Kamis, 15 September 2011

AiR.... kami CinTa AiR..


Bumi... bumi yang sudah tua renta... sangat tua dan kelelahan,
Masihkah sanggup berputar pada porosnya???
Sebentar lagi kiamat, hanya tidak tahu kapan...
Masihkah kita akan bersyukur, terus bersyukur???
"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan??"
(QS: Ar Rahman 13)

Panas, kemarau panjang dimana-mana,,,
Air terus berkurang,,,
Tapi masih saja ada yang tidak peduli,
Masih saja ada yang memikirkan diri sendiri,
Menebang peresap air,
Hhhhfffftt... nebang salah gak ditebang salah...
Kumaha atuhhh...??
Nebang bikin banjir, gak ditebang, si Bos gak bakal nyengir,,, ya duit gak ngalirrrr, anyirrr...

Banyak kabar yang datang, sawah di lamongan puso, gak panen, kekeringan, sawah di Cianjur juga rugi beberapa milyar karena gagal panen, hutan gambut di Palembang kebakaran mulu saking panasnya, kabut asap bikin sesak, jakarta kekurangan air, waduk jatiluhur menyusut sampai 15 cm/hari. Warga juga ada yang ngambil air dari sumber air yang ternyata udah tercemar, nunggu tangki air datang memberi bantuan, bahkan ada yang menggunakan air comberann.. astagfirullahhh.. :-( Terasa sangaaat kering saudara-saudara seiman sebangsa seperjuangan dan setanah AIR.

Air adalah hal yang sangat diperlukan makhluk hidup, sebagian besar dunia pun dikuasai oleh perairan. Manusia perlu makan dan minum, makan berasal dari tanaman yang melakukan fotosintesis sehingga dapat menghasilkan glukosa dan zat lainnya, dan minum tentunya minum air (anak TK aja tau..)

Kembali lagi ke permasalahan awal tentang krisis air. Hal ini juga ulah manusia yangmerusak alam dulunya. Seperti dikutip dari Qur'an Surat Ar-Rum ayat 41 yang berbunyi "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan-tangan manusia..." Sekali lagi kita harus berbenah, karena kebenaran Al Qur'an itu nyata. Siapa lagi kalo bukan manusia yang suka menebang pohon, membuat kerusuhan dan tidak mencintai bumi??? Maaf,,, saya tidak menyalahkan kalian semua (termasuk saya karena saya juga manusia yang sering hilaf dan salah...), tapi sebagian yang melakukan telah mencoreng nama kita selaku manusia sebagai khalifah di muka bumi ini di hadapan makhluk Ciptaan Allah SWT. Meyedihkan...
Save Our Earth.. Cintai Air ... Air.. karena kita (bukan gw doang, tapi loe-loe juga) Cinta Kehidupan, seperti rumus persamaan berikut ini guys...
Melestarikan air = melestarikan alam dan lingkungan = melestarikan kehidupan = mencintai alam = mencintai Sang Pencipta = beribadah = bersyukur.

Conclusion:
dapet tuh cara ngamalin ayat tentang bersyukur, ternyata dengan melestarikan berarti kita mensyukuri pemberian/titipan-NYA.
Mudah-mudahan bermanfaat guyz... Upami aya cariosan nu pondok nyogok panjang nyugak, mugia kersa dihapunten.. hayu aahh mangga sadayana baraya, wilujeung patepang deui dina sesi anu leuwih hade. \\(^_^ )//
READ MORE ...

Sabtu, 10 September 2011

Kapan Kita Bebas????

Sudah banyak sekali keributan di Negeri kita tercinta ini, mulai dari masalah perut sampai muka jadi kerut, sungguh penuh carut marut. Mesti salahkan siapa memangnya??? hanya berani menunjuk tangan sajakah???? Haahhh??? ayo jawaaabb???? Mesti salahkan orang-orang yang terlibat kerusuhan Trisakti zaman baheula ampe kembang api di Gelora Bung Karno kemaren yang sungguh menggelorakan jiwa para supporter yang labil gila.....???? Atau juga ketika para koruptor berserakan dimuka bumi yang berlenggok bah raja dalam Istana yang sangat rumit, tanpa takut akan hukum Indonesia. Coba lihat ada apa sekarang ??? :

