Jumat, 22 Mei 2009

Manajemen Ekspedisi

Tidak dapat dipungkiri bahwa kegiatan alam bebas apapun bentuknya merupakan kegiatan petualangan yang menantang dan penuh resiko. Para penggiatnya dituntut untuk harus dapat menguasai medan yang akan ditempuh melalui penguasaan skill, mental dan fisik yang mantap serta kerja sama tim yang kuat. Karena kegiatan ini melibatkan orang lain yang tergabung dalam sebuah tim.

Begitu kompleksnya kegiatan ini maka sangat diperlukan pengelolaan yang baik sebelum penggiat menjalankannya. Pengelolaan ini tidak hanya dilakukan saat di lapangan saja yang terfokus pada atlit, tetapi juga jauh sebelum kegiatan di lapangan dimulai. Persiapan dimulai dari pencarian data, penggalian dana sampai pada persiapan atlit sebelum keberangkatan.

Manajemen itu sendiri berarti suatu proses yang sistematis melalui POAC (planning organizing, actuating, control) untuk mencapai suatu tujuan. Dan orang yang melakukan manajemen itu adalah Manajer, dan seorang manajer harus bisa:
1. conceptual skill (kemampuan untuk membuat suatu rancangan)
2. Human Skill ( kemampuan berkomunikasi dengan seksama )
3. technical skill (kemampuan menguasai teknik lapangan)

Dari berbagai pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Manajemen Ekspedisi ialah suatu perjalanan yang dilakukan seorang atau sekelompok orang yang pengelolaannya secara sistematis untuk tujuan petualangan ataupun ilmiah.

Ada beberapa rumusan yang biasa diterapkan sebelum merencanakan suatu perjalanan alam bebas yaitu 4w + 1h yang kepanjangannya adalah where, who, why, when dan how. Berikut ini adalah aplikasi dari rumusan tersebut :
1. Where (dimana), untuk melakukan suatu kegiatan alam kita harus mengetahui dimana tempat yang akan sepakati untuk kita gunakan pada kegiatan ekspedisi, diusahakan tempat atau lokasi yang akan kita tuju menarik banyak anggota untuk ikut serta berperan didalamnya, karena dengan suasana baru akan menambah semangat penggiatnya untuk mengikutinya
2. Who (siapa), artinya disini menanyakan tentang sasaran sumber daya manusia yang berkaitan dengan lokasi, muatan dan tujuan dari ekspedisi itu tadi
3. Why (mengapa), ini adalah pertanyaan yang cukup panjang jawabannya bisa bermacam-macam, ini mengangkat tentang alasan adanya ekspedisi
4. When (kapan) ini menyangkut permasalahan waktu, kepastian tanggal, berapa lamanya kegiatan, karena berkaitan erat engan rencana operasi perjalanannya nanti, diusahakan tidak terlalu banyak makan waktu dan
5. menyesuaikan dengan tujuan, yang jelas target tercapai dengan maksimal
6. Untuk how [bagaimana] merupakan suatu pembahasan yang lebih komprehensif dari jawaban pertanyaan diatas ulasannya adalah sebagai berikut :
a. Bagaimana kondisi lokasi ?
b. Bagaimana cuaca disana ?
c. Bagaimana perizinannya ?
d. Bagaimana mendapatkan air?
e. Bagaimana pengaturan tugas panitia?
f. Bagaimana acara akan berlangsung ?
g. Bagaimana materi yang disampaikan?
h. Dan masih banyak “bagaimana ?” Lagi

Dari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang timbul itulah kita dapat menyusun rencana kegiatan yang didalamnya mencakup rincian :
1. Pemilihan medan, dengan memperhitungkan lokasi basecamp, pembagian waktu dan sebagainya.
2. Pengurusan perizinan
3. Pembagian tugas panitia
4. Persiapan kebutuhan acara
5. Kebutuhan peralatan dan perlengkapan
6. Dan lain sebagainya.
Yang tidak kalah pentingnya adalah didapatkannya point-point bagi kalkulasi biaya yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan tersebut

-dari berbagai sumber-
READ MORE ...

