membantu keseimbangan.

d. HOOKING, adalah pemanfaatan tumit sepatu untuk mengangkat tubuh, biasanya teknik ini digunakan untuk keluar dari roof. (untuk lebih jelasnya lihat gambar)

Selain teknik pegangan serta pijakan yang dicontohkan diatas masih banyak lagi teknik-teknik yang lain, so kamu harus banyak belajar serta berlatih.





-dari berbagai sumber-blontang-MW-

READ MORE ...

Navigasi Darat

Navigasi darat adalah ilmu yang dapat dikatakan ilmu praktis. Karena kemampuan bernavigasi seseorang dapat terasah jika sering berlatih. Peta adalah gambaran konvensional dari permukaan bumi yang diperkecil seperti kenampakan yang sebenarnya dengan skala tertentu, dan digambar diatas bidang datar melalui system proyeksi, serta ditambah tulisan – tulisan sebagai pengenal. Sebuah peta dapat menyajikan informasi yang diungkapkan melalui bentuk simbol dan tulisan.
Peta sendiri ada bermacam – macam yang beberapa diantaranya antara lain : Peta Geografi, peta ini adalah peta yang menyajikan proyeksi dari deluruh permukaan fisik bumi seperti yang kita lihat pada atlas dan globe. Peta Strategi adalah peta yang memberikan hal – hal yang biasanya diperlukan dalam operasi – operasi militer. Peta Tematik adalah peta yang memberikan gambaran atau informasi yang mempumyai tema tertentu seperti pada peta tanah atau peta geologi, dan yang terakhir adalah peta Topografi yang menyajikan penyebaran, bentuk, dan ukuran bumi seperti relief, beda tinggi rendah suatu daerah, bentuk bukit dan lembah. Peta topografi inilah yang kita sering gunakan dalam berkegiatan di alam bebas.
Pertama kali menghadapi peta hal yang perlu kita perhatikan adalah garis vertikal dan horizontal karena garis ini membantu menentukan letak sebuah titik di peta ( titik koordinat ). Sementara itu beberapa unsur yang bisa dilihat di dalam peta adalah judul peta yang biasanya terdapat di atas dan menunjukkan letak peta. Nomor peta bisa dijadikan sebagai nomor registrasi dari badan atau instansi yang membuat peta atau bisa juga kita gunakan sebagai petunjuk jika kelak kita akan mencari sebuah peta.
Koordinat peta adalah kedudukan suatu titik pada peta yang secara teori koordinat merupakan titik pertemuan antara absis dan ordinat. Koordinat sendiri ditentukan dengan menggunakan system sumbu yaitu perpotongan antara garis – garis yang tegak lurus antara satu sama lain. Sistem koordinat yang resmi dipakai ada dua macam yaitu koordinat geografis ( Geographical coordinate ) dan koordinat Grid ( Grid Coordinate atau UTM ).
Dalam koordinat geografis sumbu yang digunakan adalah garis bujur ( bujur barat dan bujur timur ) yang tegak lurus dengan garis khatulistiwa dan garis lintang ( garis lintang utara dan lintang selatan ) yang sejajar dengan garis khatulistiwa. Koordinat geografis dinyatakan dalam satuan derajat, menit dan detik. Pada instansi seperti Bakosurtanal biasanya menggunakan koordinat geografis sebagai koordinat utama. Pada peta geografis ini satu kotak ( atau sering disebut satu karvak ) lebarnya adalah 3,7 Cm. Jika pada skala 1 : 25.000, satu karvak akan sama dengan 30 detik ( 30“ ), dan pada peta skala 1 : 50.000, satu karvak sama dengan 1 menit ( 60“ ).
Sedangkan dalam koordinat Grid, kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak seiap titik yang kita jadikan sebagai acuan. Untuk wilayah Indonesia titik acuan berada di sebelah barata Jakarta ( 60º LU dan 980º BT yang biasa disebut Batavia datum ). Garis vertical diberi nomor urut dari selatan ke utara, sedangkan horizontal dari barat ke timur atau untuk lebih mudah mngingatnya kita bisa menggunakan KIKA BATA ( kiri kanan, bawah atas ). Sistem koordinat sendiri mengenal penomoran 4 angka, 6 angka dan 8 angka. Pada peta AMS, biasanya menggunakan koordinat Grid. Satu karvak sebanding dengan 2 Cm. Karena itu untuk penentuan koordinat Grid 4 angka, dapat langsung ditentukan. Penentuan koordinat Grid 6 angka, satu karvak dibagi terlebih dahulu menjadi 10 bagian ( per 2 mm ). Sedangkan penentuan koordinat Grid 8 angka satu karvak akan dibagi menjadi sepuluh bagian ( per 1 mm ).
Kompas adalah alat penunjuk arah yang karena sifat magnetnya jarumnya akan selalu menunjuk arah utara selatan namun utara yang ditunjuk bukan utara yang sebenarnya melainkan utara magnetis. Secara fisik kompas terdiri dari Badan kompas yaitu tempat dimana komponen lainnya berada. Jarum, jarum akan selalu menunjuk arah utara selatan dengan catatan kompas tersebut tidak berada dekat dengan magnet lain atau tidak dipengaruhi medan magnet, dan pergerakan jarum tidak terganggu ( kompas dalam posisi horizontal ). Skala penunjuk, merupakan pembagian derajat system mata angin.
Jenis kompas yang biasa digunakan dalam navigasi darat ada dua macam yakni kompas bidik ( misalnya kompas prisma ) dan kompas orienteering ( misalnya kompas silva, sunto dll ). Untuk membidik suatu titik, kompas bidik jika digunakan secara benar akan lebih akurat dari pada kompas silva. Namun, untuk pergerakan dan kemudahan ploting peta, kompas orienteering akan lebih handal dan efisien. Dalam memilih kompas sendiri kita harus brpikir berdasarkan penggunaannya. Namun secara umum, kompas yang baik adalah kompas yang jarumya dapat menunjukkan arah utara secara konsisten dan tidak bergoyang – goyang dalam waktu lama. Bahan dari badan kompas pun perlu diperhatikan karena bahan dari badan kompas harus kuat / tahan banting mengingat kompas merupakan salah satu unsur vital dalam navigasi darat.