kasus satu
: 2 orang sedang bercakap, sebut saja nadE dan aliG >< coba aja balik hurufnya...
"Tenang saja broo.. penjara kan cuma bentar, pasang TV dan AC juga oke (emang kontrakan apa??), oiya sofa juga ama kasur yang empuk ya,,, ^_^ Tenang ntar gw yang bebasin l (secara wgetoo udah S3 nya S.T alias S telerr), kan yang meriksa kekayaan kita juga minta bagian, jadi lw gak bakal kenapa-napa. Tanggung klo malingnya dikit, yang maling ayam aja ampe digebukin warga sekampung ampe babak belur, nahhh.. kalo maling triliyunan kena penjara doang, itu juga masih bisamah cuma lho di nego. Dan yang lebih aman nih, bisa tu kita kabur ke luar negeri yang gak ada kerjasama interpol indonesia yang nanganin buronan luar negeri... hmmm.. Singapur kayaknya cocok tu.. HWAAA...HAA..HAA.."
dan dengan bangganya mereka tertawa, <sia maraneh gelo sugan???>

kasus dua : Sebut aja EpuL SuReypuL Mar-ipuL
"Tragedi kecelakaan maut yang menewaskan sang istri ditempat seketika itu. Membawa luka yang sangat dalam dan dalam melebihi palung Atlantik. Entah karena kehilafan sang supir, konstuksi jalan yang kurang rambu-rambu, atau katanya seeeech da mahluk ghaib geetoo.. I don't know. Eh, tapi gila aja donk, orang yang abis dapet musibah, alias celaka dituduh pula jadi tersangka, yap.. yap.. nasib.. nasib.. hukum memang harus ditegakkan Bang polisi, tapi takdir kematian orang dan musibah siapa pula sih yang tahu... itu kan semua diluar kendali. Ya.. mumpung tu jalan tol jadi pembicaraan sekarang dan yang rame di TV.. so,, kasus-kasus yang laen jadi kadang sedikit terlupakan, yah mungkin...?? ("hhheehhee..Alhamdulillah yah.. sesuatu.." kata orang yg lagi jadi bahan tuduhan korupsi di istana uangnya, sambil memperagakan gaya Sang Princes)"
Usut punya usut, kita sebagai warga negara Indonesia yang kaya akan budaya namun enggan melesratikan budaya dan senang menebang hutan ini (teringat kasus penebangan pohon samping DAR Fahutan depan Astri beberapa waktu kemarin), kita harus kritis dan berfikir cerdas. Jangan gampang terbawa arus pemberitaan yang notabene tu stasiun TV dikuasai oleh pihak tertentu. Intinya kita perbaiki diri dulu lah.. ayo kita ngaca buat perbaiki diri kita dulu, katanya pengan hidup damai. Tapi perasaan mau damai aja sussssah, lebih susah dari nyari inspirasi kayaknya. Hmmm.. ayo damai dulu dengan diri sendiri, taklukkan hawa nafsu dan jangan sampai dia jadi raja broo. Negara kita butuh kemerdekaan untuk yang kesekian kalinya, karena rakyatnya belum bisa merdeka, makanya.. ayolah kita merdekakan dulu diri kita.
Semangat Kebebasan untuk mencapai diri yang lebih baik.
Freedom spiriit ^_*
\\(^_^)//
READ MORE ...

Jumat, 19 Agustus 2011

Biru dan Biru


Biru dan Biru...
Biru laut yang dalam,
Ataukah biru langit lazuardi yang luas...

Aku suka semuanya,
Ketika ku mencintai gunung saat pendakian, maka diatasku langit sedang menaungi,
begitu pula aku ke pantai,
Ombak yang bernyanyi dengan deburannya,
Membuat aku ingin menari,
Angin pun membelai selendang biru ku,
dan.. suara laut yang dingin, dalam... menenggelamkanku dalam keheningan.

Seperti ketika ku tatap langit yang tinggi di atas sana membuat ku selalu bertanya, setinggi apakah engkau???
Puncak apa yang harus kudaki agar ku bisa lebih dekat denganmu???