Kamis, 21 Mei 2009

Sepenggal Kisah Mahasiswa di Perantauan

Mahasiswa tidak terlepas dari paradigma umun yang telah terdoktrin dan melekat erat dimasyarakat sebagai kaum intelektual muda. Dan hal itupun tak luput dari perhatian media, baik cetak maupun elektronik dalam mempublikasikan aktivitas mahasiswa. Dan dalam catatan sejarah di Indonesia, beberapa presiden juga lengser karena perjuangan mahasiswa.
Namun, terlepas dari aktivitas tersebut, mahasiswa, khususnya mahasiswa yang merantau, datang jauh-jauh dari tempat asalnya untuk menimba ilmu harus dihadapkan pada suatu persoalan yang terkadang membingungkan, terutama masalah penentuan masa depan kemana akan menggunakan ijazah yang diperoleh. Dari beberapa cerita yang sering saya dengar dan jawaban dari pertanyaan yang saya ajukan, hampir semuanya menjawab ;” wah masih bingung mau kemana, pulang kampung gak ada yang bisa dikerjakan sesuai dengan disiplin ilmu, mau gak mau ya harus tetap merantau untuk bisa survive”, nah dari gambaran jawaban itu saya mulai berfikir, apa yang terjadi di daerah mereka sehingga mereka bingung dan akhirnya enggan untuk pulang kampung..??? sempat juga terbesit dibenak saya, apakah hal ini juga terjadi dengan saya…??? Malahan ada juga mahasiswa yang “sengaja” memperlambat wisuda mereka dengan “pembelaan diri” maklum jurusan teknik…, ada juga yang benar-benar serius dengan kuliahnya.
Dilematika seperti ini seakan-akan sudah bukan menjadi rahasia lagi saat ini. Dengan kenyataan yang ada, bahwa didaerah masing-masing lapangan kerja yang ada sangat minim, dan dengan perhitungan jika selesai kuliah pekerjaan tersebut sudah diisi oleh orang lain. Pesismis kah…??? Menurut saya hal ini wajar-wajar saja jika berfikiran seperti itu, karena saya yakin setiap dari kita juga memikirkannya, dengan pengecualian akses/relasi. Ungkapan maupun plesetan akan dunia kerja sudah tidak asing lagi di telinga kita, seperti profesi ‘pengacara’ (pengangguran banyak acara) atau yang lebih ekstrim lagi ‘pedagang’ (pengangguran dalam gang) atau mungkin ada plesetan yang lain lagi, yang tentunya membuat kita sejenak untuk tersenyum, dan kemudian secara tidak langsung berfikiran; ’lho ijazahnya gak dipakai ya….(bagi yang punya ijazah)
Keinginan untuk tetap merantau semakin kuat dengan datangnya tawaran dari luar, potensi yang ada di daerah lain yang tidak dimiliki oleh daerah sendiri. Apakah misi dari pemberdayaan putra daerah dalam pembangunan dan perkembangan daerah akan tetap terlaksana..,.??? kita pasti akan sangat sulit menjawabnya. Namun, jika dibarengi dengan keyakinan dan niat yang kuat serta tekad yang bulat hal itu tentunya pasti bisa terwujud, seiring waktu yang akan menentukan kedepannya. Ada juga yang berfikiran akan membuat suatu lapangan perkejaan yang tentunya dibarengi modal. Namun ada juga yang jeli dengan peluang yang ada, sehingga keasyikan dan melupakan kuliah.
Menyikapi hal ini, tentunya pemerintah sudah mempunyai solusi demi solusi untuk mengatasinya, namun solusi yang dibeberkan kebanyakan hanya sebatas wacana tanpa realisasi yang nyata. Menyikapi hal ini, apakah mahasiswa sebagai kaum intelek juga tinggal diam..??? tentu tidak….!!! Berpangku tangan dan menunggu bukanlah suatu jiwa yang membangun. Sikap mentalitas dari dalam diri sendiri yang mampu untuk tetap survive menghadapi kondisi kritis sekalipun sangat diperlukan, sehingga tidak terkesan manja atau instant.
Kembali saya berfikir, apakah kelak jika saya telah menyelesaikan kuliah akan kembali ke daerah…??? Pikiran saya ini juga tidak terlepas dari potensi dan peluang yang ada di daerah saya, apakah saya bisa mengaplikasikan ilmu yang saya peroleh untuk kemajuan daerah ataukah saya harus memajukan daerah lain yang tentunya dengan potensi dan peluang yang lebih terjamin, terutama untuk kelangsungan masa depan. Jika sudah dihadapkan dengan situasi seperti ini, rasa bimbang, ragu, dan pesimis secara tidak langsung akan mempengaruhi psikologis yang tentunya kembali lagi kepada masing-masing individu untuk menyikapinya. Idealisme dan prinsip yang dipegang terkadang tak banyak mambantu dalam proses, malahan biasanya menghambat, atau yang lebih ekstrim lagi munafik. Saat ini saya hanya berfikir apa yang akan saya lakukan untuk daerah saya..?? lari dari kenyataan kah, atau berjuang untuk memajukan pembangunan daerah…?? Hanya saya sendiri tentunya yang tau akan jawaban dari pertanyaan kemana saya akan melangkahkan kaki menapaki masa depan. Setiap individu juga pasti memiliki pemikiran yang berbeda untuk dirinya sendiri, karena “kamu adalah apa yang kamu fikirkan…”