-dari berbagai sumber-

READ MORE ...

Sisi Lain Dunia MAPALA

MAPALA, dari namanya saja kita sudah bisa langsung mendapat gambaran orang–orang seperti apa yang ada didalam organisasi seperti itu. Orang-orang urakan, dekil, jarang mandi dan masih banyak lagi hal-hal jelek yang terlintas dipikiran kita. Sebenarnya makna apa yang dapat dilihat dibalik semua kejelekkan mereka? Apakah berantakan itu sudah bisa kita jadikan alasan untuk memvonis mereka bahwa mereka juga memiliki hati dan kepribadian yang jelek?.

Tak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar anak mapala memang memiliki dandanan yang super slengean, rambut gondrong, celana sobek - sobek, jarang mandi, banyak aksesoris aneh, bahkan sampe tatto dan tindikan yang kurang etis. Tempat nongkrongpun tak jauh - jauh dari burjo dan angkringan ( senangannya ngutang ), biasanya alergi sama yang namanya mall, plaza ama dugem. Kegiatan - kegiatan yang dilakukanpun selalu extrem dan yang pasti beresiko tinggi, entah itu naik gunung, memanjat tebing, masuk gua, arung jeram atau terbang dengan gantole.

Kebanyakan orang menilai negatif dan pesimis dengan orang - orang ini, mereka menganggap kegiatan yang dilakukan ora mutu, ngga’ ada gunanya dan cuman ngabisin duit, waktu sama tenaga. Mending kuliah yang bener biar IP bagus daripada jadi mapala.