Kau begitu, hanya begitu, lebih banyak memberiku hujan,
Ketika ku pendakian pun kau selalu memberi ku hujan,
Diantara keletihan yang sangat, sungguh indah,
Dan selalu kau terangi malam dengan bintang yang membuatku tersenyum..
Menakjubkan, mengagumi keindahan alam ciptaan Allah..
Aku mencintai keindahan dan ketenangan,
dan biru menggambarkan kerinduan,
Biru mempunyai gelombang dengan frekuensi yang berbeda,
memberikan melodi diantara kebisingan.
Dia warna yang penuh makna,
Dalam seperti laut,
Ceria seperti langit dengan pelanginya,
Melankolis karena kadang cerah, berawan dan hujan,
Itulah kenapa aku suka biru,
Bukan karena seseorang, tapi sejak dulu... sejak dulu...


18 Agst 2011
READ MORE ...

Kamis, 18 Agustus 2011

Tentang Sebuah Lagu Pecinta Alam

Pecinta Alam, petualang, pendaki gunung dan penggiat alam bebas lainnya, mungkin sudah pernah mendengar lagu ini. Ada sedikit renungan dalam lagu ini yang mengingatkan kita kembali akan kondisi Alam kita secara umum. Lagu ini sudah cukup lama diperdengarkan dan dalam setiap kali perjalanan petualangan selalu terngiang akan lagu ini.

Sebuah lagu yang merefleksikan akan siapa diri kita yang memproklamirkan diri sebagai seorang "Pecinta Alam". Mungkin saya tidak berpanjang lebar dalam tulisan ini, hanya sekedar untuk mengingatkan kembali dan semoga bermanfaat untuk kelestarian alam.



Pecinta Alam

Pendaki gunung, sahabat alam sejati

Jaketmu penuh lambang, lambang kegagahan

memploklamirkan dirimu pecinta alam

sementara maknanya belum kau miliki



Ketika aku daki dari gunung ke gunung

Disana ku temui kejanggalan makna

Banyak pepohonan merintih kepedihan

Dikuliti pisaumu yang tak pernah diam



Batu batu cadas merintih kesakitan

ditikam belatimu yang bermata ayal

hanya untuk mengumumkan pada khalayak

bahwa disana ada kibar bendera mu



Oh alam, korban keangkuhan

Maafkan mereka yang tak mengerti arti kehidupan



Untuk lagu nya bisa di download di link ini :

Pecinta Alam (mp3)



Semoga kita semakin sadar dan saling mengingatkan, bahwa Pecinta Alam bukan gelar untuk gagah-gagahan dan sekedar simbol saja.



"Jika Pohon Terakhir sudah ditebang,

Sungai Terakhir Sudah Tercemar,

dan Ikan Terakhir sudah ditangkap,

Maka Manusia akan sadar...

UANG TIDAK DAPAT DIMAKAN"



Salam Lestari,

Yohanes Kurnia Irawan

READ MORE ...

Selasa, 09 Agustus 2011

Sembahyang Kubur, Ketika yang Hidup Menghormati Leluhur

Pagi menjelang, namun suasana kuburan yang biasanya sepi ini menjadi ramai seperti tempat wisata. Aroma khas dari dupa (hio) yang dibakar membuat harum suasana disana. Satu keluarga, mulai dari yang tua hingga yang masih balita. Ramai-ramai mereka menuju makam leluhur mereka masing-masing, mengirim bekal untuk mereka yang sudah terlebih dahulu menghadap yang kuasa. Uang emas, uang perak, baju kertas, sepatu kertas, aneka hidangan makanan dan minuman , beberapa batang dupa berpadu tersusun didepan nisan.

Sembahyang kubur di Kota Singkawang dilaksanakan dua kali dalam setahun, yaitu Cheng Beng atau Chiang Miang (dalam bahasa ‘khek’ Singkawang) setiap bulan ke-3 dan Chit Nyiat Pan yang dilaksanakan pada bulan ke-7 dalam penanggalan imlek. Sembahyang kubur merupakan salah satu bentuk penghormatan dari mereka yang masih hidup kepada leluhurnya. Saat yang tepat untuk memohon dan memanjatkan doa agar anak cucu yang hidup di dunia ini diberi kehidupan yang lebih baik dan bahagia. Dari berbagai penjuru para keluarga berdatangan, baik di dalam maupun dari luar negeri, datang menuju kota Singkawang, salah satu kota yang mayoritas penduduknya merupakan etnis Tionghoa.