Semoga Bermanfaat,
Yohanes Kurnia Irawan
READ MORE ...

Membuat Translate Blog dalam Beberapa Bahasa

Petualang dunia maya yang mengunjungi blog anda tidak hanya berasal dari Negara anda sebagai pemilik blog. Pengunjung bisa berasal dari berbagai Negara. Nah, jika kebetulan ada orang luar negeri (bule) yang kebetulan berpetualang di blog kamu kan, kasian kalo dia gak bisa bahasa kita. Nah untuk itu dalam blog ini saya mau mencoba me-rewrite kode untuk translate bahasa yang akan menterjemahkan isi dari blog kamu.

caranya sangat mudah tinggal copy paste code HTML translate flag :

Ikuti petunjuk pemasangan flag translator ke blog sobat ;
1-log in ke account blogger anda.
2-Klik lay oout---->add new gadget---->Add HTML/JAVA SCRIPT.
3-Copy pastekan kode HTML didalam text area dibawah ini :




maka hasilnya akan seperti gambar ini :



Ganti url http://blog-anda.blogspot.com/ dalam text area dengan url blog milik anda.

4-Contoh bendera translator bisa sobat lihat pada halaman atas blog saya.
5-Selamat mencoba,semoga bermanfaat.

-dari berbagai sumber-
READ MORE ...