Ibarat kita menilai buah dari luar mungkin kita lebih memilih kedondong daripada durian, kalau ini yang terjadi pasti kita kecewa dengan rasa kedondong yang kecut ditambah bijinya yang berduri, mengapa tidak memilih durian yang buahnya lebih enak ? walaupun kelihatan di luar berduri. Seperti inilah kasus yang terjadi dengan kehidupan mapala yang selalu dinilai dari penampilan saja. Apakah dengan penampilan yang slengean dan kegiatan yang extreem kemudian kita memvonis mereka bobrok simbol dari sampah masyarakat dan kegagalan pendidikan ?, hal ini terlalu naif dan dini untuk diungkapkan.

Kita selalu menilai segala sesuatu dari luar, cewek cantik misalnya selalu dianggap lebih daripada cewek baik, penilaian seperti inilah yang membuat kita kemudian salah memilih, bukankah penilaian yang seperti ini yang sebenarnya kesalahan pendidikan ?

Jika kita melihat lebih dekat kedunia mapala, Kenapa mereka berpakaian slengean dan berambut gondrong ?. Biar kelihatan keren atau gaulkah ?, mungkin kalu masalah pakaian yang sekarang lagi ngetrend bukan pakaian slengean, juga masalah rambut kini yang lagi ngetrend rambut ala bintang film F4 bukan rambut gondrong lagi. Anak mapala perpakaian slengean dan berdandan aneh adalah merupakan suatu cara berekspresi, mengekspresikan kebebasan yang kini mulai samar. Banyak yang telah menyalah artikan kebebasan, yang berbuntut pada pengerusakan alam, penebangan hutan dimana - mana, penambangan liar areal hutan lindung, eksploitasi satwa - satwa dilindungi, pencemaran dsb.

Kenapa juga anak mapala mau berkegiatan yang ngga’ bermutu cuman ngabisin duit, waktu sama tenaga ?. Permasalahannya disini adalah yang ngga’ bermutu, ngabisin duit, waktu dan tenaga itu dilihat dari sisi mana ?, kalau dari sisi ekonomi mungkin iya, tapi disinilah intinya mereka berkegiatan tidak melihat dari sisi ekonomisnya kegiatan. Tapi dari sisi yang lain misalnya untuk kesehatan atau dari sisi sosial. Misalnya naik gunung Rinjani, dengan mendaki badan bisa sehat dan bisa mempelajari sosial masyarakat daerah Gunung Rinjani, atau susur gua di Wonosari, selain susur gua mereka juga memetakan gua dan mencari sumber air bawah permukaan yang mungkin bisa diambil untuk dipergunakan penduduk daerah wonosari yang selalu kekurangan air.

Dari kegiatan - kegiatan yang mereka lakukan banyak hal yang dapat diperoleh, sangat berbeda dengan orang yang kuliah cuman kuliah dan kost. Kita kuliah lalu balik kekost, hari esoknya begitu, lusa begitu dan seterusnya, apa yang akan kita dapatkan ?, tentu saja yang didapatkan hanya apa yang ada di kuliah dan yang di kost, tapi kalau kuliah, masuk gua, naik gunung, panjat tebing, arung jeram, kost, yang akan didapatkan apa yang ada di kuliah, di gua, di gunung, di tebing, dan di sungai. Bukankah yang mereka lakukan hal yang baik ?. Masa depan selalu sulit ditebak dan terkadang berbeda dengan apa yang kita impikan sama dengan alam yang selalu sulit diprediksi.

Rewrite From KAONAK (Garenc)

READ MORE ...

Senin, 20 April 2009

Mount Sindoro (3.153 metres), Central Java

Gunung Sindoro, Jawa Tengah memiliki tinggi 3.153 m dpl, merupakan kembaran gunung Sumbing. Secara administrativ Gn. Sindoro terletak di antara Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Wonosobo, yang secara geografis terletak antara 8.8 LS dan 111.05 BT. Dari bentuknya, Gn. Sindoro termasuk dalam jenis stratovolcano. Pendakian di Gunung Sindoro dapat dilakukan melalui beberapa jalur, yaitu jalur Kledung dan Sikatok. Pada pendakian ini, aku bersama rekan-rekan ku (octa, dhany dan dancil) merencanakan pendakian melalui jalur Kledung, jalur yang biasa digunakan oleh para pendaki.