Salah satu bentuk budaya yang masih diwarisi hingga sekarang, dan akan terus berlangsung,untuk menghormati para leluhur. Budaya yang terus dilestarikan, seiring meningkatnya jumlah polulasi manusia di bumi, sebuah penghormatan yang dilakukan dengan cara tersendiri, sebagai bentuk refleksi bahwa suatu saat nanti mereka yang saat ini masih di bumi juga akan berada ditempat seperti ini, dan keturunan mereka juga akan meneruskan tradisi ini dengan mengirim dan memanjatkan doa nya.



Foto & Text :

Yohanes Kurnia Irawan











READ MORE ...

Minggu, 31 Juli 2011

Wahana Bermain : LUAS tapi BEKAS

Sore yang cerah itu tampak segerombolan anak-anak sedang asyik bermain di sebuah kolam , sambil mandi dan bersenda gurau. Kolam yang airnya berwarna coklat tersebut bertambah keruh ketika anak-anak itu menceburkan diri mereka ke dalam air. Kecerian mereka tercermin dari senyum dan gelak canda tawa mereka yang tak henti terdengar hingga sore menjelang dan mereka pun bergegas pulang.

Salah satu dari segerombolan anak tersebut bernama Arman. Dia adalah seorang anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun dan masih duduk di kelas 4 SD setempat. Arman sedikit bercerita tentang aktivitas mereka di tempat tersebut. Arman dan teman-teman nya tau dan sadar bahwa tempat yang biasa mereka gunakan sebagai wahana bermain tersebut adalah bekas tambang galian emas yang sudah cukup lama ditinggalkan para penambang. Areal bermain mereka ini sangat luas, bahkan ukurannya lebih dari 10 kali ukuran lapangan sepak bola.

Kalimantan merupakan salah satu pulau yang rentan dengan aktivitas alih fungsi lahan, diantaranya adalah akibat aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) dan Kota Singkawang merupakan salah satu wilayah yang menjadi korban aktivitas tersebut. Salah satu dampak yang diakibatkan oleh aktivitas PETI itu adalah berupa kubangan-kubangan raksasa membentuk kolam bahkan danau, dan ditinggalkan begitu saja ketika kandungan lahannya dirasa sudah tidak menghasilkan emas lagi, tanpa ada usaha untuk reklamasi ketika meninggalkan lahan tersebut.

Lokasi yang digunakan Arman dan teman-teman nya untuk bermain ini adalah salah satu dari beberapa lokasi aktivitas PETI yang ada di Kota Singkawang, tepatnya di desa Pajintan, Kecamatan Singkawang Timur. Ada beberapa lokasi lagi di kota Singkawang yang tingkat kerusakannya sudah cukup parah dan belum ada penanganan yang serius dari pemerintah yang terkait untuk menanggulangi masalah ini. Potret masa kecil Arman dan teman-temannya, bermain bersama di wahana yang sangat luas, tapi bekas pertambangan emas tanpa izin.
















Foto dan Teks :
Yohanes Kurnia Irawan
READ MORE ...

Minggu, 12 Juni 2011

Aku, diam dan Kenyataan

Diantara raga yang tengah tersadar,
aku manapaki kenyataan yang membingungkan,
antara ada dan tiada,
antara kepastian dan kejelasan,
kedua hal yang berbeda,
bertolak belakang,
aku bertanya pada malam,
apa yang bisa kulihat dalam kegelapan??
hanya bintang kerlip yang kecil bersenda gurau tak menghiraukan,
aku berlari di hutan, menabrak karang,
antara gunung dan lautan..

aku berbaring dalam diam,
aku tertawa dalam pilu,
aku bersenda gurau dalam kesal,
lekaslah pergi, pergilah dikau,,
dan aku terhenyak dalam sesal
antara kesepian yang merenggut kalbu,
antara kerinduan yang membuat haru,
dan ketidak yakinan yang semakin membiru menjadi batu dalam bisu,
aku kelu, pilu..
READ MORE ...