Anniversary 33th GAPADRI Mapala STTNas Yogyakarta

Happy Birthday...... buat GAPADRI Mapala STTNas atas pencapaian di usia yang ke-33 tahun. Bukanlah sebuah perjalanan yang singkat dan bukan pula sebuah proses yang singkat berjalannya sebuah roda organisasi. Berdiri sejak tanggal 20 Mei 1976 di puncak Gunung Merbabu dengan nama MAPALA ATNAS, kemudian seiring berubahnya ATNAS menjadi STTNas maka nama mapala menjadi MAPALA STTNAS. Pada saat jabatan ketua umum dipegang oleh Bang Andi ada pergantian nama sebagai identitas yaitu Ganesha Pakci Adri (GAPADRI) Mapala STTNas Yogyakarta.
Gapadri sudah menghasilkan banyak anggota yang mampu bersaing dalam kehidupan nyata. Namun bartambahnya usia organisasi harusnya menjadi bertambah matangnya pemikiran dan karya dari organisasi. Masalah timbul ketika terputusnya jaringan komunikasi antara angkatan muda (pendahulu) dengan angkatan yang sekarang. Hal ini tentu saja menyulitkan dalam penjaringan anggota jika akan mengadakan Temu Akbar skala nasional. Topik yang diangkat dalam acara tasyukuran peringatan HUT 33 yang berlangsung di Ruang TG2 Kampus STTNAS Jl.Babarsari, tanggal 20 Mei 2009 ini menghasilkan beberapa wacana, diantaranya adalah menghimpun kembali anggota-anggota melalui jaringan komunikasi dari para senior. hal ini dimaksudkan agar pada saat Temu Akbar bisa dihadiri minimal 50% dari jumlah anggota. Untuk anggota yang sudah alumni, dalam AD/ART dinyatakan bahwa anggota alumni masih dinyatakan sebagai anggota dengan sebutan "Anggota Purna".
Untuk itu kedepannya diharapkan kepada para Alumnni yang belum mendapat informasi jaringan alumni dapat meng-akses mailinglist (milis) Gapadri di : gapadri_mapala_sttnas@yahoogroup.com, atau melalui portal Gapadri di: http://gapadri.onlinegoo.com. Demikianlah informasi singkat yang dapat saya sampaikan dalam Blog ini, bagi anggota Gapadri yang kebetulan meng-akses Blog ini dapat mengakses alamat yang saya cantumkan.

Semoga bermanfaat'
Jayalah....Jayalah...Ganesha Pakci Adri....

oleh : Yohanes Kurnia Irawan
Angkatan XXI "Bunglon" 2007
GAPADRI MAPALA STTNAS YOGYAKARTA

Salam Lestari...!!!
READ MORE ...

Minggu, 10 Mei 2009

Fall Factor and Shock Load

Dalam situasi vertical, dengan menggunakan tali dinamis, jarak jatuh tidak pernah menjadi factor penentu (dalam arti secara aspek psikologis), tetapi perbandingan (rasio) ketinggian saat jatuh dengan panjang tali yang digunakan pada saat itu (panjang tali yang memisahkan antara pemanjat dengan belayer). Perbandingan (rasio) itu disebut sebagai fall factor. Dengan adanya fall factor tersebut, membuat kita dapat memprediksikan kekuatan benturan yang di sebabkan jatuhnya seorang pemanjat.