Rencana awal pendakian kami adalah tanggal 18-20 Juli, namun karena stock air yang menipis makan kami putuskan turun pada tanggal 19 Juli. Pendakaian diawali berangkat dari terminal Giwangan Jogja sekitar pukul 11.30 WIB menggunakan bus jurusan magelang-semarang (tarif @Rp.8000). Tiba di terminal Tidar Magelang sekitar pukul 13.00, kami turun dan ganti bus jurusan wonosobo menuju desa Kledung (tarif @Rp 10.000). Tiba didesa Kledung pukul 14.45, kami langsung menuju ke BaseCamp GRASINDO yang berjarak sekitar 100m dari jalan raya. Kami melakukan registrasi untuk pendakian dan membayar retribusi (@Rp.2000), kemudian mengisi air (2 jerigen 5L, 4 Botol 1,5) dan makan di basecamp (porsi nasi telur+teh hangat @Rp.4000).

Pendakian kami mulai pukul 16.10 dari Basecamp, melewati kebun tembakau penduduk. Dalam perjalanan menuju Pos I kami melewati Watu Gede, yaitu batu besar yang berada di kebun Tembakau penduduk yang di percaya sebagai pintu gerbang Gunung Sindoro. Udara dingin menyelimuti sepanjang perjalanan kami. Tiba di Pos I sekitar pukul 17.53, kami istirahat sejenak sambil menunggu waktu Maghrib usai. Sekitar pukul 18.10 kami melanjutkan perjalanan menuju Pos II. Hari mulai gelap ketika kami melanjutkan perjalanan. Dalam perjalan kami melewati simpang buntu, jika mengambil jalan lurus merupakan jalan buntu, kami mengambil jalan kekanan, kemudian menuruni lembah melewati sungai kering dan mendaki sedikit kami tiba di Pos II sekitar pukul 19.15. Kami istirahat sejenak sambil memasak air membuat minuman hangat. Perjalanan menuju Pos III kami lanjutkan sekitar pukul 19.35. Beruntung bagi kami karena sepanjang perjalanan kami disinari cahaya dari bulan purnama penuh pada malam itu, sehingga nampak samar gunung Sumbing di seberang sana, pemandangan yang menakjubkan.

Pukul 20.30 kami memutuskan untuk istirahat dan mendirikan tenda diantara Pos II dan Pos III (pos bayangan, kemudian masak untuk makan malam dan membuat minuman hangat. Suasana sepi, hening, disinari cahaya rembulan menambah indah suasana malam itu. Bintang-bintang bercahaya berkedipan menemani sang rembulan. Lampu warna-warni Temanggung menemani indahnya malam. Sambil bercerita dan mengebulkan asap rokok yang menambah akrab suasana. Kami tidur sekitar pukul 23.30, kemudian terbangun pada pukul 04.10 (waktu di HP ku ). Dari jauh sayup-sayup terdengan suara Adzan Subuh dari masjid di desa. Sambil masak air, aku mempersiapkan peralatan Photography menanti sunrise tiba. Namun sayang perlangkapan yang aku bawa tidak lengkap, aku tidak membawa Tripod (memang belum punya), namun aku gak kehabisan akal. Kupakai ceril (ransel) sebagai penyangga camera. Kini Canon EOS 350D dengan Lensa Kit (EF-S 18-55mm 1:3.5-5.6 II) siap untuk merekam sunrise. Pagi itu aku cukup puas mendapatkan beberapa foto sunrise yang muncul di balik Gunung Ungaran. Nampak di kejauhan juga terliahat gunung Merapi dan Merbabu, serta gunung Sumbing yang menjulang tinnggi. Selamat Pagi Indonesia……..