Dalam pemanjatan, fall factor tertinggi memiliki nilai 2, karena tidak mungkin seorang pemanjat jatuh melebihi 2 kali panjang tali yang di gunakan. Hal tersebut merupakan asumsi dasar yang harus di pahami dan semua rangkaian elemen yang di gunakan untuk membelay (tali, karabiner, point anchor,...) di buat, di desain dan di jamin berdasarkan nilai fall factor terbesar tersebut.
Ternyata nilai fall factor 2 menghasilkan daya benturan terbesar pada pemanjat yang jatuh, dan daya benturan ini identik dengan yang di terima oleh point anchor. Jika di gunakan running belay maka fall factor akan di reduksi demikian juga dengan daya benturan yang di terima oleh pemanjat. Namun perlu dicatat, bahwa running belay dapat menjadi subyek utama yang dapat menggandakan daya benturan bagi pemanjat.
Hal yang belum dapat di jelaskan adalah seberapa besar energi yang di distribusikan oleh fall factor terhadap pemanjat, belayer dan berbagai komponen yang digunakan saat jatuh.
Shock Load (Beban kejut) di tentukan oleh 3 Faktor yaitu sifat dasar tali, Fall factor, Massa atau beban objek. Massa/beban objek, (dalam hal ini adalah anda) Ternyata, hanya sebagian dari factor-faktor ini yang dapat mereduksi gaya yang timbul saat jatuh, yaitu faktor kelenturan tali. Jadi system keamanan pemanjatan di tentukan oleh kualitas daya serap beban (shock absorbing quality) yang di miliki oleh tali dinamis.
Kemampuan tali dinamis dalam menyerap beban kejut melindungi pemanjat dari efek yang di timbulkan saat jatuh, dan mereduksi adanya kesalahan pada system yang digunakan. Kenyataannya, tali dinamis merupakan satu-satunya tali yang memberikan kelebihan tersebut pada saat di gunakan pada semua system. Tali dinamis di desain bagi pemanjat (80 kg) untuk menerima beban dalam kasus fall terburuk sekalipun (fall factor 2) hingga 12 kN, sehingga "waktu istirahat" untuk penggunaannya dapat di tentukan dengan mengetahui kekuatan maksimumnya.
Lebih panjang tali berarti lebih besar tingkat kelenturannya untuk menyerap beban kejut yang di sebabkan oleh fall. Hal ini menjelaskan kenapa jatuh 4 meter dan 20 meter dengan fall factor 2 menghasilkan beban kejut yang sama, yaitu 19 kN, dengan asumsi tali dinamis yang di gunakan sesuai dengan standart UIAA. Apa yang terjadi merupakan penambahan jarak fall (dan beban kejut yang besar berkurang karenanya) yang di kompensasikan dengan panjang tali yang ada.

(Di terjemahkan secara bebas dari
Fall Faktor Explaineddan Your Life Depends on The Stretch of Rope
READ MORE ...

Tabu-kah Jika Pecinta Alam Berpolitik ???

Pecinta alam sebagai sebuah komunitas yang penuh dengan keunikan dan juga sebuah komunitas yang berisi mahluk-mahluk yang berpikiran progresif memang tidak bisa kita munafikan, hal tersebut bisa kita lihat dari personal hingga sistem kerja organisasinya. Banyak orang awam berpersepsi bahkan memvonis jika pecinta alam hanya sebuah organisasi hura-hura tanpa memiliki tujuan yang jelas apalagi mampu memberikan sumbangsih yang kongkrit untuk bangsa ini yang sedang mengalami krisis multidimensi.
Krisis multidimensi yang melanda tanah air kita memang telah memporak-porandakan semua aspek kehidupan kita, dari masalah ekonomi, sosial budaya hingga pendidikan. Belum lagi kebijakan-kebijakan politik yang ditelurkan oleh rezim yang berkuasa saat ini yang selalu kontroversial dan hanya mementingkan keuntungan segelintir orang. Kalau kita jeli menganalisis kondisi saat ini tidaklah lepas dari kebijakan-kebijakan politik yang dikeluarkan oleh para penguasa bangsa ini, kondisi ekonomi yang sudah hancur menjadi tambah parah, permasalan pendidikan yang selalu butuh sebuah perhatian demi regenerasi bangsa ini malah menjadi korban keserakahan para penguasa bangsa ini.
Keprihatinan ini bisa kita rasakan disekitar kita yang berada dalam sebuah institusi pendididikan dimana kita selalu menjadi korban dari sebuah kebijakan politik yang diturunkan ke institusi pendidikan. Dikekangnya ruang kita untuk berekspresi dan berkreatifitas belum lagi banyaknya peraturan yang diterapkan oleh pihak kampus yang tidak melibatkan kita sebagai obyek yang akan menjalankannya merupakan bukti sebuah pengkondisian dari para elite politik kita melalui kebijakan-kebijakannya yang dijalankan oleh institusi pendidikan dengan harapan agar nantinya para mahasiswa “ora neko-neko” yang bisa mengancam kepentingan para penguasa negeri ini. Hal inilah yang sebenarnya harus kita sikapi karena jika tidak maka akan terciptalah sebuah generasi yang akan menjadi “robot-robot” para penguasa yang akan selalu tertawa melihat tingkah kita, tetapi yang saat ini menjadi pertanyaan besar adalah sadarkah kita selaku sekelompok orang yang tergabung dalam sebuah alat yaitu organisasi pencinta alam tentang hal tersebut diatas ???
Fenomena yang terjadi saat ini di komunitas pecinta alam adalah sikap apatis kita terhadap kondisi politik di negeri ini. Kebanyakan dari kita (baca:pecinta alam) beranggapan urusan pecinta alam tidak ada hubungannya dengan masalah politik bahkan kita akan menjadi bahan lelucon ketika berbicara masalah politik di komunitas ini. Sikap tersebutlah yang akhirnya menyebabkan rasa kepedulian kita terhadap nasib bangsa ini semakin hari semakin menipis dan nyaris terancam habis, permasalahan politik selalu menjadi suatu hal yang tabu didalam komunitas pecinta alam padahal seandainya kita sadar eksistensi organisasi pecinta alam di dalam sebuah institusi pendidikan merupakan sebuah lingkaran kebijakan politik para elite politik kita yang diturunkan kedalam intitusi pendidikan. Hal lain yang bisa kita lihat adalah semakin memprihatinkannya permasalahan lingkungan hingga menyebabkan bencana baru bagi umat manusia dimana hal ini merupakan sebuah hasil dari kebijakan politik yang tidak pro terhadap kepentingan rakyat. Disisi lain masalah lingkungan menjadi bahan yang selalu dikonsumsi oleh organisasi pecinta alam.
Alasan klasik yang sering kita dengar dari kawan-kawan kita politik itu kejam, racun yang sewaktu-waktu bisa membunuh kita, licik, jahat dan masih banyak lagi yang pada intinya hal yang harus kita hindari, alasan-alasan tersebut sebenarnya tidak bisa kita jadikan patokan utama kita untuk tidak mau tahu/peduli terhadap permasalhan politik, memang benar politik itu penuh dengan trik dan intrik tetapi ketika kita masuk ke dalam lingkaran tersebut kita haruslah ambil bagian karena jika tidak kita hanya akan menjadi korban-korban politik yang tinggal menunggu waktu. Hal yang sangat mendasar lagi adalah ketika kita hidup dan mengarungi kehidupan ini tanpa kita sadari kita sedang berpolitik karena hidup ini penuh dengan politik dan kita ada di dalam lingkarannya, jika demikian masih tabukah jika pecinta alam apalagi dengan isi otak orang-orangnya yang progresif dihadapkan atau bersikap terhadap permasalahan-permasalahan politik ??? Kita harus segera menghilangkan persepsi yang salah selama ini dan mitos yang terbangun di tengah masyarakat dengan membangun sebuah wacana yang baru karena kita adalah penentu masa depan bangsa ini.
Salam lestari untuk seluruh penghuni bumi ini !!!
Pecinta alam bersatu tak bisa dikalahkan !!!