Pukul 06.00 kami masak untuk sarapan setelah itu dilanjutkan dengan membonkar tenda dan packing ulang untuk melanjutkanperjalaan menuju Puncak. Pukul 07.10 kami mulai melanjutkan perjalanan menuju puncak. Pukul 07.55 kami tiba di Camping Ground Pos III. Perjalanan kami lanjutkan melalui hutan pinus dengan medan berpasir yang mengahruskan kami untuk ekstra hati-hati dalam perjalanan. Keluar dari hutan pinus medan yang kami hadapai semakin terjal menuju punggungan yang kami kira sebelumnya adalah puncak. Pukul 09.55 kami tiba di watu tatah selanjutnya melalui padang sabana. Karen beban yang dibawa cukup berat, kami memutuskan meninggalkan barang-barang kami di sabana dan membawa logistic dalam satu ceril untuk bekal ke puncak. Perjalanan pun kami lanjutkan menuju puncak melalui padang Edelweis, dan tepat pukul 12.15 kami tiba di puncak. Lelah dalam perjanan mendaki serasa hilang begitu mencapai puncak. Sambil bersujud kepada yang Maha Kuasa, kami berdoa bersama dalam hati. di Puncak Sindoro Kamera D-SLR ku kembali beraksi merekam moment-moment bersejarah (untuk anak cucu-ku kelak). Pemandangan dari puncak sungguh menakjubkan. Gunung Sumbing berselimutkan awan putih terlihat puncaknya saja kala itu. Kawah mati Sindoro juga tak luput dari rekaman kamera ku. Pukul 12.30 kami masak untuk makan siang dan selanjutnya bersiap-siap untuk turun. Tepat pukul 14.00 kami turun melalui jalur yag kami lewati waktu mendaki.

Dalam perjalanan turun, tak lupa kami singgah untuk mengambil barani-barang yang kami tinggalkan tadi. Dalam perjalanan turun kami bertemu dengan bebrapa rombongan pendaki lain yang akan menuju puncak, yaitu rombongan dari Vetpagama UGM dan Penggiat Alam Bebas dari Bekasi. Pukul 16.00 kami tiba di pos III untuk istirahat sejenak. Selanjutnya menuju Pos II dan Pos I. tiba di kebun Tembakau sekitar pukul 18.10, kabut tebal menyelimuti daerah disitu, jarak pandang maksimal hanya sekitar 3 meter walaupun sudah menggunakjan senter. Kurang lebih 1 jam langkah gontai kami melewati kebun the akhirnya kami tiba di basecamp Grasindo pukul 19.20. rasa lelah dan lapar hilang setelah kami makan malam di basecamp. Selanjutnya kami pamit dan melanjutkan perjalanan pulang menuju Jogja.





“Take Nothing but Picture, Kill Nothing But Time, Leave Noting But Foot Print”



(dari catatan pendakian Yohanes Kurnia Irawan)

the team : yoyon, octa, dani, dancil

18-19 Juli 2008



READ MORE ...