-.Mahesa.-
READ MORE ...

PULAU SEMPU


Pulau Sempu berada di sebelah selatan pulau jawa. Secara geografis pulau ini masuk dalam wilayah Malang bagian selatan berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Kepulauan ini dinobatkan sebagai tempat konservasi setelah terjadinya kerusakan hebat di pulau ini yang konon diakibatkan karena tempat ini menjadi lahan atau arena latihan perang para Marinir dan dikhawatirkan akan terjadinya kerusakan yang lebih besar terhadap pulau ini. Pulau sempu mempunyai luas daratan kurang lebih 877 ha yang di dominasi oleh perbukitan karst yang terjal dibagian tepinya. Secara umum kondisi terakhir ekosistem flora dan fauna dari pulau ini masih cukup baik. Untuk dapat menuju pulau sempu dapat ditempuh dari terminal Arjosari kota Malang kita bisa naik kendaraan mini bus ke tujuan pasar Turen dengan harga Rp. 5000,- . Kemudian dilanjutkan dengan naik mikrolet ke tujuan pantai Sendang biru dengan ongkos 15.000,-. Perlu diingat, karena parjalanan menuju pantai Sendang biru cukup jauh dan rawan maka kalian harus start dari Turen paling lambat pukul 16.00 wib. Sendang biru adalah pantai atau desa terakhir sebelum kita menyeberang ke pulau Sempu. Dengan membayar kontibusi Rp. 5000; untuk masuk ke Sendang Biru, kita sudah dapat menikmati keindahan sedang biru, dan dapat melihat apiknya pulau Sempu dari kejauhan. Jika kemalaman sampai di pantai Sendang biru kita bisa menginap di rumah penduduk atau nelayan penyedia jasa penyeberangan setempat. Untuk menuju Pulau Sempu kita dapat mencarter perahu dengan harga sewanya Rp. 75.000,-/perahu atau jika kita beruntung dapet teman untuk menyeberang kita hanya cukup mengeluarkan Rp. 15.000,/orang untuk dapat menyeberang. Tetapi jika ingin menginap/camping dipulau Sempu jangan lupa untuk confirm penjemputan pada penyedia jasa penyeberangan tersebut (jangan sampe nggak looh). Dan tentunya meminta ijin kepada penjaga hutan konservasi setempat (JAGAWANA).
Bagi para penggiat alam bebas, pulau ini cocok untuk pendidikan dan latihan untuk pengembangan keilmuan kepencinta-alaman seperti navigasi darat, survival, pengamatan dan penelitian flora dan fauna dan sebagainya. Di pulau ini juga masih banyak terdapat jenis flora dan fauna yang liar seperti Kijang, Macan nakar, Babi hutan, Berbagai jenis Kera, berbagai jenis burung langka dan menurut cerita dari nelayan pantai Sendang biru dan penjaga hutan
setempat, masih terdapat beberapa harimau di pulau tersebut.
Di dalam pulau Sempu terdapat beberapa danau/telaga yang sering dikunjungi para pengunjung. Diantaranya danau air asin Segara anak dan Telogo lele. Keduanya memiliki karakteristik dan keunikan sendiri-sendiri. Tetapi yang menjadi tempat favorit para petualang adalah Danau air asin Segara anak. Untuk mencapai Danau Segara anak dari dermaga terakhir kita harus berjalan kurang lebih 1-2 jam, tergangtung dari kecepatan jalan kita masing-masing melewati jalan setapak yang agak licin disaat basah. Hutannya masih sangat lebat ditandai dengan gelapnya jalan karena hanya sedikit tertembus matahari, tetapi masih terlihat dengan jelas. Tetapi harus tetap berhati-hati dan waspada terhadap gangguan alam liar. Danau tersebut memiliki eksotisme tersendiri. Mempunyai pantai yang panjangnya hanya sekitar 100 m dengan pasir putih yang menyilaukan mata dan tebing-tebing terjal yang mengelilinginya. Danau tesebut mendapat suplai ain asin dari terowongan/goa (tebing karang yang berlubang) yang ditembus oleh ombak samudra Hindia. Kata sebagian orang sih mirip film The Beach nya Leonardo de Caprio. Kalau beruntung kita dapat melihat para ikan lumba-lumba, hiu hingga paus dari atas bukit dibelakang area camping ground kita. Didalam danaunya pun banyak ikan yang kalo kepepet bisa kita kail dan kita makan, tetapi demi alasan kemanusiaan. Yang penting konservatif bro..jangan serakah.
Tetapi harus selalu diingat bahwa pulau ini adalah Pulau KONSERVASI. Jadi segala tindakan kita tentunya harus disesuaikan dengan aturan yang berlaku. Jangan hanya bisanya buang sampah dan nebang-nebang pohon sembarangan, itu sih udah KUNO dan gak gaul lagi.
“Oya... pulau ini sulit ditemukan air tawar”, maka dari itu sebelum kita masuk ke pulau Sempu baiknya kita membawa air mineral sesuai dengan kebutuhan kita selama berada di pulau tersebut.
Jangan biarkan kedamaian, kelestarian dan keindahan pulau Sempu di renggut oleh pribadi-pribadi yang tidak bertanggung jawab. Tapi jangan cuma pulau Sempu yang kita pedulikan, alam Indonesia masih banyak memerlukan kepedulian kita sebagai pecinta alam, jagan sampai 10 tahun mendatang Indonesia kita jadi gersang. Mari canangkan 1 pohon untuk satu nafas kita sebagai tindak lanjut dari komitmen kita bersama. Mari kita jaga dan rawat bumi Indonesia agar dapat kita nikmati bersama.
READ MORE ...