KETERAMPILAN DAN PENGETAHUAN YANG HARUS DIMILIKI DALAM JUNGGLE SURVIVAL

Membuat Bivouack (Shelter)
Membuat bivouck atau shelter perlindungan dalam keadaaan darurat sebenarnya bertujuan untuk untuk melindungi diri dari angin, panas, hujan, dingin dan gangguan binatang.
Macam –macam bivouack :
  1. Shelter asli alam ; Gua (yang bukan tempat persembunyian binatang, tidak ada gas beracun dan tidak mudah longsor). Ingat ! didalam gua jangan berteriak karena dapat meruntuhkan dinding gua.
  2. Shelter buatan dari alam ; daun-daunan yang lebar, ranting kayu, atau separuhnya alam dan separuhnya butan (misalnya ponco di kombinasi dengan ceruk batu atau pohon tumbang atau ranting kayu)
Syarat bivouack :
  • Hindari daerah aliran air [bila terpaksa, maka gunakan bivouck panggung]
  • Di atas bivouck / shelter tidak ada dahan pohon mati/rapuh
  • Bukan sarang nyamuk/serangga
  • Bahan kuat
  • Jangan terlalu merusak alam sekitar
  • Terlindung langsung dari angin
Mengatasi Gangguan Binatang
Nyamuk ; Obat nyamuk, autan, dll , Bunga kluwih dibakar, Gombal / kain butut [dalam keadaan memaksa, penulis pernah memotong lengan baju kaos sebagai pengganti gombal] dan minyak tanah dibakar kemudian dimatikan sehingga asapnya bisa mengusir nyamuk , Gosokkan sedikit garam pada bekas gigitan nyamuk
Laron ; Mengusir laron yang terlalu banyak dengan cabe yang digantungkan
Disengat Lebah ; Oleskan air bawang merah pada luka bekas sengatan berkali-kali, Tempelkan tanah basah/liat di atas luka sengatan, Jangan dipijit-pijit, Tempelkan pecahan genting panas di atas luka, Olesi dengan petsin untuk mencegah pembengkakan
Gigitan Lintah ; Teteskan air tembakau pada lintahnya, Taburkan garam di atas lintahnya, Teteskan sari jeruk mentah pada lintahnya, Taburkan abu rokok di atas lintahnya, Membuang [mengais] lintah upayakan dengan patahan kayu hidup yang ada kambiumnya.
Semut Gatal ; Gosokkan obat gosok pada luka gigitan, Letakkan cabe merah pada jalan semut, Letakkan sobekan daun sirih pada jalan semut
Kalajengking dan lipan; Pijatlah daerah sekitar luka sampai racun keluar, Ikatlah tubuh di sebelah pangkal yang digigit, Tempelkan asam yang dilumatkan di atas luka, Taburkan serbuk lada dan minyak goreng pada luka, Taburkan garam di sekeliling bivouck untuk pencegahan
Ular dll ; Untuk mencegah dan mengobati secara darurat gigitan dan sengatan binatang berbisa mematikan harus mempelajari Emergency Medical Care [EMC]

Membaca Jejak
Ada beberapa jenis jejak yang dapat diidentifikasi, yaitu jejak buatan, maksudnya adalah jejak yang dibuat oleh manusia dan jejak alami yaitu tanda jejak sebagai tanda keadaan lingkungan.
Jejak alami biasanya menyatakan tentang jenis binatang yang lewat dan ada disekitar, arah gerak binatang, besar kecilnya binatang, cepat lambatnya gerak binatang. Untuk membaca jejak alami [binatang] dapat diketahui dari telapak yang ditinggalkan, kotoran yang tersisa, pohon atau ranting yang patah, lumpur atau tanah yang tercecer di atas rumput.

Air
Seseorang dalam keadaan normal dan sehat dapat bertahan sekitar 20 – 30 hari tanpa makan, tapi orang tersebut hanya dapat bertahan hidup 3 - 5 hari saja tanpa air.Ada air yang tidak perlu dimurnikan, seperti air hujan langsung. Untuk memperoleh air hujan langsung dalam keadaaan sirvive di alam bebas, maka dapat dengan cara memampung dengan ponco atau daun yang lebar dan alirkan ke tempat penampungan (nesting atau vedples)
Air dari tanaman rambat/rotan atau bambu. Cara memperolehnya, yaitu potong setinggi mungkin lalu potong pada bagian dekat tanah, air yang menetes dapat langsung ditampung atau diteteskan ke dalam mulut. Selain rotan, bambu dan tumbuhan rambat, air juga dapat diperoleh pada bunga (kantung semar) dan lumut. Air yang harus dimurnikan terlebih dahulu antara lain adalah air sungai besar, air sungai tergenang, air yang didapatkan dengan menggali pasir di pantai (+ 5 meter dari batas pasang surut). Untuk mendaptkan air di daerah sungai yang kering, caranya dengan menggali lubang di bawah batuan.
Berikutnya air juga dapat diperoleh dari batang pisang, caranya tebang batang pohon pisang, sehingga yang tersisa tinggal bawahnya [bongkahnya] lalu buat lubang ditengahnya maka air akan keluar, biasanya dapat keluar sampai 3 kali pengambilan.

Makanan
Dalam kondisi hidup dialam bebas ada berbagai makanan yang dapat di konsumsi, tetapi harus memperhatikan beberapa syarat dan patokan berikut :
  • Makanan yang di makan kera juga bisa di makan manusia
  • Hati-hatilah pada tanaman dan buah yang berwarna mencolok
  • Hindari makanan yang mengeluarakan getah putih, seperti sabun kecuali sawo dan pepaya.
  • Tanaman yang akan dimakan di coba dulu dioleskan pada tangan, lengan, bibir dan atau lidah, tunggu sesaat. Apabila terasa aman bisa dimakan.
  • Hindari makanan yang terlalu pahit atau asam
Catatan:
Hubungan air dan makanan; Untuk makanan yang mengandung karbohidrat memerlukan air yang sedikit, Makanan ringan yang dikemas (ex: mie instan) akan mempercepat kehausan, Makanan yang mengandung protein butuh air yang banyak.

Tumbuhan yang dapat dimakan dapat diketahui dari ciri-ciri fisik, misalnya : Permukaan daun atau batang yang tidak berbulu atau berduri, tidak mengeluarkan getah yang sangat lekat, tidak menimbulkan rasa gatal, hal ini dapat dicoba dengan mengoleskan daunnya pada kulit atau bibir dan tidak menimbulkan rasa pahit yang sangat (dapat dicoba di ujung lidah)

Bagian-bagian tumbuhan yang dapat dimakan berupa batangnya :
  • Batang pohon pisang (putihnya)
  • Bambu yang masih muda (rebung)
  • Pakis dalamnya berwarna putih
  • Sagu dalamnya berwarna putih
  • Tebu
Bagian-bagian tumbuhan yang dapat dimakan berupa daunnya :
  • Selada air
  • Rasamala (yang masih muda)
  • Daun mlinjo
  • Singkong
Bagian-bagian tumbuhan yang dapat dimakan berupa akar dan umbinya :
  • Ubi jalar
  • talas
  • singkong
Bagian-bagian tumbuhan yang dapat dimakan berupa Buahnya :
  • Arbei,
  • asam jawa,
  • juwet
Tumbuhan yang dapat dimakan seluruhnya :
  • Jamur merang,
  • jamur kayu.
Tetapi ada beberapa jenis jamur mempunyai beracun yang ciri-cirinya adalah :
  • Mempunyai warna mencolok
  • Baunya tidak sedap
  • Bila dimasukkan ke dalam nasi, nasinya menjadi kuning
  • Sendok menjadi hitam bila dimasukkan ke dalam masakan
  • Bila diraba mudah hancur
  • Punya cawan/bentuk mangkok pada bagian pokok batangnya
  • Tumbuh dari kotoran hewan
  • Mengeluarkan getah putih
Selain tumbuhan, berbagai hewan yang ditemukan di alam dapat dimakan juga, misalnya Belalang, Jangkrik, Tempayak putih (gendon), Cacing, burung, Laron, Lebah, larva, Siput/bekicot, Kadal [bagia belakang dan ekor], Katak hijau, Ular [1/3 bagian tubuh tengahnya], Binatang besar lainnya.

Ada beberapa ciri binatang yang tidak dapat dimakan, yaitu :
  • Binatang yang mengandung bisa : lipan dan kalajengking
  • Binatang yang mengandung racun : penyu laut
  • Binatang yang mengandung bau yang khas : sigung / senggung
Api
Bila mempunyai bahan untuk membuat api, yang perlu diperhatikan adalah jangan membuat api terlalu besar tetapi buatlah api yang kecil beberapa buah, hal ini lebih baik dan panas yang dihasilkan merata.
Cara membuat api dalam keadaan darurat :
  • Dengan lensa / Kaca pembesar (luv) ; Fokuskan sinar pada satu titik dimana diletakkan bahan yang mudah terbakar.
  • Gesekan kayu dengan kayu ; Cara ini adalah cara yang paling susah, caranya dengan menggesek-gesekkan dua buah batang kayu sehingga panas dan kemudian dekatkan bahan penyala, sehingga terbakar
  • Busur dan gurdi ; Buatlah busur yang kuat dengan mempergunakan tali sepatu atau parasut, gurdikan kayu keras pada kayu lain sehingga terlihat asap dan sediakan bahan penyala agar mudah tebakar. Bahan penyala yang baik adalah kawul / sabut terdapat pada dasar kelapa, atau daun aren
dari berbagai sumber
READ MORE ...